Sepuluh Jiwa Sepuluh Warna (Eps 02)

15.38 Awaldi Rahman 34 Comments


Durasi Baca: 3-4 Menit

     Semasa SMA dulu, memang Kenzie selalu unggul dari anak-anak The Rainbow dan murid lain yang ada di kelas dalam berbagai bidang, baik itu akademik maupun non akademik. Selain itu, dia adalah seorang ketua kelas selama tiga tahun berturut-turut. Dan bagiku dia memang layak mendapatkan predikat lulusan terbaik di SMA.
     Kuambil cangkir cappucino hangatku dan kuteguk satu dua kali.
     “Berbeda sekali nasibnya dengan Fira, dia terancam di berhentikan dari kuliahnya cuma gara-gara masalah biaya saja. Sayang sekali. Padahal saat ini dia sedang menjalani semester terakhir juga seperti kita” Kata Rangga.
     Dengar-dengar sekarang Hasan di Kairo, Widya di Utrecht, Cinta dan Amel di Adelaide” Sahut Adit.
“Wahh, tak di sangka ya, The Rainbow yang waktu SMA di cap sebagai kumpulan anak-anak tengil, jail bin iseng, ternyata bisa menjadi orang yang sukses-sukses seperti sekarang ini” Celetukku membuat kami lagi-lagi tertawa bersama.
     “Taa…tapi bagaimana dengan nasib Fira?” Tanya Rangga.
     “Kita bantu saja dia, kita bantu dengan sedikit uang yang kita punya, lalu kita transfer ke rekeningnya dan beri tahu dia kalau kita sudah beri dia sedikit bantuan buat biaya kuliahnya, kali-kali saja cukup” Jawab Adit lantang.
     “Setuju! Tumben sekali otakmu jalan Dit. Hahahaha” Canda Rangga.
     “Memang ya, dunia ini bagai roda-roda yang berputar secara terus-menerus. Kadang kita diatas, dan kadang kita dibawah. Kehidupan sering sekali menghadirkan kenyataan yang berbeda dengan keinginan yang kita inginkan. Namun kenyataan seperti itulah yang akan mengajarkan kita bahwa didunia ini hanyalah tipuan belaka. Terkadang sesuatu yang terlihat jernih di kasat mata, belum tentu jernih melainkan keruh. Begitu pula yang terlihat keruh, belum tentu juga keruh. Dunia ini tidak sedikit orang yang tenggelam dalam keterpurukan karena tipu dayanya. Padahal, siang yang terang benderangpun akan menjadi malam yang kelam. Bunga-bunga mawar yang merah nan indahpun akan menjadi layu dan menjadi tanah lagi. Ketika kita memandang bulan ,tampaklah wajahnya yang terang benderang berkilau dan bersinar terang benderang, namun pada kenyataannya ia hanyalah bebatuan yang terjal. Tatkala kita memandang senja yang penuh dengan nuansa jingga, tanaman yang nampak seperti permadani begitu memukau dilihat dari kejauhan. Namun ternyata ketika kita mendekat yang tampak hanyalah hutan yang hitam dan gelap.
“Hidup ini butuh proses, tak mungkin kita sukses seperti sekarang ini tanpa adanya proses. Dan masa itu pasti pernah dirasakan oleh semua orang. Aku sangat setuju sekali jika ada pernyataan yang berkata bahwa ‘Dari nothing menjadi something itu butuh kerja keras’. Benar sekali memang.” Kataku panjang lebar.
     “Benar sekali kau Dik, kalau ada yang kaya, pasti ada yang miskin. Kalau ada yang sehat, pasti ada juga yang sakit. Kalau ada yang muda, pasti ada yang tua. Kalau ada maling, pasti ada yang gebukin! Hahahaha” Kata Rangga.
     “Bisa saja kau Ga” Balasku.
     “Ehh, sepertinya hujan diluar sudah mulai reda Ga. Kita pulang yuk!” Ujar Adit. 
     “Oke deh Dit”
     Adit dan Rangga pun langsung bergegas berdiri dan mengambil jas hujannya masing-masing lalu membuka pintu.
     “Dik, Kita pulang dulu ya” Kata Adit.
     “Oke Dit, hati-hati ya kalian” Jawabku.
     “Siiiiip” Balas Adit dan Rangga dengan serempak.
Suasana rumahku kembali sepi sunyi. Sekilas canda dan tawa itu pergi begitu saja. Pertemuan tadi membuatku kembali teringat akan kebersamaan anak-anak The Rainbow saat dulu kala. Senyum, sedih, canda, tawa, suka dan duka kita hadapi bersama-sama. Tak sadar aku baru saja meneteskan air mata saat menatap sebingkai foto ketika kami jalan-jalan bersama.
Sudah menjadi tekadku. Lulus kuliah dengan nilai yang membanggakan, dan langsung pulang menuju kampung Indonesia untuk berjumpa dengan sanak keluarga dan anak-anak The Rainbow tentunya.
Tak sengaja kutemukan buku diary-ku saat mengobrak-abrik meja kerjaku. Sudah penuh dengan debu dan mulai kusam. Cukup lama sudah aku tidak pernah buka lagi diary ini. Yang menyimpan akan sejuta kenangan duka cita ataupun suka cita, manis ataupun pahit di masa-masa SMA. Bukan karena kusibuk atau entahlah itu, karena aku belum siap untuk mengenang cerita-cerita duka yang ada disini. Tapi kali ini akan kucoba beranikan diri, kubuka kembali lembaran hariku di masa SMA lampau.

