Potret Kehidupan

10.28 Awaldi Rahman 29 Comments

Source: Google Images

Durasi Baca: 3-4 Menit

Sempurna sudah mentari duduki singgasananya. Menyinari alam semesta ini begitu terik, menyarukan. Sinarnya memantul pada telaga bening dengan menawarkan kilau keemasan, juga membuat mata elok. Secercah awan menemaninya dengan senyum sendiri. Desir angin berbisik bersama alunan berita langit membawa sepotong episode kehidupan.
Terlihat seribu gembel yang sedang berdansa ria di jalanan yang ditemani dengan simfoni nyanyian hati. Dengan tergopoh, menyusuri jalan, mengais bersama sampah, bau busuk karibnya. Mandi keringat, banting tulang merupakan hal lumrah yang mereka lakukan, meskipun hanya untuk bertahan hidup. Tidak bertahan lama, sebagian dari mereka terbuang dan menyisakan sebagian yang lain. Begitu mudah tersingkirkan.

Di pertigaan jalan sana, seorang gembel dengan pakaiannya yang lusuh, muka kusam, dan bau badan, sedang berusaha untuk menjumpai takdirnya. Ia bernama Lubit, gambaran sampah jalanan yang mengais derita. Di kala lampu berwarna merah, ia tempelkan wajahnya pada kilat kaca mobil sembari berkata: “Tuan, berikan hamba beberapa keping untuk makan”. Diabaikan, ia berpindah ke kaca mobil yang lain. Begitu selanjutnya, ketika lampu berwarna merah, ia bergelut ke jalanan, dan ketika lampu berwarna hijau, dengan tergesa ia menghindar dari lindasan roda-roda mobil penghantar maut itu.

Di pertigaan jalan yang lain, Hendar. Gembel yang terlepas dari takdirnya. Gembel yang hampir kehilangan arah. Bermodalkan botol plastik yang berisikan beras, ia dendangkan melodi indah dari lubuk hati terdalam. Mengharap simpati mereka.

Orang Pinggiran, Oh…

Di terik mentari…

Di jalan becek…

Menyanyi dan menari…

Srek srek,

Lagu merduku, teralun indah untukmu.

Di pengkolan sana, merupakan tempat kami bertukar keringat, bertukar rasa peluh.

“Hei, dapat berapa perak kau, Bit?”

“Tidak seperak pun, yang kudapat malah cacian-cacian yang menusuk hati. Sakit sekali hatiku ini”

“Ah kau ini, seperti anak kecil saja. Sudah berapa lama kau tinggal di jalanan? Sabarlah, asal kau tahu, hal-hal yang menyakitkanlah yang membuat kita semakin dewasa. Jika kau tidak sabar, itu tandanya kau menolak atas pendewasaan pada dirimu. Atau mungkin kau salah memaknainya? Berilah makna baru untuk hal itu, dengan begitu kau pasti akan terbiasa”

“Astaga, sejak kapan kau bijak seperti ini? Haha”

“Sial kau!”

“Tetapi, benar juga sih, Dar. Aku harus lebih sabar lagi ke depannya”

“Nah! Begitu dong…”

Mereka pun kembali ke dalam lingkaran dengan penuh asa. Kembali lagi merangkak, menjerit, berteriak, dan berputar-putar. Setelah kemudian rasa peluh itu datang kembali nanti, mereka merapat ke pinggiran lagi. Pulang.

Kala senja menyingsing, dan mentari mulai sirna. Senantiasa menghadirkan nuansa jingga di tepi barat. Jingga yang menyisakan isak tangis dalam hati. Hembusan angin yang menyelinapkan berjuta rasa dalam jiwa. Di senja yang teduh, seteduh tatapan mata seorang ayah pada keluarganya tercinta.

