Segurat Senyuman (eps 02)

22.16 Awaldi Rahman 0 Comments

“Mohon bapak dan ibu bisa menerimanya dengan lapang dada dan tetap rendah hati” Kata dokter lembut.
“I…i…iya pak! Kami akan sabar dengan hasil yang telah kami terima”
“Gak mungkin! Gak! Gak! Gak mungkiiiin...Huhuhu...” Sambung Nadia yang kemudian menangis.
Nadia. Istriku, hanya bisa menangis setelah mendengar hasil tes yang di berikan oleh pak dokter. Hasil tes menyatakan bahwa Nadia tidak bisa memiliki anak. Tentunya hasil ini membuat hatinya menjerit sedih. Di sisi lain, mungkin Nadia juga takut kepada mertuanya karena tidak bisa memberikan ia seorang cucu satupun.
“Sudahlah, jangan menangis terus...sebab, dengan menangis tidak dapat merubah segalanya kan?”
“Tapi mas, aku harus bilang apa pada ibu nantinya?!”
“Bilang saja sejujurnya, aku yakin, kalau ibu bisa menerimanya” Kataku meyakinkan dirinya.
“Ta..tapi aku takut mas, aku takut!!!” Cemas Nadia.
“Tenang saja, aku pasti akan membelamu” Kataku sambil memeluknya.

*     *     *     *     *

“Aniiiiis, kemari nak..” Sapa seorang wanita dengan sirat wajah yang penuh dengan kilauan cahaya nan indah.
Aku perhatikan dia dengan amat sangat tertegun. Dari ujung kepala hingga ujung kakinya sangatlah terang. Siapa dia? Apakah malaikat yang hendak mencabut nyawaku? Mau apa? Beribu-ribu pertanyaan begitu saja muncul dalam benak pikiranku. Tetapi, hati kecilku berkata bahwa dia adalah orang yang baik. Memanggilku dengan ramah dan dengan suara yang lembut. Ia juga cantik, bak bidadari-bidadari surga.
“Ha? Siapa? Aku?” Jawabku bingung.
“Iya kamu gadis cantik..” Balasnya lembut.
Aku jalan menghampiri wanita itu. Di kala aku hampir sampai, dia begitu saja pergi meninggalkanku entah ingin kemana.
“Tunggu! Engkau mau kemana?” Tanyaku pada wanita itu.
”Ikutlah denganku...” Balasnya pendek.
Kembali pertanyaan-pertanyaan itu muncul. Hendak kemana aku di ajak? Apa yang ingin dia lakukan kepadaku?. Terus saja aku ikuti kemana dia pergi, menyusuri jalan setapak yang mungkin tiada ujungnya bagiku. Suasana yang indah. Sejuk. Aku merasakan adanya ketenangan disini. Jiwaku kian tentram. Lalu, berhentilah wanita itu pada suatu tempat. Duduklah ia di sebuah bangku panjang. Dan menatapku dengan tatapan yang sungguh indah. Pada bola matanya terdapat siluet cahaya pelangi, seolah-olah memiliki jutaan pesona pada setiap kedip matanya. Rambutnya panjang terurai.
“Aniiis, duduk disini nak..” Minta wanita itu.
 Tanpa berpikir panjang akupun duduk tepat disamping wanita itu. Hening antara aku dan wanita itu. Hanya mampu membisu seribu kata. Terdengar jelas deras aliran sungainya. Juga kicauan burung-burung yang merdu.
“Sebelumnya, apakah Anis pernah pernah ke tempat ini?” Tanya wanita itu membuka percakapan.
“Belum” Jawabku yang kemudian menatap alam sekitar.
“Belum pernah?” Tanyanya sekali lagi.
“Belum” Jawabku meyakinkannya.
“Anis mau tau?”
“Mau...”
“Sekarang, Anis sedang berada di sebuah tempat yang paling indah. Taman surga.”
“Surga? Apa itu?”
“Kelak kau akan mengetahuinya sendiri nak..”
Suasana hening kembali. Kutatap wanita itu jelas. Wanita itupun menatapku juga.
“Aku tau kalau dirimu sedang sedih, hatimu sedang menangis. Karena itu aku mengajakmu kesini.”
“Dari mana engkau tau?” Balasku.
“Aku juga tau jikalau Anis sedang merasa sedih, Anis selalu menyendiri di pekarangan panti. Duduk menyendiri. Jikalau sepertiga malam tiba, Anis selalu bangun dan mengadu kepada-Nya.”
“Dari mana kau mengetahui semua itu?”
“Dari sini...” Jawab wanita itu sambil menunjuk ke arah dimana hati berada.
“Percayalah Anis, suatu saat nanti, dirimu akan menemukan arti kebahagian. Suatu saat nanti, dirimu akan mendapatkan apa yang kamu inginkan selama ini.” Sambung wanita itu.
Tiba-tiba saja wanita itu memelukku erat. Cukup lama. Tidak tau kenapa, aku merasa nyaman dalam pelukannya. Dan terus ingin dalam pelukannya sampai kapanpun.
“Boleh aku bertanya?” Tanyaku pada wanita itu.
“Kamu ingin bertanya apa padaku? Tanyalah..” Jawabnya.
“Siapa engkau? Apakah kau malaikat? Mengapa kau begitu baik sekali padaku?”
Wanita itu melepaskan pelukannya. Lalu, berdiri dan berjalan menuju tepi sungai. Aku ikuti wanita itu dan berdiri disampingnya. Kulihat, wanita itu memandang ke arah air sungai yang begitu putih. Seperti air susu. Sangat putih air itu.
“Sungguh kamu ingin mengetahui siapa diriku nak?” Tanya wanita itu.
“Ya, aku ingin tau siapa dirimu..”
“Percayakah jika aku menjawab aku adalah bundamu?”
“.........” Aku tidak mampu berkata apapun.
“Percayakah Anis? Aku ini bundamu nak..”
“hm..percaya..” Jawabku agak ragu.
“Ayah dimana bun?” Tanyaku.
“Dia sedang sibuk di dalam. Mugkin, suatu saat nanti ia akan menemuimu juga.” Jawab bunda yang kemudian kembali memelukku. Setelah itu, kami bermain bersama. Lari-larian di tepi sungai. Tertawa gembira.
BYUUURRRRR!!!
Anis yang tiba-tiba saja terpeleset jatuh ke sungai.
BYUUURRRRR!!!
“Bangun!!” Bentak ibu panti.
Aku bangun dengan wajah yang masih ngantuk. Mengusap kedua mata. Dan melihat ke segala arah. Hanya ada ibu panti. Dimana bunda? Kemana dia pergi?.
“Heiiheii, sedang mencari apa kamu?”
“Tidak” Jawabku sambil menggeleng-geleng.
Begitu menyenangkan ketika aku bermain bersama bunda. Walaupun hanya sekejap. Tertawa bersama. Namun, itu semua hanya dalam mimpiku saja. Bukan di dunia nyata. Padahal, aku sangat senang sekali jika bunda dan ayah ada disini. Bersamaku.
“Ayo bangun, nanti kamu akan kedatangan orang tua barumu..”
“Ha?!” Jawabku kaget.
“Kenapa? Kamu tidak mau mendapatkan orang tua baru?”
“Tidak bu, aku mau sekali..”