34 comments:

Memori Terdahulu

22.36 Awaldi Rahman 0 Comments

Kala cahaya bulan bersenandung
Hatiku gundah gulana
Teringat masa lampau
Ketika ku bersamanya

Ketika raganya temani diriku
Ketika senyumnya menyejukkan hatiku
Ketika tawanya memecahkan suasana
Ketika tangisnya mengiris hatiku

Ku ukir memori itu dalam angan
Yang menyimpan akan sejuta kenangan
Nan mudah tuk di ingat
Namun sulit tuk di lupakan
Begitu cepat terlintas di pikirku

Memendam rindu yang mendalam 
Menanti akan datangnya sebuah keajaiban
Tuk berjumpa kembali dengannya

020711
21:00

0 comments:

Sepuluh Jiwa Sepuluh Warna (Eps 01)

01.17 Awaldi Rahman 32 Comments

Source image: Flickr.com

Durasi Baca: 4-4 Menit

Rintihan air itu terus turun perlahan lalu membasahi aspal, rerumputan, tanah, atap-atap gedung dan membungkus seluruh kota Paris menjadi serba basah.  Menyenangkan. Membuat suasana di luar terlihat damai dan tentram. Kota ini seolah diguyur oleh air yang begitu saja dituang dari langit. Ketukan-ketukan halus terdengar dari setiap rintik air yang menyentuh jendela kaca di depanku.
Aku menghela nafas panjang, Pelan jemariku menyentuh permukaan kaca yang berembun. Hawa dingin segera menjalar menyusuri seluk-beluk organisme yang ada  hingga sampailah pada lubuk hati yang paling dalam. Membuat seluruh perasaanku beku tak berdaya. 
            Jalan-jalan yang basah. Rumah-rumah dan bangunan dengan tekstur kebarat-baratan habis disepuh air hujan. Taman-taman yang menjelma bak permadani di taman surga, menampakan sirat air mancur yang cukup indah. Air yang memancar keatas, dan turun lagi ditemani rintik air hujan. Dan, pesona juwita muka gadis-gadis yang berjalan diseberang jalan dengan payung yang beranekaragam warnanya. Membuat kota terlihat lebih indah dengan warna-warninya.
 Sudah tiga jam ini hujan turun tiada henti. Wajar, karena memang sebulan terakhir kota Paris ini tak dihampiri oleh hujan. Pohon-pohon ontario di kanan-kiri jalan yang biasanya rimbun kini tinggal hanya beberapa saja yang dibalut air hujan. Pohon-pohon ontario itu tampak pasrah akan kebesaran Tuhan yang mengatur seluruh alam semesta. Dalam diam pohon itu menyerap air hujan untuk melakukan pertumbuhannya. Angin dingin terus menghembus perlahan dari arah utara ke arah selatan yang diikuti oleh air hujan. Angin itu menerobos pintu rumahku dan menusuk tubuhku hingga pori-pori yang paling dalam. Memakai satu pakain tebal saja tidak cukup bagiku. Apalagi musim dingin nanti. Dingin sekali pastinya. Membutuhkan dua atau tiga pakaian tebal.
Tak jauh, tampak Menara Eiffel, menara besi yang dibangun di Champ de Mars di tepi Sungai Seine di Paris. Menara ini telah menjadi ikon global Perancis dan salah satu struktur terkenal di dunia. Menara tertinggi kelima di Perancis dan paling tinggi di kota Paris ini. Menara yang dirancang oleh insinyur Gustave Eiffel ini konon telah dikunjungi lebih dari dua ratus jiwa sejak pembangunannya pada tahun 1889 dan menjadikannya monumen bertarif yang paling banyak dikunjungi. Menara ini setara dengan bangunan konvensional 81 tingkat. Petir menyambar. Membuatku terhentak kaget.
Rumahku sendiri berada di Barbizon Avenue, desa perancis dimana Sekolah Lukis Barbizon terletak. Jalan yang selalu riuh dengan lalu lalang para pejalan kaki dan lalu lintas mobil. Di seberang jalan berjejer rapih restoran khas makanan Prancis yang besar dan terbilang agak kuno. Lampu jaman dulu, meja dan kursi untuk para pelanggan yang ingin menyajikan hidangan diluar, dan karyawan-karyawan berseragam terlihat jelas dari sini.