-x-X-x-

Sayup-sayup suara azan maghrib saling sahut-menyahut. Hanya sekejap, serdadu gamis putih menyerbu masjid-masjid setempat. Di bagian lain, orang-orang berbondong-bondong keluar dari pabrik untuk pulang setelah seharian membanting tulang. Bagian lainnya lagi, seorang bayi sedang menangis meminta manja dari bundanya. Tetapi disini, gembel-gembel itu membisu. Sunyi. Raganya berbaring, tetapi angan ingin sekali meraih mimpi. Mimpi yang masih menjadi bagian cerita di esok hari.

Langit-langitlah yang menjadi saksi bisu atas semua yang terjadi pada kehidupan yang fana ini. Akhirnya Lubit pun tiba di istananya. Hanya sebuah istana yang beratapkan langit, dan bersekatkan kardus-kardus bekas. Ia yang pulang dengan tangan hampa, mendapati istrinya yang sedang terlelap tidur, Nadia. Ia menangis seketika, menjeritlah hati ini. Jeritan yang penuh dengan penyesalan. Lalu ia berdoa pada Tuhan.

Wahai Tuhan,

Telah sampailah aku di malam-Mu.

Setelah usang kubertebaran di bumi kala siang-Mu.

Laksana angin yang menerpa embun, jatuh jernih terisap tanah.

Terasa letih diriku ini berjalan.

Berlapis debu tubuhku perlahan.

Pudarnya senja berikanku teguran.

Untuk  bersujud angankan ampunan.

Wahai Tuhan,

Tahukah kau apa yang sesungguhnya hari ini terjadi?

Lihatkah kau apa yang tubuh ini kerjai?

Sungguh amat terasa diri ini merugi.

Wahai Tuhan,

Aku belum dapat bahagiakan orang tercinta.

Aku belum sempat untuk bawakan mereka gembira.

Aku hanya mampu beri mereka potongan-potongan elegi.

Wahai Tuhan,

Atas kuasa-Mu ampuni siang kami tadi.

Mungkin tuhan tidak akan menjawab. Mungkin ia tidak membutuhkan jawaban atas itu. Sudah berulang kali ia berharap, hatinya menjerit. Namun, kata-kata itu bagaikan tidak memiliki makna bagi-Nya.

Lubit pun duduk di pelataran sandaran pohon jati yang mewangi, tempatnya menanam harapan-harapannya yang berharap itu akan terjadi. Sejenak bersandar, sekedar pelipur lara, sejenak. Akhirnya badannya tergolek lemah, bertikarkan debu halus yang melekat erat pada tanah. Hati kecilnya berkata: “Malam, izinkan aku terlelap sebentar. Aku berjanji akan berjumpa lagi dengan pagi. Ia ingin sekali menitip secarik pesan untukmu, tentang dilema hidup yang masih menjadi teka-teki misterius. Mencarimu, melaluiku”.

Pada malam itu, rembulan lupa untuk memberikan pelitanya. Desir angin pun enggan berbisik menyapa daun. Akar sunyi, menjalar dan berkelabat. Semesta seolah-olah tidak berputar pada malam itu.

Lihatlah! Di pertigaan jalan kelok itu, bocah perempuan cantik nan hijau bagaikan rerumputan di pegunungan yang gersang, masih setia menanti senyum tuan dan nyonya berbalas ramah. Malam yang kelam mengajarkannya untuk memberikan rona senyuman menggelitik.

Pinta-pinta bocah itu pada siapa saja yang iba kepadanya. Pada jalanan, ia menari dan juga bernyanyi menggoda hati. Berharap satu atau barangkali dua perak lebih.

Di relung malam, bocah itu tersenyum. Malaikat-malaikat penjaga menatapnya dari langit. Berbisik halus hingga terdengar sampai di lubuk hatinya: “Tidurlah, sayang, tidur. Biarkan mimpi indahmu bercerita lagi di esok hari”.

Berita langit telah bersua pada hari itu, terangkai istimewa dalam untaian cerita yang tercuri entah oleh siapa. Mengisahkan tentang aku, dia, dan mereka.

29 komentar:

  1. Balasan
    1. Maaf saya lupa menyantumkan sumber hehe.
      Foto tersebut saya ambil dari google images lalu saya kolase sendiri.

      Hapus
  2. Tata bahasanya keren banget Mas...

    BalasHapus
  3. Tulisannya nyastra banget. :) BTW, maaf komentar yang di blogku barusan kehapus. :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih.
      Hehehe tak apa-apa, Mbak.

      Hapus
  4. "Melancholy with a brink of Phlegmatic"nya terasa banget di artikel yg ini.. hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waduh, bisa saja nih mas Umar mengaitkannya sampai ke sana hehe.

      Hapus
  5. Bagus ni artikelnya mas Awal, menceritakan orang pinggiran dengan bahasa dan sudut pandang yang berbeda :)

    Mengapa Hendar tidak mengajak Lubit untuk ngamen saja, biarpun belum tentu diberi tapi tidak dimaki-maki hihi :)

    BalasHapus
  6. Terima kasih, Mbak :)

    Wah ide bagus tuh, Mbak. Bisa jadi boyband jalanan baru nantinya mereka ya hehehe.

    BalasHapus
  7. bagus banget bahasanya..
    bahkan dari sini aku nmbah kosa kata baru, terus nyari di kbbi

    Keren :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Asik, ada manfaatnya juga ya berarti kak hehe.
      Terima kasih ^^

      Hapus
  8. Bagus banget.. Keren deh ceritanya.. Btw ini nyata atau fiksi?

    BalasHapus
  9. Bagus banget.. Keren deh ceritanya.. Btw ini nyata atau fiksi?

    BalasHapus
  10. Tulisannya bagusss, cuma kalo menurut saya pribadi agak boros dalam hal penggunaan kata.


    but it's a Nice post!. Keep blogging, Salam kenalll!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih ya masukanya. Salam kenal juga.

      Hapus
  11. Dari semua tulisan udah bagus banget, beda jauh dengan tulisan saya, oh ya untuk kata "gembel" sepertinya harus diperhalus lagi ya,,

    salam kenal ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah, merendahnya bisa aja nih bang haha.
      Terima kasih atas masukannya ya. Salam kenal juga.

      Hapus
  12. bahasanya ngena bgt. tulisannya juga udah menarik bgt, tapi pas di kata sebutan "gembel" sepertinya bisa di perhalus lagi hehe

    salam kenal yah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih ya, baik apresiasi maupun masukannya. Salam kenal juga.

      Hapus
  13. Tjakep diksi-diksi kamu, Di. Aku minta izin untuk menambah kosa kata aku lewat tulisan ini ya.

    Pesannya juga tersampaikan. Begitu kejamnya jalanan, susahnya mencari bahagia bagi mereka orang-orang yang tak seberuntung kita, cueknya orang-orang yang lebih mampu daripada mereka. Jujur, gue sedih baca tulisan ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, Mas. Silakan hehehe.

      Wah alhamdulillah banget kalau masih ada yang bisa dapat pesan tersiratnya :D

      Hapus
  14. bacanya asyik. Menarik nih pembahasannya. Pemilihan kata-katanya keren bang. Ditingkatkan... sukses ya...

    BalasHapus
  15. dalem juga bro topiknya... anak jalanan.. orang pinggiran..
    tapi, berhubung gue bacanya nggak bisa cepet.. kayaknya durasi 3-4 menit itu nggak berlaku untuk gue men :")

    BalasHapus
  16. bang apakah gak terlalu berkonotasi kasar(negative) itu kata gembelnya? soalnya saya baperan bang orangnya denger kata gitu aja sedikit kasian sama orang yang aslinya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha pada awalnya saya memilih kata gembel itu biar menggambarkan kerasnya dunia jalanan aja sih, Bang. Terima kasih ya atas sarannya! :)

      Hapus