*     *     *     *     *

“Apaa?!” Kaget ibu.
“Sudahlah bu, jangan marah pada Nadia, kasihan dia..”
“Sungguh mengecewakan..”
“Ibu! Hentikan! jangan begitu pada Nadia!” Ikut ayah.
Nadia hanya bisa menangis sedih. Ia tidak sanggup berkata lagi.  Ibu dan ayahpun beranjak pergi pulang. Tanpa berpamit.
“Apa aku bilang, pasti ibu tidak akan menerimanya mas...” Kata Nadia sambil menagis tersedu.
“Iyaiya...Sudahlah, anggap semua itu angin lalu”
“hmm..aku punya ide!” Sambungnya.
“Apa itu mas?” Tanyanya penasaran.
“Sebelumnya, kamu hapus dulu air mata yang ada di pipimu”
“Baiklah, sudah”
“Bagaimana kalau kita mengadopsi anak saja dari panti?”
“Apa kamu yakin mas, ibu akan suka?”
“Aku yakin, cepat atau lambat, ibu akan menyukainya.”
“Bagaimana kalau sekarang saja mas kita ke panti!” Kata Nadia penuh semangat.
“Sekarang? Baiik...” Jawabku yang ingin membuat Nadia terlihat lebih senang dari sebelumnya.