Buku-buku tertumpuk beraturan diatas meja. Dan lampu portable yang lupa kunyalakan. Tanganku segera bergerak membuka layar Toshiba Notebook-ku yang berwarna hitam metalik. Sekedar berbincang-bincang lewat aplikasi messenger bersama karibku yang ada di Indonesia. Saling tanya kabar dan bertukar informasi. Untuk melepas jenuh juga.
Tingtungtingtung…bunyi bel pintu terdengar halus. Kuberpikir sejenak, siapa yang datang malam-malam seperti ini, hujan pula. Bergegas kubergerak menuju pintu, kuintip sedikit lewat lubang kecil yang memang dibuat untuk melihat siapa tamu yang datang berkunjung. Tidak terlihat jelas. Dua orang memakai jas hujan berwarna hitam. Lalu kubukakan pintu untuk mereka. Ya, tak salah lagi itu Adit dan Rangga. Mereka adalah teman-teman dekatku saat dibangku SMA.
Adit juga teman satu kampusku di Sorbonne, Universitas paling terkenal di kota Paris. Kami mengambil jurusan yang sama yaitu sastra. Dan saat ini kami tengah menjalani ujian akhir dan mempresentasikan skripsi yang telah kami buat dengan susah payah. Sedangkan Rangga kuliah di Universitas Negeri Paris atau Universite Paris Dauphine. Universitas yang paling terkenal dengan jurusan manajemennya. Dan saat ini Rangga sedang menunggu hasil ujiannya yang akan menentukan lulus atau tidak di program master ini.
“Ayo masuk.”
Adit dan Rangga pun masuk dan sibuk melepas jas hujannya masing-masing. Langsung duduk begitu saja tanpa kupersilahkan. Wajar. Memang itu sifat mereka sejak dulu. Belum berubah hingga sekarang.
“Ada apa kalian main ke rumahku malam-malam begini? Tumben sekali.”
“Haha, kebetulan aku dan Rangga habis dari taman dekat Istana Sceaux Dik. Saat kita dijalan pulang, tiba-tiba saja hujan semakin deras. Kebetulan tak jauh dari sana ada rumah kamu, jadi kita main saja sebentar, sekalian berteduh juga sampai hujan agak reda, hehe”
“Oalah, ada-ada saja kalian.”
Suasana hening sejenak. Hanya Rangga yang sibuk sendiri memakai sweater-nya.
“Ngomong-ngomong ngapain kalian berdua pergi ke taman?” tanyaku memecah keheningan.
“Sekedar cuci mata saja Dik. Daripada aku pergi sendirian, gak ada teman yang bisa diajak ngobrol, aku ajak saja si Rangga.”
“Ohh…oiya, kalian mau minum apa nih? Cappucino hangat mau?”
“Ahh, tak usah repot-repot Dik. Kita hanya sebentar saja kok.” Sahut Adit.
    “Sudah tidak apa-apa. Aku malah senang kok kalian main ke rumahku. Menghapus kesepian seketika. Aku juga ingin berbincang-bincang dulu dengan kalian. Kubuatkan cappucino hangat dulu ya!”
Tanpa memperdulikan apa jawaban mereka, langsung kubergegas menuju dapur dan membuat tiga cangkir cappucino hangat. Untuk memastikan enak atau tidaknya, aku hirup saja sedikit. Sluuurp. Mantap!!!
“Hey, ayo diminum dulu cappucino hangatnya”
Dengan cepat mereka menyambar cangkir-cangkir cappucino hangat yang kubuat itu. Sluuurp. Cukup untuk menghangatkan tenggorokan dan melepaskan rasa dahaga seketika.
“Aku jadi teringat saat kita masih SMA dulu Dik”
“Aku juga Dit, kangen sama anak-anak The Rainbow”
“Hahahaha” Kami tertawa bersama.
“Bagaimana ya keadaan mereka sekarang? Keadaan Cinta? Keadaan Hasan? Keadaan Widya? Keadaan Kenzie? Keadaan Amel? Keadaan Fira? Keadaan bang A..a..arya?” Tanya Rangga tentang kabar anak-anak The Rainbow yang tiba-tiba saja tertunduk pada saat menyebut nama bang Arya.
“Ahhh, sudah Ga, lupakan lupakan!” Kata Adit sambil menepuk bahu Rangga. Mungkin Rangga lupa  bahwa bang Arya telah tiada. Karena memang bang Arya adalah kakak kandung Rangga sendiri, yang selalu perhatian dengannya.
“Tadi Kenzie menyapaku di messenger, Senang sekali dia sekarang. Dia baru saja lulus dari program master jurusan MIPA di University College London. Rencananya dia ingin langsung pulang ke Indonesia, tak sabar berjumpa dengan keluarga katanya” Gumamku sekedar memberi kabar.
“Wah, makin sukses saja dia” Ujar Adit.

Bersambung...

32 comments: