Durasi Baca: 4-5 Menit

Pada dewasa ini, bisa dikatakan bahwa smartphone mengalami perkembangan luar biasa dalam kurun waktu yang relatif singkat. Hal itu disebabkan oleh persaingan para penyedia platform handphone yang berlomba-lomba melakukan inovasi untuk mengembangkan perangkatnya sekaligus mendongkrak daya beli masyarakat terhadap brandnya. Misal, baru saja bulan ini membeli sebuah smartphone berbasis android jellybean, lalu dua bulan berikutnya android berbasis lollipop sudah dirilis saja. Pernah merasakan?
Sahabat pembaca sekalian merasa juga enggak, sih? Kalau sekarang ini tak jarang akan kita dapati orang-orang entah kapanpun dan dimanapun pasti menggenggam smartphonenya masing-masing. Baik itu untuk urusan pekerjaan atau hanya sekadar ber-medsos ria saja. Mau itu di rumah, kantor, tranportasi umum, pelataran jalan, bahkan sampai toilet sekalipun! Hahaha. Tetapi, bisa jadi juga nih kita sendiri termasuk ke dalam golongan orang-orang yang seperti itu.
Kalau sudah begitu jadinya tentu kita enggak mau dong smartphone kesayangan kita rusak? Enggak mau dong pekerjaan atau urusan medsos kita terhambat? Tenang, kita masih punya pilihan untuk menjaga kecantikan smartphone kita dengan melindunginya. Ya, melindunginya dengan 3 aksesoris yang akan saya ulas pada tulisan kali ini. Apa saja aksesorisnya? Yuk langsung di scroll down sedikit aja! :)

1.    Waterproof Case
Teruntuk kita yang suka berekreasi ke pantai atau ke kolam renang, atau di daerah kalian sedang musim hujan? Nah, ini dia salah satu pelindung smartphone yang tepat untuk dimiliki. Pelindung ini termasuk wajib hukumnya kalau kita ingin basah-basahan tapi tetap eksis di berbagai media sosial. So, kalau smartphone kita sudah menggunakan waterproof case ini, jadi kita bisa menggunakan smartphone tanpa takut rusak terkena air. Enak, bukan?
 
2.    Casing Handphone
Inovasi yang dilakukan oleh berbagai penyedia platform handphone memicu lahirnya bermacam-macam tipe smartphone. Mulai dari spesifikasinya yang semakin mutakhir sampai wujud nyatanya yang tersedia dalam berbagai ukuran. Jadi, ukuran satu smartphone dengan yang lainnya belum pasti sama.
Hal itu dibarengi pula dengan bermacam aksesoris dalam bentuk yang telah disesuaikan dan diperindah oleh warna-warna yang cukup eye catching. Aksesoris itu dikenal dengan case atau casing. Casing ini bisa berfungsi sebagai pelindung layar dari goresan, pelindung body handphone dari benturan, memberikan kenyaman ketika digenggam, sampai hanya sekadar agar terlihat lebih menarik dan trendi. Bahkan sekarang casing juga bisa dijadikan kaca untuk mengaca loh hahaha.
 
3.    Screen Guard
Pelindung yang ketiga ini termasuk salah satu hal yang terkadang banyak orang mengabaikannya. Screen guard atau screen protector ini mampu memberikan perlindungan yang cukup efektif terhadap layar smartphonemu dari benturan baik benda tumpul maupun tajam dan juga dari berbagai goresan.
“Di, masa layar handphoneku pecah pinggir atasnya :(” suatu ketika pesan masuk ke ponsel saya.
“Loh, kok bisa?” balas saya mencoba aware.
“Pas aku lagi tidur semalam, handphonenya aku taruh di sampingku kan ya, mungkin kesenggol atau gimana terus jatuh, pecah deh. Mana belum pakai screen protector lagi. Untung pinggirnya doang.”
“Pecahnya banyak atau sedikit mana ada yang untung hahaha” canda saya.
Nah, sahabat pembaca sekalian tentu enggak mau smartphonenya tertimpa kejadian yang sama dengan apa yang telah saya ceritakan, bukan? Oleh karena itu, screen guard termasuk penting untuk melindungi layar smartphone kita. Setidaknya, kalau pun terbentur atau tergores makan yang harus diganti adalah screen guardnya, bukan layarnya. Pilih ganti layar atau ganti screen guard, hayo?
 
Kalau kalian langsung berpikiran untuk mencari dan menggunakan screen guard, bisa langsung saja klik “Screen Guard HP MatahariMall.” Kenapa harus di MatahariMall? Coba saja lihat sendiri dan ketikkan “Screen Guard HP MatahariMall” pada kolom pencarian kalian, kalau kalian tergiur itu di luar tanggung jawab saya hehehe.

Sebenarnya masih banyak aneka pelindung smartphone kalau kita mau mencarinya. Beberapa foto aksesoris di atas boleh saya ambil langsung dari website Mataharimall. Duh, saya sendiri tergoda sekali rasanya untuk beli aksesoris pelindung di sana. Jadi, yuk cari aksesoris pelindung untuk smartphonemu!


Durasi Baca: 5-5 Menit
“Caranya sederhana, Di. Coba jemput intuisimu di dalam proses pembuatannya.”
*****
Menulis adalah suatu bentuk kata kerja yang kalau ditelaah lebih dalam lagi akan memiliki banyak sekali makna. Ada yang bilang bahwa menulis adalah salah satu bentuk efektif seseorang dalam mengekspresikan perasaannya. Hasil dari tulisan-tulisan itu pun beragam. Salah satu yang akan kita bahas pada tulisan kali ini adalah puisi.
Duh, jadi teringat sala satu rubrik yang ada di blog saya. Mungkin salah satu dari kalian ada yang baca tulisan ini, sahabat penikmat #ProsaSelasa mana suaranyaaa? *krik krik krik*
Saya sendiri memulai membiasakan diri untuk menulis sudah sejak duduk di bangku sekolah dasar –harus diakui bahwa dulu saya suka menulis diari. Sedangkan puisi, saya baru memulai menulisnya ketika di bangku sekolah menengah pertama. Boleh dibilang wajar, karena masa itu merupakan awal saya mengenal yang namanya “cinta monyet” hehehe. Dari sana, lahirlah istilah gelisah, resah, galau, entahlah kata baper kala itu sudah lahir atau belum. Jadilah puisi dijadikan salah satu sarana untuk menumpahkan segala rasa tersebut.


KENAPA KITA PERLU MENULIS PUISI?
“Aku adalah gila, membiarkan sejuta kata mati berkarat.”
Sebelum melangkah lebih jauh, ada baiknya kita mengetahui kenapa perlu menulis puisi. Sama halnya dengan membaca, karena terdapat banyak sekali manfaat yang bisa kita rasakan dari menulis puisi. Kali ini saya akan merangkumnya menjadi dua poin. Pertama, mengasah diri kita untuk bisa lebih ekspresif dalam merangkai kata. Tentu sekaligus mengasah kemampuan meramu sebuah bahasa yang indah dan luwes. Kedua, menulis puisi ini bisa dijadikannya sebuah sarana untuk pelampiasan diri. Nah, untuk yang satu ini saya teringat dengan kata bijak dari Ayah Pidi Baiq, “Sakit hati itu potensi. Karena di sana bisa lahirlah sebuah puisi.” Memanfaatkan momen banget yang begini sih. Cihuy!

BAGAIMANA CARA EFEKTIF MENCIPTAKAN PUISI YANG BAIK?
“Caranya sederhana, Di. Coba jemput intuisimu di dalam proses pembuatannya.”
Begitulah jawab salah seorang teman saya yang sudah lebih lama menapaki dunia sastra ketika ditanya bagaimana caranya agar bisa menciptakan sebuah puisi yang baik. Jemput intuisi. Pertanyaannya, apakah sahabat pembaca sekalian tahu akan pengertian dari intuisi? Jika merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), intuisi adalah daya kemampuan dalam memahami sesuatu tanpa dipelajari ataupun dipikirkan. Bahkan, bisa juga kita maksudkan sebagai bisikan hati. Ia datang begitu saja, lalu mengalir bagaikan air.
Nah, tips yang pertama adalah menjemput intuisi kita. Bagi yang belum terbiasa bermain dengan intuisi, saran dari saya adalah biasakan mulai dari sekarang juga. Karena jika sudah terbiasa melatih intuisi kita, bait demi bait puisi akan mengalir dan saling padu begitu saja.
Mari beranjak ke tips selanjutnya.
Pernah saya menulis tentang hal yang ingin terus saya lakukan selama hidup ini adalah belajar. Ya, saya ingin terus belajar, belajar, dan belajar lagi. Sense of curious yang timbul dari suatu pengetahuan dapat memberikan semangat bahkan motivasi untuk mengembangkan diri dan merangkak menjauhi era kebodohan. Terlebih lagi karya sastra, karena harus menghadirkan intuisi itulah yang menimbulkan semangat untuk bisa menghasilkan puisi atau karya yang lebih bagus lagi.
Oleh karena itu, kurang lengkap rasanya apabila menulis puisi itu tidak dikaitkan dengan membaca. Jika membaca buku-buku puisi adalah sebuah bentuk ruang imajinasi yang dibagikan oleh para penulis kepada kita, maka menulis puisi adalah bentuk ruang arsip gagasan maupun perasaan untuk dibagikan –meskipun tidak selalu.
Tips kedua adalah perbanyak membaca puisi orang lain. Puisi itu bisa didapatkan dari mana saja dan saya yakin sudah banyak sekali puisi tercipta. Kita bisa mendapatkan puisi dari internet, bisa dari film, bahkan buku-buku kumpulan puisi.
Nah, omong-omong soal buku kumpulan puisi. Kebetulan salah satu rekan blogger saya, ada yang sedang mengadakan giveaway untuk syukuran ulang tahunnya dan menjanjikan hadiah Kitab Puisi ‘Angin Kembara’ dan Pin Pustaka Kata bagi dua orang pemenang beruntung. Namanya, Mbak Anggi Putri. Ah, tentu hal ini sebuah peluang, bukan? Selain niat berbagi, kiat-kiat dalam tulisan ini menjadi salah satu jawaban atas persyaratan dalam giveaway tersebut. Tidak lain dan tidak bukan karena saya menginginkan buku tersebut. Terlebih, kumpulan puisi berisikan mimpi seorang gadis. Entah kenapa, membahas mimpi itu saya selalu semangat hehehe. 
Ya, karena dengan banyak membaca puisi karya orang lain, sejatinya kita sedang membuat cakrawala puisi yang lebih luas. Saya ingin terus berkembang dalam menciptakan puisi. Kalau kamu?
  
Kitab Puisi 'Angin Kembara'


Selamat ulang tahun, Mbak Anggi Putri. Keep productive writing, ya!
“Tulisan ini saya buat biar dapat Kitab Puisi ‘Angin Kembara’ gratis dari anggiputri.com
#sedekahkitabpuisi #anggiputridotcom


Durasi Baca: 7-7 Menit
Akhirnya, setelah sukses menonton film The Conjuring 2 dan Finding Dory, tepat pada Jumat kemarin (9/7) sekaligus memasuki hari ketiga setelah lebaran, saya bersama Mami dan Adik saya berhasil menonton film sekuel dari Habibie Ainun yaitu, Rudy Habibie. Sebuah tontonan yang sudah sepatutnya dijadikan inspirasi bagi generasi muda saat ini. Terlebih, inspirasi itu datang dari seorang publik figur, seorang pembelajar, seorang pekerja keras, seorang pemimpin luar biasa, Presiden RI ke-3, Bacharuddin Jusuf Habibie.
with my younger sister
Jika menilas balik film Habibie Ainun yang pertama di tahun 2012, tentu akan kita dapati seksama bahwa terdapat banyak pesan yang ingin coba disampaikan kepada para penontonnya. Misal, bagaimana seorang Habibie muda berjuang bertahan hidup di negara asing, berjuang dalam menyelesaikan perkuliahannya, berjuang untuk sukses dalam bidang yang digelutinya sampai akhirnya berhasil membangun industri dirgantara, bahkan berjuang untuk mendapatkan seorang teman sehidup semati hehehe. Garis besarnya, hidup ini adalah perjuangan. Kemarin adalah perjuangan, hari ini adalah perjuangan, esok pun perjuangan akan senantiasa ada.
Pada film yang kedua ini pun, Hanung Bramantyo, selaku sutradara bisa dikatakan berhasil menghadirkan sebuah film inspirasi yang apik. Saya sendiri sedari awal begitu menyimak bagaimana jalannya cerita dan pesan-pesan tersirat yang sekiranya bisa untuk diteladani dari sesosok Habibie. Alhasil, selama kurang lebih 142 menit film berlangsung, saya mendapati terdapat tiga pesan penting yang bisa dijadikan renungan bersama. Apa saja tiga pesan tersebut? Let me tell you they are.

1.     Cinta.
Dalam film ini, perihal cinta bisa dilihat dari dua perspektif berbeda. Karena cinta itu tidak melulu soal lawan jenis, bukan? Kedua itu adalah cinta seorang Habibie terhadap keluarganya dan cinta kepada seorang wanita. Cinta yang menjadi pewarna dalam hidupnya ketika di Jerman.
Pertama, cinta Habibie kepada keluarganya. Untuk bertahan hidup di negara orang tentu tidak semudah yang kita bayangkan. Hal tersebut tergambar bagaimana cukup peliknya masa awal hidup Habibie di Eropa Barat sana. Berjalan jauh ke bank untuk mencairkan kiriman uang dari ibunya di Indonesia, namun yang didapati hanyalah kiriman yang belum sampai. Lalu ia memutuskan untuk menelepon ibunya. Setelah mengetahui bahwa kondisi keuangan di Indonesia sedang tidak stabil sehingga memengaruhi keuangan keluarganya, Habibie bersikap legowo akan hal itu dan mencari cara lain untuk bisa sekadar makan, bertahan hidup.
Berbeda dengan kita, bahkan saya sendiri pun termasuk, ketika uang kiriman belum sampai atau barangkali telat sehari saja, sudah pusing tujuh keliling bagaimana harus menyikapinya. Tentu hal itu bisa menjadi pelajaran bagi generasi muda saat ini. Bagaimana kecintaan seorang Habibie kepada keluarganya berpengaruh kepada sikap yang diambil dan bisa dinilai pilihan yang bijak.
Kedua, kecintaan Habibie kepada seorang wanita. Bukan Ainun, melainkan seorang wanita berasal dari Polandia bernama Ilona. Kisah cinta lain dari seorang Rudy Habibie jauh sebelum menemukan cinta sejatinya, Almarhumah Ainun. Kisah yang terbilang cukup unik. Konflik datang lebih dulu dari pihak keluarga Habibie, ibunya mengarahkan agar Ilona bersedia pindah agama dan kebangsaan jika benar-benar mencintai Habibie.
Tidak selesai sampai di situ, Habibie kembali dihadapkan dengan sebuah dilematika, antara harus ikut ke Kota Bonn menemani Ilona atau memilih mewujudkan mimpi-mimpinya untuk Indonesia tercinta. Duh, mungkin kalau kita yang berada di posisi itu sudah galau enggak ketulungan kali ya hehehe.
Pada akhirnya, Habibie lebih memilih untuk mewujudkan mimpinya. Hal itu disebabkan oleh pertemuannya dengan salah satu rekannya di Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Aachen yang ternyata merupakan seorang pendeta pada gereja yang selalu Habibie pakai untuk singgah istirahat sementara dan bahkan shalat. Pendeta tersebut berkata,
“Kamu lebih memilih yang kamu butuh atau memilih banyak orang membutuhkanmu?”



2.     Filosofi.
“Kalau kamu baik, maka lingkungan di sekitarmu juga akan ikut baik.
Tetapi kalau kamu kotor, lingkungan di sekitarmu pun nantinya akan mati, tak ada kehidupan.”
-Filosofi Mata Air-
Begitulah bunyi nasihat yang diberikan oleh Papinya kepada Habibie kecil. Betapa Papinya begitu mendambakan bahwa suatu saat nanti Habibie bisa menjadi ‘mata air’ bagi banyak orang. Karena jika dipikir lagi lebih matang, benar adanya kalau mata air ini memengaruhi air yang ada di sekitarnya. Jadi secara tidak langsung Papinya berpesan agar suatu saat nanti Habibie menjadi orang yang bisa berpengaruh bagi siapa saja. Petuah itulah yang terus membayangi dan menemani Habibie hingga sekarang ini.
Masih kurang lengkap akan penjelasan dari filosofi mata air ini. Sekali lagi pendeta yang merupakan Habibie di PPI Aachen berbagi pendapat. Ia berkata, “Ingat, mata air yang jernih itu hasil gejolak yang luar biasa dari dalam tanah.” Saya sendiri mencoba menafsirkan pendapat tersebut bahwasanya untuk menjadi seseorang yang benar-benar ‘orang’ itu, pasti akan banyak sekali lika-liku dan rintangan yang menguji. Sebesar apa kuat kita dalam menghadapinya, semakin jadilah kita ‘orang’ yang dimaksud. Sebesar apa gejolak dalam tanah yang terjadi, semakin jernih pula mata air yang tercipta.


3.     Kepemimpinan.
Jika kita merujuk kepada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bisa kita dapatkan bahwa arti kata pemimpin adalah orang yang memimpin. Pertanyaannya, siapa yang memimpin dan siapa yang dipimpin? Pertama, siapa yang memimpin. Sebagaimana pengertian KBBI tadi, tentu yang mengambil peran dalam hal memimpin ialah seorang pemimpin.
Lalu siapakah yang akan dipimpin oleh seorang pemimpin? Ya, orang lain. Sejatinya seorang pemimpin, ia harus bisa memimpin segelintir banyak orang yang bisa dipastikan berbeda-beda wataknya. Bahkan bukan sekadar bisa sembarang bisa, tetapi juga mampu mengarahkan sekumpulan orang tersebut untuk mencapai visi dari organisasi yang diusung sejak awal.
Habibie pernah menjadi ketua PPI Aachen. Bersama visi yang dibawanya, ia mencoba mengerahkan rekan-rekannya untuk bisa ikut berkontribusi merealisasikannya. Dalam proses merealisasikannya, masalah datang silih berganti. Barulah jiwa seorang pemimpin di sini diuji. Hebatnya, Habibie mampu menyelesaikan masalah dengan caranya sendiri. Ia menggunakan formula “Fakta-Masalah-Solusi” yang bisa dijadikan inspirasi bagi kita dalam kemampuan problem solving.
Selain itu, masih ada satu pelajaran penting dari karakter seorang Habibie dalam memimpin. Momen yang membuat saya merinding terharu. Ketika Ayahnya meninggal dalam keadaan sujud, Habibie yang menggantikannya menjadi imam shalat. Tindakan seorang anak laki-laki yang menggantikan peran Ayahnya sebagai kepala keluarga –dalam hal tadi menjadi imam shalat. Menurut saya, sungguh luar biasa tindakan itu.
Namun, harus kita ketahui bahwa sejatinya pemimpin itu tidak melulu berbicara tentang memimpin orang lain, tetapi juga memimpin diri sendiri. Apa yang akan terjadi ketika diri kita sendiri tidak dipimpin? Bisa dipastikan akan menjadi tidak mudah dalam memimpin orang lain.
Siapa yang menanam, dia yang menuai. Apa yang diusahakannya, itulah yang nantinya akan didapat. Jika Habibie tak mampu memimpin dirinya sendiri, mungkin saja antara cinta, organisasi, bahkan pendidikannya akan ada yang terbengkalai. Mimpi-mimpinya tidak terwujud. Tetapi, Habibie berhasil memimpin dirinya sendiri sehingga apa yang diusahakannya pun menuai hasil memuaskan.



Kalau ditanya, siapa sosok yang menginspirasi di Indonesia? Maka Rudy Habibie termasuk di dalamnya. Tambahkan jawabannya, Habibie dengan cintanya, Habibie dengan filosofi mata airnya, Habibie dengan jiwa kepemimpinannya. Lewat film kedua ini, saya mendapatkan pelajaran akan tiga hal tersebut.
Untuk itu, film Habibie Ainun 3 layak menjadi salah satu film yang ditunggu tayangnya.

RATING.
8.7/10. Big appreciation for this inspiring movie one.




Durasi Baca: 5-5 Menit

Tak terasa, Bulan Ramadan yang berlangsung selama tiga puluh hari ini berlalu begitu cepat. Begitu terasa cepat karena terlalu banyak amalan-amalan yang seharusnya bisa maksimal dilakukan dengan baik, namun apadaya jika masih banyak perbuatan khilaf yang menjadi noda diri. Oleh karena itu, mari fitrahkan diri kita di hari yang fitri ini.
Setiap tahunnya, ketika Idul Fitri tiba, tradisi yang sudah kian melekat di banyak negara adalah saling bersilaturahim dan saling bermaafan. Salah satu negara yang menjadikan keduanya tradisi adalah bangsa kita sendiri, Indonesia. Ya, meskipun sebenarnya saling bersilaturahim dan saling bermaafan ini tak melulu berlangsung ketika lebaran saja, tetapi paling tidak kedua perbuatan baik ini kita lakukan rutin setiap tahunnya.
Nah, berkaitan dengan saling memaafkan ini, saya jadi teringat akan sebuah kisah yang mungkin bisa dijadikan bahan perenungan buat kita semua –termasuk saya pribadi.

Buah Apel dan Rasa Benci
Alkisah, suatu hari di dalam kelas terdapat seorang ibu guru SMP yang sedang mengadakan permainan bagi murid-muridnya. Ibu guru tersebut meminta agar esok hari para muridnya membawa sebuah kantong plastik transparan yang berisikan buah apel. Jumlah berapa banyak buah apel yang harus mereka bawa itu harus disesuaikan dengan jumlah orang yang dibenci dalam hidupnya. Misal, kalau si A merasa benci dengan 1 orang, berarti ia harus membawa 1 apel dalam kantongnya. Sedangkan si B merasa benci dengan 2 orang, maka ia harus membawa 2 apel dalam kantongnya. Begitulah peraturannya dan berlaku untuk kelipatan seterusnya. Dalam kata lain, murid-murid ini dibebaskan untuk membawa seberapa banyak apel di dalam kantongnya.
Keesokan harinya, para murid dengan riang gembira membawa kantong plastik transparan tersebut yang bersama di dalamnya beberapa buah apel. Cukup bervariasi jumlah apel yang mereka bawa. Ada yang hanya membawa 1, ada yang membawa 3, ada pula yang membawa 7, bahkan ada yang membawa 11 apel. Luar biasa! Dalam benak mereka saat itu, apel-apel tersebut akan mereka makan selayaknya mereka memakan dan mengoyak orang yang mereka benci. Tetapi realita tak sejalan dengan ekspektasi mereka. Ternyata, apel-apel tersebut harus mereka bawa kemana pun mereka pergi selama sepekan lamanya. Bahkan harus mereka bawa ketika hendak ke toilet sekalipun.
Hari demi hari silih berganti, apel-apel yang semula segar ketika kali pertama mereka bawa, sekarang sudah mulai membusuk dan mengeluarkan bau yang tak sedap tentunya. Dalam perkara ini, murid yang membawa hanya 1 atau 3 apel akan lebih beruntung daripada mereka yang membawa 7 apel. Satu hal, jangan tanya apa yang akan terjadi pada murid yang membawa 11 apel, Mungkin dia lebih dari sekadar lelah hahaha.
Tepat di hari ke-7, permainan usai. Tentu ada kelegaan tersendiri bagi para murid.
“Jadi, bagaimana rasanya membawa apel busuk selama kurang lebih satu minggu?” tanya ibu guru kepada murid-muridnya.
Satu jawaban dari mereka, tidak nyaman sekali tentunya.
Sang ibu guru pun tersenyum dan kemudian menjelaskan, “Begitulah kiasannya ketika seberkas rasa benci selalu kita bawa dalam hidup kita. Semakin dihiraukan dendam itu dan bersinggah di hati kita, semakin tidak nyaman pula diri kita. Bahkan dampaknya juga bukan pada orang yang kita benci, melainkan akan berdampak pada diri kita sendiri. Sungguh, sangat tidak nyaman sekali bukan ketika setiap hari kita harus membawa apel busuk bernama kebencian?”

Menurut kalian, pelajaran apa yang bisa diambil dari kisah tersebut? Ya, kisah tersebut mengajak kita untuk sekuat hati membuang jauh rasa benci lantas memaafkan orang-orang yang pernah berbuat salah kepada kita, baik secara sengaja atau pun tidak. Mengapa begitu? Karena dengan kita mengambil sikap untuk tidak mau memaafkannya maka sejatinya hal tersebutlah yang akan membahayakan kita.
Sebuah keberuntungan, apel busuk dalam permainan tersebut hanya dibawa selama satu pekan. Mari kita bayangkan, apa jadinya ketika apel tersebut harus dibawa murid-murid dalam kurun waktu yang lebih lama? Dua pekan atau sebulan, misalnya. Barangkali beberapa mereka ada yang pingsan bahkan bisa jadi masuk rumah sakit. Berlaku pula pada rasa benci, lambat laun ia aka membuat diri kita merasa tidak nyaman. Apakah kita mau terus-menerus membawa rasa benci dalam diri kita, bahkan sampai tutup usia nanti?
Sejatinya, ketika kita memaafkan orang lain sebenarnya kita tidak benar-benar melakukan hal tersebut untuk diri orang lain, melainkan untuk diri kita sendiri. Beberapa dari kita mungkin berpikir bahwa ketika telah memaafkan orang yang telah menyakiti atau berbuat jahat kepada kita, maka kita kalah dari orang tersebut. Padahal, disanalah letak kemenangan hakiki kita atas egoisme yang bersarang di hati kita.
Oleh karena itu, mari saling memaafkan satu sama lain dengan tanpa syarat agar kita tergolong orang-orang yang ikhlas. Sebab, saya yakin bahwa setiap orang itu bisa memohon maaf begitu juga memaafkan.
Yuk, jadikan Idul Fitri ini sebaik-baik momen untuk saling bermaafan satu sama lain!

“Bukanlah syair menggoda yang apik tuk dikaryakan. Bukanlah sebatas kata yang romantis tuk jadi rayuan. Bukan. Biarkan kata ini merembah mesra dari pikiran. Juga palung hati yang berkedalaman. Pada akhirnya, meresap indah pada yang mendapatkan.  Waktu begitu cepat terlewatkan. Akhir bulan nan mulia ini sangatlah rugi jika disiakan. Bolehkahku berandai di penghujung ramadhan? Andai terang rembulan dapat kuhentikan. Maka berhentilah cahayanya memancarkan. Hingga tak akan datang esok hari lebaran. Sebelum kata maaf kau perkenankan. Karena itu sisa harapan. Bak air yang tak selalu tampak jernih mengalir, begitu pula tajam ucapku dalam mengatakan. Bak kapas yang tak selalu putih merona, begitu pula prasangka hatiku dalam terka dugaan. Bak lika liku jalan tertampak, begitu pula tingkahku dalam melakukan. Jika maaf bisa kini kau segerakan, untuk apa menunggu esok kau lantunkan? Selamat hari lebaran. Mohon maaf atas segala kesalahan.”

-Awaldi dan Keluarga-