*     *     *     *     *

“Aniis mau pamit sama teman-teman dulu?”
“Mauu..”
Tanpa banyak bicara Anis langsung berpamitan pada teman-temannya. Teman akrab. Anak-anak panti lainnya hanya melihat dari belakang. Selanjutnya, ibu panti. Meskipun ia suka marah, aku tahu, marah itu karena ia begitu sayang padaku. Selesai berpamitan, aku pun menaiki mobil orang tua baruku.
Mobil sudah mulai meninggalkan panti. Perlahan, gerbang panti tidak terlihat lagi. Sedih, walaupun inilah yang aku inginkan. Semua kisah masa kecilku masih tertinggal di panti itu. Lala, teman baikku. Aku tau saat ini pasti ia sangat sedih dengan kepergianku.
“Aniis pasti sedih ya meninggalkan teman-teman di panti?”
“Iya tante..” Jawab Anis.
“Anis bisa kok, mengajak teman-teman panti ke rumah kapan-kapan, itu juga kalu Anis mauu..”
“Mau banget tante..” Jawab Anis semangat.
“Kok masih tante aja siih, pokoknya, mulai sekarang Anis manggilnya bunda aja ya..”
“Iya tante..eh, bundaa” Kata Anis yang membuat kami tertawa bersama.
“Nah, kalo yang sedang menyetir itu ayah”
“Ohh..”
“Haloo ayah...” Kata Anis.
“Haloo Aniiis..”
Tidak terasa candaan di mobil telah menghantarkan kami sampai hingga ke rumah. Selamat. Rumah yang sederhana. Tidak terlalu besar, melainkan biasa-biasa saja. Cat putih yang mulai terkotori oleh noda-noda kecil. Lampu taman yang lupa di matikan.
Agenda untuk sekarang ini hanyalah mempersiapkan kamar untuk Anis. Sibuk menata, sibuk menyapu, sibuk mengecat. Semua sibuk pada tugasnya masing-masing. Membuat tubuh capek dan lemas.
Hingga sore pun tiba, ibu datang kembali. Awalnya ibu tidak menyadari keberadaan Anis di rumah ini. Tetapi ketika Nadia memanggil Anis, wajah ibu langsung berubah bingung.
“Aniis? Siapa itu?”
“Aniis, ayo salam dulu sama nenek..” Kata Nadia.
Ketika Anis hendak memegang tangan nenek untuk mencium tangannya, nenek pun membuang tangan Anis keras.
“Cucuu?! Tidak! Aku tidak akan menganggapmu sebagai cucuku!”
“Ibu! Jangan begitu bu! Sudah kita pulang saja, daripada mengganggu kesenangan keluarga mereka.” Kata ayah membela.
Ibu memang tidak jelas. Selalu saja begitu. Datang, lalu pulang.
Pukul 00:00...
Bunda jatuh sakit. Badannya panas, dan tidak mau di bawa ke dokter. Ia hanya ingin di rawat di rumah saja. Menurut dokter, bunda hanya sakit biasa. Ia hanya terlalu capek saja, dan membutuhkan waktu untuk istirahat seharian penuh. Dan makan yang cukup tentunya.
Esok harinya...
Ibu kembali datang. Tetapi kali ini ia tidak membuat kegaduhan di rumah. Hanya saja, ibu tidak mau berbicara atau bertemu pada Anis. Ia menjaga jarak. Dan masih belum bisa mengakui bahwa Anis adalah cucu angkatnya.
Anis sendiri sedang menjaga bunda. Menyiapkan makan dan minum untuk bunda. Menyiapkan segalanya.
“Bunda sakit apa sih?” Tanya Anis.
“Hanya sakit biasa Aniis..” Jawab bunda lemah.
“Semoga cepat sembuh ya bundaa..” Kata Anis dengan melempar senyuman manis.
“Iya sayang..”
Tidak di sadari oleh Anis ataupun Nadia kalau ibu mengintip kejadian itu. Tiba-tiba saja rasa ibu kepada Anis sedikit demi sedikit berubah. Menjadi lebih tenang dari sebelumnya.
Dan ketika Anis sedang melakukan sholat yang kemudian diiringi dengan doa. Ibu juga mengintip lagi. Disinilah semua itu berubah sudah. Bunga layu itu kini tumbuh mekar. Rasa kesal itu kini hilang sudah.
“Aniiiiiss” Panggil nenek.
Anis pun bergegas memenuhi panggilan nenek. Agak ragu memang. Tetapi, perlahan tapi pasti Anis menuju nenek.
“Aniis, maafin nenek ya..” Kata nenek yang kemudian meneteskan air mata.
“Sebelum nenek minta maaf juga udah Anis maafin kok nek..” Jawab Anis tulus.
Hingga akhirnya sebuah berita gembira datang, bahwa Nadia sedang mengandung anak. Tentunya itu merupakan berita gembira buat ibu. Dan juga Anis yang sebentar lagi akan mempunyai adik.
Begitulah kehidupan Anis. Penuh akan cobaan hidup yang mendera hidupnya. Tetapi ia terus menjalaninya dengan tenang. Segurat senyuman,  itulah yang mengalahkan semuanya. Hidup terasa lebih indah jika disertai dengan senyuman. Ia akan mengisi relung hati yang hampa. Mengusik jiwa yang sedih.
Pada akhirnya mereka semua berbahagia...


-0-TAMAT-0-

0 komentar: