Segurat Senyuman (eps 02)

22.16 Awaldi Rahman 0 Comments

“Mohon bapak dan ibu bisa menerimanya dengan lapang dada dan tetap rendah hati” Kata dokter lembut.
“I…i…iya pak! Kami akan sabar dengan hasil yang telah kami terima”
“Gak mungkin! Gak! Gak! Gak mungkiiiin...Huhuhu...” Sambung Nadia yang kemudian menangis.
Nadia. Istriku, hanya bisa menangis setelah mendengar hasil tes yang di berikan oleh pak dokter. Hasil tes menyatakan bahwa Nadia tidak bisa memiliki anak. Tentunya hasil ini membuat hatinya menjerit sedih. Di sisi lain, mungkin Nadia juga takut kepada mertuanya karena tidak bisa memberikan ia seorang cucu satupun.
“Sudahlah, jangan menangis terus...sebab, dengan menangis tidak dapat merubah segalanya kan?”
“Tapi mas, aku harus bilang apa pada ibu nantinya?!”
“Bilang saja sejujurnya, aku yakin, kalau ibu bisa menerimanya” Kataku meyakinkan dirinya.
“Ta..tapi aku takut mas, aku takut!!!” Cemas Nadia.
“Tenang saja, aku pasti akan membelamu” Kataku sambil memeluknya.

*     *     *     *     *

“Aniiiiis, kemari nak..” Sapa seorang wanita dengan sirat wajah yang penuh dengan kilauan cahaya nan indah.
Aku perhatikan dia dengan amat sangat tertegun. Dari ujung kepala hingga ujung kakinya sangatlah terang. Siapa dia? Apakah malaikat yang hendak mencabut nyawaku? Mau apa? Beribu-ribu pertanyaan begitu saja muncul dalam benak pikiranku. Tetapi, hati kecilku berkata bahwa dia adalah orang yang baik. Memanggilku dengan ramah dan dengan suara yang lembut. Ia juga cantik, bak bidadari-bidadari surga.
“Ha? Siapa? Aku?” Jawabku bingung.
“Iya kamu gadis cantik..” Balasnya lembut.
Aku jalan menghampiri wanita itu. Di kala aku hampir sampai, dia begitu saja pergi meninggalkanku entah ingin kemana.
“Tunggu! Engkau mau kemana?” Tanyaku pada wanita itu.
”Ikutlah denganku...” Balasnya pendek.
Kembali pertanyaan-pertanyaan itu muncul. Hendak kemana aku di ajak? Apa yang ingin dia lakukan kepadaku?. Terus saja aku ikuti kemana dia pergi, menyusuri jalan setapak yang mungkin tiada ujungnya bagiku. Suasana yang indah. Sejuk. Aku merasakan adanya ketenangan disini. Jiwaku kian tentram. Lalu, berhentilah wanita itu pada suatu tempat. Duduklah ia di sebuah bangku panjang. Dan menatapku dengan tatapan yang sungguh indah. Pada bola matanya terdapat siluet cahaya pelangi, seolah-olah memiliki jutaan pesona pada setiap kedip matanya. Rambutnya panjang terurai.
“Aniiis, duduk disini nak..” Minta wanita itu.
 Tanpa berpikir panjang akupun duduk tepat disamping wanita itu. Hening antara aku dan wanita itu. Hanya mampu membisu seribu kata. Terdengar jelas deras aliran sungainya. Juga kicauan burung-burung yang merdu.
“Sebelumnya, apakah Anis pernah pernah ke tempat ini?” Tanya wanita itu membuka percakapan.
“Belum” Jawabku yang kemudian menatap alam sekitar.
“Belum pernah?” Tanyanya sekali lagi.
“Belum” Jawabku meyakinkannya.
“Anis mau tau?”
“Mau...”
“Sekarang, Anis sedang berada di sebuah tempat yang paling indah. Taman surga.”
“Surga? Apa itu?”
“Kelak kau akan mengetahuinya sendiri nak..”
Suasana hening kembali. Kutatap wanita itu jelas. Wanita itupun menatapku juga.
“Aku tau kalau dirimu sedang sedih, hatimu sedang menangis. Karena itu aku mengajakmu kesini.”
“Dari mana engkau tau?” Balasku.
“Aku juga tau jikalau Anis sedang merasa sedih, Anis selalu menyendiri di pekarangan panti. Duduk menyendiri. Jikalau sepertiga malam tiba, Anis selalu bangun dan mengadu kepada-Nya.”
“Dari mana kau mengetahui semua itu?”
“Dari sini...” Jawab wanita itu sambil menunjuk ke arah dimana hati berada.
“Percayalah Anis, suatu saat nanti, dirimu akan menemukan arti kebahagian. Suatu saat nanti, dirimu akan mendapatkan apa yang kamu inginkan selama ini.” Sambung wanita itu.
Tiba-tiba saja wanita itu memelukku erat. Cukup lama. Tidak tau kenapa, aku merasa nyaman dalam pelukannya. Dan terus ingin dalam pelukannya sampai kapanpun.
“Boleh aku bertanya?” Tanyaku pada wanita itu.
“Kamu ingin bertanya apa padaku? Tanyalah..” Jawabnya.
“Siapa engkau? Apakah kau malaikat? Mengapa kau begitu baik sekali padaku?”
Wanita itu melepaskan pelukannya. Lalu, berdiri dan berjalan menuju tepi sungai. Aku ikuti wanita itu dan berdiri disampingnya. Kulihat, wanita itu memandang ke arah air sungai yang begitu putih. Seperti air susu. Sangat putih air itu.
“Sungguh kamu ingin mengetahui siapa diriku nak?” Tanya wanita itu.
“Ya, aku ingin tau siapa dirimu..”
“Percayakah jika aku menjawab aku adalah bundamu?”
“.........” Aku tidak mampu berkata apapun.
“Percayakah Anis? Aku ini bundamu nak..”
“hm..percaya..” Jawabku agak ragu.
“Ayah dimana bun?” Tanyaku.
“Dia sedang sibuk di dalam. Mugkin, suatu saat nanti ia akan menemuimu juga.” Jawab bunda yang kemudian kembali memelukku. Setelah itu, kami bermain bersama. Lari-larian di tepi sungai. Tertawa gembira.
BYUUURRRRR!!!
Anis yang tiba-tiba saja terpeleset jatuh ke sungai.
BYUUURRRRR!!!
“Bangun!!” Bentak ibu panti.
Aku bangun dengan wajah yang masih ngantuk. Mengusap kedua mata. Dan melihat ke segala arah. Hanya ada ibu panti. Dimana bunda? Kemana dia pergi?.
“Heiiheii, sedang mencari apa kamu?”
“Tidak” Jawabku sambil menggeleng-geleng.
Begitu menyenangkan ketika aku bermain bersama bunda. Walaupun hanya sekejap. Tertawa bersama. Namun, itu semua hanya dalam mimpiku saja. Bukan di dunia nyata. Padahal, aku sangat senang sekali jika bunda dan ayah ada disini. Bersamaku.
“Ayo bangun, nanti kamu akan kedatangan orang tua barumu..”
“Ha?!” Jawabku kaget.
“Kenapa? Kamu tidak mau mendapatkan orang tua baru?”
“Tidak bu, aku mau sekali..”

*     *     *     *     *

“Apaa?!” Kaget ibu.
“Sudahlah bu, jangan marah pada Nadia, kasihan dia..”
“Sungguh mengecewakan..”
“Ibu! Hentikan! jangan begitu pada Nadia!” Ikut ayah.
Nadia hanya bisa menangis sedih. Ia tidak sanggup berkata lagi.  Ibu dan ayahpun beranjak pergi pulang. Tanpa berpamit.
“Apa aku bilang, pasti ibu tidak akan menerimanya mas...” Kata Nadia sambil menagis tersedu.
“Iyaiya...Sudahlah, anggap semua itu angin lalu”
“hmm..aku punya ide!” Sambungnya.
“Apa itu mas?” Tanyanya penasaran.
“Sebelumnya, kamu hapus dulu air mata yang ada di pipimu”
“Baiklah, sudah”
“Bagaimana kalau kita mengadopsi anak saja dari panti?”
“Apa kamu yakin mas, ibu akan suka?”
“Aku yakin, cepat atau lambat, ibu akan menyukainya.”
“Bagaimana kalau sekarang saja mas kita ke panti!” Kata Nadia penuh semangat.
“Sekarang? Baiik...” Jawabku yang ingin membuat Nadia terlihat lebih senang dari sebelumnya.

*     *     *     *     *

“Aniis mau pamit sama teman-teman dulu?”
“Mauu..”
Tanpa banyak bicara Anis langsung berpamitan pada teman-temannya. Teman akrab. Anak-anak panti lainnya hanya melihat dari belakang. Selanjutnya, ibu panti. Meskipun ia suka marah, aku tahu, marah itu karena ia begitu sayang padaku. Selesai berpamitan, aku pun menaiki mobil orang tua baruku.
Mobil sudah mulai meninggalkan panti. Perlahan, gerbang panti tidak terlihat lagi. Sedih, walaupun inilah yang aku inginkan. Semua kisah masa kecilku masih tertinggal di panti itu. Lala, teman baikku. Aku tau saat ini pasti ia sangat sedih dengan kepergianku.
“Aniis pasti sedih ya meninggalkan teman-teman di panti?”
“Iya tante..” Jawab Anis.
“Anis bisa kok, mengajak teman-teman panti ke rumah kapan-kapan, itu juga kalu Anis mauu..”
“Mau banget tante..” Jawab Anis semangat.
“Kok masih tante aja siih, pokoknya, mulai sekarang Anis manggilnya bunda aja ya..”
“Iya tante..eh, bundaa” Kata Anis yang membuat kami tertawa bersama.
“Nah, kalo yang sedang menyetir itu ayah”
“Ohh..”
“Haloo ayah...” Kata Anis.
“Haloo Aniiis..”
Tidak terasa candaan di mobil telah menghantarkan kami sampai hingga ke rumah. Selamat. Rumah yang sederhana. Tidak terlalu besar, melainkan biasa-biasa saja. Cat putih yang mulai terkotori oleh noda-noda kecil. Lampu taman yang lupa di matikan.
Agenda untuk sekarang ini hanyalah mempersiapkan kamar untuk Anis. Sibuk menata, sibuk menyapu, sibuk mengecat. Semua sibuk pada tugasnya masing-masing. Membuat tubuh capek dan lemas.
Hingga sore pun tiba, ibu datang kembali. Awalnya ibu tidak menyadari keberadaan Anis di rumah ini. Tetapi ketika Nadia memanggil Anis, wajah ibu langsung berubah bingung.
“Aniis? Siapa itu?”
“Aniis, ayo salam dulu sama nenek..” Kata Nadia.
Ketika Anis hendak memegang tangan nenek untuk mencium tangannya, nenek pun membuang tangan Anis keras.
“Cucuu?! Tidak! Aku tidak akan menganggapmu sebagai cucuku!”
“Ibu! Jangan begitu bu! Sudah kita pulang saja, daripada mengganggu kesenangan keluarga mereka.” Kata ayah membela.
Ibu memang tidak jelas. Selalu saja begitu. Datang, lalu pulang.
Pukul 00:00...
Bunda jatuh sakit. Badannya panas, dan tidak mau di bawa ke dokter. Ia hanya ingin di rawat di rumah saja. Menurut dokter, bunda hanya sakit biasa. Ia hanya terlalu capek saja, dan membutuhkan waktu untuk istirahat seharian penuh. Dan makan yang cukup tentunya.
Esok harinya...
Ibu kembali datang. Tetapi kali ini ia tidak membuat kegaduhan di rumah. Hanya saja, ibu tidak mau berbicara atau bertemu pada Anis. Ia menjaga jarak. Dan masih belum bisa mengakui bahwa Anis adalah cucu angkatnya.
Anis sendiri sedang menjaga bunda. Menyiapkan makan dan minum untuk bunda. Menyiapkan segalanya.
“Bunda sakit apa sih?” Tanya Anis.
“Hanya sakit biasa Aniis..” Jawab bunda lemah.
“Semoga cepat sembuh ya bundaa..” Kata Anis dengan melempar senyuman manis.
“Iya sayang..”
Tidak di sadari oleh Anis ataupun Nadia kalau ibu mengintip kejadian itu. Tiba-tiba saja rasa ibu kepada Anis sedikit demi sedikit berubah. Menjadi lebih tenang dari sebelumnya.
Dan ketika Anis sedang melakukan sholat yang kemudian diiringi dengan doa. Ibu juga mengintip lagi. Disinilah semua itu berubah sudah. Bunga layu itu kini tumbuh mekar. Rasa kesal itu kini hilang sudah.
“Aniiiiiss” Panggil nenek.
Anis pun bergegas memenuhi panggilan nenek. Agak ragu memang. Tetapi, perlahan tapi pasti Anis menuju nenek.
“Aniis, maafin nenek ya..” Kata nenek yang kemudian meneteskan air mata.
“Sebelum nenek minta maaf juga udah Anis maafin kok nek..” Jawab Anis tulus.
Hingga akhirnya sebuah berita gembira datang, bahwa Nadia sedang mengandung anak. Tentunya itu merupakan berita gembira buat ibu. Dan juga Anis yang sebentar lagi akan mempunyai adik.
Begitulah kehidupan Anis. Penuh akan cobaan hidup yang mendera hidupnya. Tetapi ia terus menjalaninya dengan tenang. Segurat senyuman,  itulah yang mengalahkan semuanya. Hidup terasa lebih indah jika disertai dengan senyuman. Ia akan mengisi relung hati yang hampa. Mengusik jiwa yang sedih.
Pada akhirnya mereka semua berbahagia...


-0-TAMAT-0-

0 comments:

Segurat Senyuman (eps 01)

22.34 Awaldi Rahman 2 Comments

Malam ini indah, tapi tidak seindah hatiku sekarang. Bulan menampakkan sirat cahayanya yang membuat seluruh kota menjadi terang benderang. Bintang-bintang juga ikut menyinarkan pelitanya yang membuat kota ini seolah-olah menjadi semakin hidup. Mereka membentuk jutaan formasi yang menghiasi langit. Dan sesekali aku melihat ada beberapa bintang jatuh.
Allahu Akbar...Allahu Akbar...
Sayup-sayup suara adzan kini saling bersahutan. Terdengar dari satu desa ke desa lainnya. Satu desa selesai, disambung lagi dengan desa lainnya. Membuat kota riuh seketika. Dan juga membuat hati gelisahku menjadi lebih tentram. Terlihat satu dua orang yang berpenampilan rapih menggunakan pakaian sholat yang sebagaimana mestinya melewati depan panti kami. Anak-anak kecilpun tidak mau kalah rapihnya dengan orang dewasa, mereka begitu antusias untuk melaksanakan ibadah. Ya, tidak salah lagi mereka ingin pergi ke masjid yang jaraknya tak jauh dari panti kami. Cukup dengan waktu lima menit saja sudah sampai.
Ku duduk seorang diri di bangku pekarangan depan panti. Tepat di bawah pohon jambu monyet yang selalu menemaniku di kala jiwa ini sunyi dalam kehampaan, sepi dalam kebersamaan. Hanya ini yang bisa aku lakukan sehari-harinya. Menyendiri dari anak-anak panti lainnya. Hanya beberapa teman dekatku saja yang terkadang mengajakku bermain bersama. Yang lainnya tidak, tidak ada rasa peduli sama sekali denganku. Dalam kesendirian aku telah mencoba menepiskan air mata yang ada, di dalam dunia yang terbuat dari batu. Dalam kesendirian aku berjalan menyusuri lembah-lembah yang berwarna-warni, di dalam dunia yang terbuat dari baja. Dalam kesendirian juga kutemukan separuh jiwaku yang hilang.
Bukan karena aku selalu di caci, di maki oleh anak-anak panti lain. Itu sudah biasa bagiku. Bukan juga karena aku selalu diperlakukan kasar, bukan. Tapi aku merasa kurang adanya rasa keadilan disini. Kenapa aku bisa berkata ini tidak adil? Jelas sekali, umurku baru sepuluh tahun. Tergolong anak paling muda yang ada di panti. Anak-anak sebayaku juga tidak ada yang diperlakukan seperti diriku. Apa sih salahku? Sungguh aku tidak mengerti dengan semua ini.
Di panti, aku seperti orang yang terlupakan. Aku ada, tetapi seolah-olah tidak ada. Pernah ketika lebaran, ibu panti belanja baju-baju baru. Semua kebagian, kecuali aku. Sedih sekali. Alasan ibu panti, “Wah, ibu lupa membelikan kamu. Besok aja ya, ibu ke pasar lagi. Janji deh, ibu akan membelikan baju yang paling bagus buat kamu ya sayang.”
Memang sih, ibu panti menepati janji. Tapi kejadian seperti itu bukan hanya sekali melainkan berulang-ulang kali. Anak-anak panti lain selalu dipeluk dengan amat erat, dengan disertai ucapan-ucapan yang cukup membahagiakan. Tapi aku? Hanya diberi pelukan sekilas, lalu dilepas begitu saja. Aku tidak merasakan sensasi apapun kecuali sentuhan fisik yang membuat leherku seperti tercekik. Tentu itu juga merupakan siksaan batin bagiku.
Terkadang aku terbangun di sepertiga malam. Manakala semua penghuni panti masih dalam keadaan berselimut, masih dalam buai tidur lelapnya. Manakala, di waktu tersebut malaikat turun ke bumi untuk mengabulkan doa-doa insan yang terlepas dari gemulai selimutnya. Tidak akan aku sia-siakan waktu tersebut tidak lain untuk bermunajat kepada yang maha kuasa. Yang maha mendengar. Dalam sujudku aku minta pertolongan dari-Nya sebagai hamba yang tidak mampu berbuat banyak. Sujud simpuh diriku sebagai hamba yang lemah. Hanya bisa meminta.
Belum selesai sampai disitu kuhabiskan sepertiga malamku. Seusai sholat, kembali aku menengadahkan kedua tanganku sebagai penghambaan diri kepada-Nya. Dalam doaku aku meminta, “Ya Allah yang maha pengasih, kirimkanlah hamba orang tua yang baik hati yang mau menjadikan hambamu ini sebagai anak angkatnya. Yang bisa menerima atas segala kekurangan hamba. Hamba rela meskipun sebatas anak angkat. Ya Allah yang maha mendengar, hambatau engkau mendengar setiap permintaan hamba-hambamu, oleh karena itu kabulkanlah permintaan hambamu ini, Amiiin. Doaku pendek.
Begitulah sepertiga malamku. Aku isi dengan sholat malam lalu diiringi dengan doa sebagai penutupnya. Karena sholatku adalah penyejuk hatiku, doaku bagaikan seorang teman yang hadir dalam luasnya padang yang gersang, rasa sabar sudah menjadi pakaian dan moral pada diriku, sedangkan kesedihan yang melanda jiwaku sudah kuanggap sebagai sahabat yang tidak bisa dilupakan. Senyum. Itulah yang bisa aku perbuat untuk menjalani beban hidup di dunia ini.
Tidak terasa adzan shubuh kini berkumandang jelas. Tidak terasa juga kutelah meneteskan air mata yang begitu saja mengalir di pipi kanan dan kiri. Lalu aku hapus air mata itu. Aku berdiri bergegas mengambil air wudhu lalu aku tunaikanlah salah satu dari sholat lima waktu. Sholat shubuh.

2 comments:

Sepuluh Jiwa Sepuluh Warna (Eps 02)

15.38 Awaldi Rahman 34 Comments


Durasi Baca: 3-4 Menit

     Semasa SMA dulu, memang Kenzie selalu unggul dari anak-anak The Rainbow dan murid lain yang ada di kelas dalam berbagai bidang, baik itu akademik maupun non akademik. Selain itu, dia adalah seorang ketua kelas selama tiga tahun berturut-turut. Dan bagiku dia memang layak mendapatkan predikat lulusan terbaik di SMA.
     Kuambil cangkir cappucino hangatku dan kuteguk satu dua kali.
     “Berbeda sekali nasibnya dengan Fira, dia terancam di berhentikan dari kuliahnya cuma gara-gara masalah biaya saja. Sayang sekali. Padahal saat ini dia sedang menjalani semester terakhir juga seperti kita” Kata Rangga.
     Dengar-dengar sekarang Hasan di Kairo, Widya di Utrecht, Cinta dan Amel di Adelaide” Sahut Adit.
“Wahh, tak di sangka ya, The Rainbow yang waktu SMA di cap sebagai kumpulan anak-anak tengil, jail bin iseng, ternyata bisa menjadi orang yang sukses-sukses seperti sekarang ini” Celetukku membuat kami lagi-lagi tertawa bersama.
     “Taa…tapi bagaimana dengan nasib Fira?” Tanya Rangga.
     “Kita bantu saja dia, kita bantu dengan sedikit uang yang kita punya, lalu kita transfer ke rekeningnya dan beri tahu dia kalau kita sudah beri dia sedikit bantuan buat biaya kuliahnya, kali-kali saja cukup” Jawab Adit lantang.
     “Setuju! Tumben sekali otakmu jalan Dit. Hahahaha” Canda Rangga.
     “Memang ya, dunia ini bagai roda-roda yang berputar secara terus-menerus. Kadang kita diatas, dan kadang kita dibawah. Kehidupan sering sekali menghadirkan kenyataan yang berbeda dengan keinginan yang kita inginkan. Namun kenyataan seperti itulah yang akan mengajarkan kita bahwa didunia ini hanyalah tipuan belaka. Terkadang sesuatu yang terlihat jernih di kasat mata, belum tentu jernih melainkan keruh. Begitu pula yang terlihat keruh, belum tentu juga keruh. Dunia ini tidak sedikit orang yang tenggelam dalam keterpurukan karena tipu dayanya. Padahal, siang yang terang benderangpun akan menjadi malam yang kelam. Bunga-bunga mawar yang merah nan indahpun akan menjadi layu dan menjadi tanah lagi. Ketika kita memandang bulan ,tampaklah wajahnya yang terang benderang berkilau dan bersinar terang benderang, namun pada kenyataannya ia hanyalah bebatuan yang terjal. Tatkala kita memandang senja yang penuh dengan nuansa jingga, tanaman yang nampak seperti permadani begitu memukau dilihat dari kejauhan. Namun ternyata ketika kita mendekat yang tampak hanyalah hutan yang hitam dan gelap.
“Hidup ini butuh proses, tak mungkin kita sukses seperti sekarang ini tanpa adanya proses. Dan masa itu pasti pernah dirasakan oleh semua orang. Aku sangat setuju sekali jika ada pernyataan yang berkata bahwa ‘Dari nothing menjadi something itu butuh kerja keras’. Benar sekali memang.” Kataku panjang lebar.
     “Benar sekali kau Dik, kalau ada yang kaya, pasti ada yang miskin. Kalau ada yang sehat, pasti ada juga yang sakit. Kalau ada yang muda, pasti ada yang tua. Kalau ada maling, pasti ada yang gebukin! Hahahaha” Kata Rangga.
     “Bisa saja kau Ga” Balasku.
     “Ehh, sepertinya hujan diluar sudah mulai reda Ga. Kita pulang yuk!” Ujar Adit. 
     “Oke deh Dit”
     Adit dan Rangga pun langsung bergegas berdiri dan mengambil jas hujannya masing-masing lalu membuka pintu.
     “Dik, Kita pulang dulu ya” Kata Adit.
     “Oke Dit, hati-hati ya kalian” Jawabku.
     “Siiiiip” Balas Adit dan Rangga dengan serempak.
Suasana rumahku kembali sepi sunyi. Sekilas canda dan tawa itu pergi begitu saja. Pertemuan tadi membuatku kembali teringat akan kebersamaan anak-anak The Rainbow saat dulu kala. Senyum, sedih, canda, tawa, suka dan duka kita hadapi bersama-sama. Tak sadar aku baru saja meneteskan air mata saat menatap sebingkai foto ketika kami jalan-jalan bersama.
Sudah menjadi tekadku. Lulus kuliah dengan nilai yang membanggakan, dan langsung pulang menuju kampung Indonesia untuk berjumpa dengan sanak keluarga dan anak-anak The Rainbow tentunya.
Tak sengaja kutemukan buku diary-ku saat mengobrak-abrik meja kerjaku. Sudah penuh dengan debu dan mulai kusam. Cukup lama sudah aku tidak pernah buka lagi diary ini. Yang menyimpan akan sejuta kenangan duka cita ataupun suka cita, manis ataupun pahit di masa-masa SMA. Bukan karena kusibuk atau entahlah itu, karena aku belum siap untuk mengenang cerita-cerita duka yang ada disini. Tapi kali ini akan kucoba beranikan diri, kubuka kembali lembaran hariku di masa SMA lampau.

34 comments:

Memori Terdahulu

22.36 Awaldi Rahman 0 Comments

Kala cahaya bulan bersenandung
Hatiku gundah gulana
Teringat masa lampau
Ketika ku bersamanya

Ketika raganya temani diriku
Ketika senyumnya menyejukkan hatiku
Ketika tawanya memecahkan suasana
Ketika tangisnya mengiris hatiku

Ku ukir memori itu dalam angan
Yang menyimpan akan sejuta kenangan
Nan mudah tuk di ingat
Namun sulit tuk di lupakan
Begitu cepat terlintas di pikirku

Memendam rindu yang mendalam 
Menanti akan datangnya sebuah keajaiban
Tuk berjumpa kembali dengannya

020711
21:00

0 comments:

Sepuluh Jiwa Sepuluh Warna (Eps 01)

01.17 Awaldi Rahman 32 Comments

Source image: Flickr.com

Durasi Baca: 4-4 Menit

Rintihan air itu terus turun perlahan lalu membasahi aspal, rerumputan, tanah, atap-atap gedung dan membungkus seluruh kota Paris menjadi serba basah.  Menyenangkan. Membuat suasana di luar terlihat damai dan tentram. Kota ini seolah diguyur oleh air yang begitu saja dituang dari langit. Ketukan-ketukan halus terdengar dari setiap rintik air yang menyentuh jendela kaca di depanku.
Aku menghela nafas panjang, Pelan jemariku menyentuh permukaan kaca yang berembun. Hawa dingin segera menjalar menyusuri seluk-beluk organisme yang ada  hingga sampailah pada lubuk hati yang paling dalam. Membuat seluruh perasaanku beku tak berdaya. 
            Jalan-jalan yang basah. Rumah-rumah dan bangunan dengan tekstur kebarat-baratan habis disepuh air hujan. Taman-taman yang menjelma bak permadani di taman surga, menampakan sirat air mancur yang cukup indah. Air yang memancar keatas, dan turun lagi ditemani rintik air hujan. Dan, pesona juwita muka gadis-gadis yang berjalan diseberang jalan dengan payung yang beranekaragam warnanya. Membuat kota terlihat lebih indah dengan warna-warninya.
 Sudah tiga jam ini hujan turun tiada henti. Wajar, karena memang sebulan terakhir kota Paris ini tak dihampiri oleh hujan. Pohon-pohon ontario di kanan-kiri jalan yang biasanya rimbun kini tinggal hanya beberapa saja yang dibalut air hujan. Pohon-pohon ontario itu tampak pasrah akan kebesaran Tuhan yang mengatur seluruh alam semesta. Dalam diam pohon itu menyerap air hujan untuk melakukan pertumbuhannya. Angin dingin terus menghembus perlahan dari arah utara ke arah selatan yang diikuti oleh air hujan. Angin itu menerobos pintu rumahku dan menusuk tubuhku hingga pori-pori yang paling dalam. Memakai satu pakain tebal saja tidak cukup bagiku. Apalagi musim dingin nanti. Dingin sekali pastinya. Membutuhkan dua atau tiga pakaian tebal.
Tak jauh, tampak Menara Eiffel, menara besi yang dibangun di Champ de Mars di tepi Sungai Seine di Paris. Menara ini telah menjadi ikon global Perancis dan salah satu struktur terkenal di dunia. Menara tertinggi kelima di Perancis dan paling tinggi di kota Paris ini. Menara yang dirancang oleh insinyur Gustave Eiffel ini konon telah dikunjungi lebih dari dua ratus jiwa sejak pembangunannya pada tahun 1889 dan menjadikannya monumen bertarif yang paling banyak dikunjungi. Menara ini setara dengan bangunan konvensional 81 tingkat. Petir menyambar. Membuatku terhentak kaget.
Rumahku sendiri berada di Barbizon Avenue, desa perancis dimana Sekolah Lukis Barbizon terletak. Jalan yang selalu riuh dengan lalu lalang para pejalan kaki dan lalu lintas mobil. Di seberang jalan berjejer rapih restoran khas makanan Prancis yang besar dan terbilang agak kuno. Lampu jaman dulu, meja dan kursi untuk para pelanggan yang ingin menyajikan hidangan diluar, dan karyawan-karyawan berseragam terlihat jelas dari sini.
Buku-buku tertumpuk beraturan diatas meja. Dan lampu portable yang lupa kunyalakan. Tanganku segera bergerak membuka layar Toshiba Notebook-ku yang berwarna hitam metalik. Sekedar berbincang-bincang lewat aplikasi messenger bersama karibku yang ada di Indonesia. Saling tanya kabar dan bertukar informasi. Untuk melepas jenuh juga.
Tingtungtingtung…bunyi bel pintu terdengar halus. Kuberpikir sejenak, siapa yang datang malam-malam seperti ini, hujan pula. Bergegas kubergerak menuju pintu, kuintip sedikit lewat lubang kecil yang memang dibuat untuk melihat siapa tamu yang datang berkunjung. Tidak terlihat jelas. Dua orang memakai jas hujan berwarna hitam. Lalu kubukakan pintu untuk mereka. Ya, tak salah lagi itu Adit dan Rangga. Mereka adalah teman-teman dekatku saat dibangku SMA.
Adit juga teman satu kampusku di Sorbonne, Universitas paling terkenal di kota Paris. Kami mengambil jurusan yang sama yaitu sastra. Dan saat ini kami tengah menjalani ujian akhir dan mempresentasikan skripsi yang telah kami buat dengan susah payah. Sedangkan Rangga kuliah di Universitas Negeri Paris atau Universite Paris Dauphine. Universitas yang paling terkenal dengan jurusan manajemennya. Dan saat ini Rangga sedang menunggu hasil ujiannya yang akan menentukan lulus atau tidak di program master ini.
“Ayo masuk.”
Adit dan Rangga pun masuk dan sibuk melepas jas hujannya masing-masing. Langsung duduk begitu saja tanpa kupersilahkan. Wajar. Memang itu sifat mereka sejak dulu. Belum berubah hingga sekarang.
“Ada apa kalian main ke rumahku malam-malam begini? Tumben sekali.”
“Haha, kebetulan aku dan Rangga habis dari taman dekat Istana Sceaux Dik. Saat kita dijalan pulang, tiba-tiba saja hujan semakin deras. Kebetulan tak jauh dari sana ada rumah kamu, jadi kita main saja sebentar, sekalian berteduh juga sampai hujan agak reda, hehe”
“Oalah, ada-ada saja kalian.”
Suasana hening sejenak. Hanya Rangga yang sibuk sendiri memakai sweater-nya.
“Ngomong-ngomong ngapain kalian berdua pergi ke taman?” tanyaku memecah keheningan.
“Sekedar cuci mata saja Dik. Daripada aku pergi sendirian, gak ada teman yang bisa diajak ngobrol, aku ajak saja si Rangga.”
“Ohh…oiya, kalian mau minum apa nih? Cappucino hangat mau?”
“Ahh, tak usah repot-repot Dik. Kita hanya sebentar saja kok.” Sahut Adit.
    “Sudah tidak apa-apa. Aku malah senang kok kalian main ke rumahku. Menghapus kesepian seketika. Aku juga ingin berbincang-bincang dulu dengan kalian. Kubuatkan cappucino hangat dulu ya!”
Tanpa memperdulikan apa jawaban mereka, langsung kubergegas menuju dapur dan membuat tiga cangkir cappucino hangat. Untuk memastikan enak atau tidaknya, aku hirup saja sedikit. Sluuurp. Mantap!!!
“Hey, ayo diminum dulu cappucino hangatnya”
Dengan cepat mereka menyambar cangkir-cangkir cappucino hangat yang kubuat itu. Sluuurp. Cukup untuk menghangatkan tenggorokan dan melepaskan rasa dahaga seketika.
“Aku jadi teringat saat kita masih SMA dulu Dik”
“Aku juga Dit, kangen sama anak-anak The Rainbow”
“Hahahaha” Kami tertawa bersama.
“Bagaimana ya keadaan mereka sekarang? Keadaan Cinta? Keadaan Hasan? Keadaan Widya? Keadaan Kenzie? Keadaan Amel? Keadaan Fira? Keadaan bang A..a..arya?” Tanya Rangga tentang kabar anak-anak The Rainbow yang tiba-tiba saja tertunduk pada saat menyebut nama bang Arya.
“Ahhh, sudah Ga, lupakan lupakan!” Kata Adit sambil menepuk bahu Rangga. Mungkin Rangga lupa  bahwa bang Arya telah tiada. Karena memang bang Arya adalah kakak kandung Rangga sendiri, yang selalu perhatian dengannya.
“Tadi Kenzie menyapaku di messenger, Senang sekali dia sekarang. Dia baru saja lulus dari program master jurusan MIPA di University College London. Rencananya dia ingin langsung pulang ke Indonesia, tak sabar berjumpa dengan keluarga katanya” Gumamku sekedar memberi kabar.
“Wah, makin sukses saja dia” Ujar Adit.

Bersambung...

32 comments:

Gratis Lima Ribu Rupiah

14.11 Awaldi Rahman 0 Comments

Sumpah, kejadian ini kocak banget buat gua, haha.
Oleh karena itu gua jadiin bahan postingan, haha.

Kejadian ini terjadi pada tanggal 5 Juni malem pas gua mau ke warnet ama pikri abdul azis.

Jadi gini...
sebelum isya gua udah nge rencanain mau ke warnet ama pikri. dari pada bosen di asrama masih sepi banget. akhirnya setelah sholat isya gua jalan dah ama pikri berdua dua an.hahaha. udah gitu gua mutusin buat jalan ke bohlamnya naik ojek. pas di ojek pikri bilang gua.

"di, lu bayarin ongkos pergi, gua pulang, skarang gua lagi kgak ada recehan nih"
"oke dah" jawab gua.
Gua bayar ojek dengan selembar uang 5000 ribuan. dan pass!!haha. abis itu gua naik angkot dah sekali. sambil nunggu nyampe di tempat gua nyiapin duit dulu buat bayar angkot berdua ama pikri. gua ngeluarin slembar duit 5000 bergambar tuanku IMAM BONJOL. hahay.

Pas udah sampe di tempat gua pun turun dan si pikri juga turun dan ada satu orang lagi yang turun di belakang pikri. gua kasih tuh selembar uang 5000 bergambar tuanku imam bonjol nya. seharusnya kan kembali seribu yak. entah tau kenapa atau mungkin abang nya buru buru atau bisa aja karena gelap, abang angkot nya nge balikin lagi 5000 RUPIAH. dengan rincian 2000 nya ada dua, 1000 nya ada satu. hahaha. GRATIS gua naik angkot!!! udah gitu ketawa ketawa gua ama pikri. hahahaha. kocak banget!

0 comments:

Hati Berkata Itu Cemburu

15.57 Awaldi Rahman 4 Comments

Lelah yang kurasa
Menyimpan emosi yang tak kunjung reda 
Batinku menangis
Jiwa dan raga ikut terluka

Aku tak mengerti arti rasa ini
Ku tanyakan pada indahnya langit
Sang langit hanya mampu membisu
Ku tanyakan pada eloknya pelangi
Sang pelangi juga tak menjawab

Sungguh ku tak mengerti
Harus ku bertanya pada siapa lagi
Ku coba tanyakan pada lirih hati dalam diam
Sang hati menjawab
Itulah, cemburu



 Nah, ini puisi buatan gue sendiri nih
Gue buat dengan susah payah
Dari abis isya ampe jam sepuluh malem
Bingung milih katanya
Hampir putus asa
Wajar, baru belajar
  

NASKAH ASLI
  

Hahahaha
Terima kasih kepada:

Yang telah memberikan komentarnya
Dan juga

Yang telah memberi semangat, masukan, dll.


4 comments: