Baca Buku Yuk Biar Menawan!

14.15 Awaldi Rahman 89 Comments


Durasi Baca: 10-10 Menit

Assalamualaikum and Hello people!
Mungkin dengan mengawali tulisan kali ini dengan sebuah pertanyaan akan menjadi jawaban mengapa tulisan ini terlahir. Pertanyaannya, menurut kalian apa definisi dari ‘menawan’? Apakah dengan memiliki tampang ganteng dan cantik jelita? Apakah harus berpenampilan elok bak seorang pangeran? Atau, memiliki rona senyum indah ala Raisa?
Memang, anggapan itu enggak ada salahnya apabila hal-hal tersebut yang menjadi parameter sebuah penilaian terhadap menawan atau tidaknya seseorang. Tetapi, pada tulisan kali ini saya ingin mengulas lebih dalam lagi yang lebih menawan daripada tampang, tampilan, dan senyuman.
Sebutlah ia buku.

Nah, berikut ini ada lima manfaat baca buku yang dikemukakan oleh Raphael Lysander.
1.    Membaca dan Kesehatan.
Ternyata, membaca hanya dalam kurun waktu enam menit pertama saja itu sudah memiliki dampak yang baik bagi kesehatan tubuh kita, seperti membuat detak jantung kita bekerja normal, meregangkan otot-otot yang tegang, menenangkan pikiran, serta mengurangi rasa stress yang melekat saat itu. Selain itu, dengan membaca buku pun membuat kita lebih sehat 54 persen berbanding 44 persen daripada mereka yang enggak gemar membaca buku.
2.    Membaca dan Otak.
Apa kaitannya membaca dengan kemampuan otak kita? Banyak sekali kaitannya, seperti otak akan menyimpan lebih banyak lagi kosakata baru yang menjadikan perbendaharaan kata kita semakin banyak, stimulan memori yang efektif, kemampuan akan analisis dan fokus kita terhadap sesuatu meningkat, kemampuan komunikasi yang lebih baik, serta risiko demensia lebih rendah.
Nah, demensia atau yang lebih dikenal sebagai alzheimer ini dapat menyebabkan berkurangnya kemampuan otak kita dalam berpikir, mengingat, juga mengkoordinasikan berbagai macam aktivitas. Duh, saya sih enggak mau deh mengidap alzheimer, kalian juga jangan sampai deh ya. Masih enggak mau baca buku? Eits, masih ada manfaat selanjutnya nih. Lanjut yuk!
3.    Membaca dan Kesuksesan.
Berdasarkan studi pustakanya Raphael Lysander ini, orang yang suka baca buku itu lebih melek huruf sehingga besar kemungkinan mereka akan dipekerjakan sekaligus mendapatkan upah yang lebih tinggi.
Tentu saja buku bisa menjadi guidebook buat kita dalam banyak hal. Pernah membaca buku Studentpreneur Guidebook-nya Arry Rahmawan yang mengupas bagaimana cara menjadi mahasiswa sekaligus pengusaha? Atau pernah baca novel Aku, Kau, dan Sepucuk Angpau Merah-nya Tere Liye yang di sana terdapat Borno sebagai tokoh utama sedang belajar tentang mengemudikan sepit lewat sebuah buku guidebook mesin? Saya sih pernah, dong! Suka banget sama kedua buku itu. Rekomendasi untuk dibaca deh!
4.    Membaca dan Anak-anak.
Dalam dunia seorang anak, membaca tentu dapat mempengaruhi wawasannya secara signifikan seperti membentuk kepribadiannya, menemukan identitas budayanya, meningkatkan kepekaan anak terhadap seni dan keindahan hingga menjadikan salah satu cara efektif untuk memanfaatkan perubahan sosial di sekitar.
5.    Membaca dan Lainnya.
Selain keempat manfaat yang telah dipaparkan tadi, memiliki kegemaran membaca ternyata juga berdampak pada hal lainnya seperti kita menjadi lebih berempati terhadap sesama. Dengan begitu, mudah bagi kita untuk memahami perasaan serta pikiran orang lain.

Tentu masih banyak sederet manfaat yang bisa dipetik dari membaca buku. Gimana? Masih mikir-mikir untuk mau baca buku? Atau jangan-jangan kita sudah menjadi bagian dari mereka yang candu akan buku? Berikut ini ada sedikitnya lima tanda yang menjadi indikasi bahwa kita seorang pecandu buku atau bukan. Mari kita cek. Markicek!
1.      Semakin tebal, semakin bagus.
Tanda yang pertama adalah jika sebuah buku semakin tebal wujudnya, maka sempurna sudah buku tersebut buat kita jadi melting ingin segera memilikinya dan ingin cepat-cepat bisa menyelesaikannya. Biasanya, tebal-tebal gini mah idaman para kaum wanita nih, tebal dompetnya maksudnya.

Semakin tebal, semakin bagus.

2.    Buku yang jadi juaranya.
Pada zaman sekarang ini, seringkali kita dikejutkan dengan beberapa hal heboh yang menggemparkan media massa dan dunia maya. Mau lagi heboh booming film ini, heboh menariknya game itu, heboh kasus si anu. Juaranya, tetap buku dong pastinya.

Buku yang jadi juaranya.

3.    Rasanya bak kehilangan seorang kekasih ketika sudah selesai baca sebuah buku.
Mula-mula jatuh cinta sama cover bukunya. Langsung dibeli. Pas dibaca, eh jatuh cinta sama isinya. Pertengahan buku, masih aman. Udah mau akhir-akhir, mulai panik. Udah habis halamannya, sedih deh. Padahal ceritanya lagi klimaks-klimaksnya. Ibarat menjalin hubungan dengan kekasih, lagi sayang-sayangnya, eh diputusin. Pasti sedih kan ya. Sekian.

Rasanya itu seperti kehilangan kekasih. Hiks.

4.    Membawa amunisi ketika liburan.
Musim liburan pasti salah satu hal yang sangat dinanti-nanti nih bagi semua orang. Ketika sudah tiba waktu liburan, tak peduli akan berlibur kemana, berapa lama, dan sama siapa. Amunisi yang satu ini wajib kudu mesti dibawa bagi pecandu buku.  Eits, amunisi yang dibawa bukan bom kok, santai.
 
Amunisi liburan panjang.
5.    Terlelap tidur bersamanya.
Sekuat apapun mata memaksakan untuk membaca, kalau rasa kantuk lebih kuat menyerang pasti akan berujung pada ketiduran. Bobo cantik kalau kekiniannya. Bedanya, bobo cantiknya pecandu buku itu masih sambil menggenggam buku.
 
Lagi bobo cantik ceritanya.
Dari lima tanda-tanda tadi, ada yang merasa nyerempet di salah satu poinnya kah? Atau malah di setiap poinnya merasa? Kalau begitu, selamat kamu seorang book addict yang telah lama dicari! Jadi, kapan aku bisa ke rumah? (loh?)

Lima manfaat baca buku, udah. Lima tanda-tanda pecandu buku, udah. Apa selanjutnya? Okay, berikut ini adalah lima jawaban untuk-mu, Stiletto Book.
1.    Kapan mulai suka baca?
Sejak kecil saya sudah ditanami minat baca oleh Papi, seorang mentor terbaik dalam hidup saya. Biasanya, kalau mau pergi ke mall bareng sekeluarga, saya dan Papi pasti nongkrongnya di toko buku sedangkan adik dan Mami saya asik berbelanja bulanan. Mungkin kebiasaan saya dalam membaca buku ini turun-temurun dari Papi yang suka koleksi beraneka ragam buku bacaan. Omong-omong soal koleksi, saya dan Papi memliki tempat favorit untuk menyimpan buku-buku. Tempat itu dinamakan “Pojok Buku.” Ya, meskipun hanya sekadar rak sederhana tapi lumayanlah untuk menyimpan sekaligus menjaga kelayakan buku-buku yang ada.
2.    Apa genre buku yang biasa dibaca?
Rasanya, saya tidak begitu terlalu pilih-pilih dalam membaca buku. Saya setuju sekali dengan pepatah yang mengatakan bahwa buku adalah jendela dunia. Karena membaca itu sendiri adalah ruang imajinasi yang dibagikan oleh penulis kepada kita. Buku yang dengan berbagai macam genrenya memiliki cara unik tersendiri untuk memberikan pengalaman imajinatif kepada pembacanya, baik dalam bentuk penjelajahannya hingga pengetahuan baru yang akan didapat. Mulai dari buku bertajuk ‘how to’, pengembangan diri, novel teenlit, ensiklopedia, agama, romance hingga komedi, saya yakin pasti ada pelajaran tersirat yang disampaikan secara tidak langsung oleh penulis.
3.    Berapa budgetmu dalam sebulan untuk membeli buku?
Berbicara mengenai budget sepertinya saya tak memiliki nominal tetap per bulannya. Kalau ada rezeki berlebih hasil dari sisihan uang jajan, saya pergunakan untuk membeli buku. Kalau tidak ada, meminjam buku teman mungkin alternatif yang tepat. Kenapa tidak? Terlepas dari beli atau pinjam, esensi dari sebuah buku itu tetap ilmunya, bukan?
Ohiya, ada yang sudah baca buku Blogging: Have Fun and Get The Money-nya Mbak Carolina Ratri yang diterbitkan oleh Stiletto Book? Kalau saya sih, udah dong! Bermanfaat sekali kiat-kiat yang ditawarkan dalam urusan mengurus blog oleh Mbak Carolina ini.
 
Saya bersama buku Blogging: Have Fun and Get The Money dan Pojok Buku.
4.    Kenapa minat baca masyarakat Indonesia terbilang rendah?
Memang, survei dari UNESCO menunjukkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia berada pada urutan 38 dari 39 negara yang paling rendah di kancah ASEAN. Sungguh ironis ya, tahu akan fakta tersebut. Itupun pembacanya kaum wanita kebanyakan. Kalau di Indonesia, kini ada Stiletto Book sebagai Penerbit Buku Perempuan yang telah berusia lima tahun. Harapannya, lahir juga penerbit bagi pria atau bahkan penerbit umum lainnya.
Pernah nonton Kick Andy? Suatu kesempatan, Andy F Noya, selaku pembawa acaranya pernah angkat bicara mengenai rendahnya minat baca masyarakat Indonesia. Ia menjelaskan semua itu karena terbatasnya jangkauan yang bisa mendongkrak minat mereka terhadap baca. Akses buku-buku berkualitas yang terbilang cukup mahal maupun akses buku di sekolah. Terlebih lagi bagi mereka yang hidup di daerah yang jauh dari kota sehingga menimbulkan dampak negatif akan minat baca pada masyarakat.
 
Beberapa orang lebih memilih baca di tempat daripada harus membeli.
Tampak wajah disamarkan, takut ada yang naksir.
Suatu kesempatan saya pernah berdiskusi dengan salah seorang teman mengenai rendahnya minat baca. Menurut kami, sebenarnya enggak sepenuhnya juga bisa dibilang rendah akan minat baca. Perkembangan zaman menuntut teknologi berkembang dengan begitu pesatnya sehingga kita hidup menjadi lebih kekinian. Begitu juga dengan dunia baca-membaca. Merasakan enggak, kalau kita mengalami transformasi platform baca menjadi ke e-book? Nah, bisa jadi hal itulah yang seolah-olah mengurangi minat baca buku di masyarakat. Ya, meskipun pendapat itu terlahir dari obrolan kecil kami, tapi berbeda pendapat itu tidak dilarang, bukan? Hehe.
5.    Bagaimana saranmu untuk pemerintah?
Sejujurnya, saya pribadi kurang tahu betul dalam perihal minat baca ini menjadi prioritas nomor berapa bagi pemerintah, utama atau ditempatkan pada urutan kesekian. Tetapi, sebagai mahasiswa yang merupakan salah satu elemen dari masyarakat, rasanya saya juga berhak untuk mengemukakan pendapat sekaligus saran saya terhadap pemerintah.
Sejatinya, minat itu tidak terlahir bersamaan dengan raga kita, tetapi tumbuh kembang bersamaan dengan bertambah usianya juga faktor lingkungan setempat.
“Gue kan gak hobi baca.”
“Ogah deh, tebel banget itu bukunya.”
“Ga usah maksa juga kali kalo ga minat.”
Mungkin statement seperti itu banyak kita dengar dari beberapa teman sejawat. Memang tak ada salahnya mereka enggan untuk membaca dan tidak bisa seenaknya memaksa mereka juga. Tetapi, apakah pernah kalian membaca kalimat ini, “Semakin tinggi minat baca seseorang, ia telah turut membuat peradaban menjadi lebih maju.” Pernah? Ya, minat baca itu juga berbicara mengenai kepribadian bangsa Indonesia. Tentu suatu bangsa bisa dikatakan hebat hanya dilihat dari minat bacanya. Bagaimana mungkin negara ini maju apabila masyarakatnya lebih suka bermalas-malasan? Nahloh.
Menurut saya, di sini pemerintah memiliki peran yang cukup besar tentang peningkatan minat baca masyarakat. Secara pemerintah memiliki kekuatan dalam support bentuk materil, maka dengan memasok buku lalu didistribusikan ke seluruh perpustakaan yang ada di Indonesia merupakan salah satu cara efektif untuk meningkatkan animo masyarakat terhadap membaca. Selain itu, memberikan apresiasi kepada orang-orang yang berkecimpung di dunia kepustakaan dan dunia penulisan juga perlu guna memberikan dukungan secara tidak langsung agar minat baca ini terus berkembang dan tetap hidup.
Memang tak hanya pemerintah yang punya peran, setiap pribadi kita pun punya porsi dalam memenuhi hak dan kewajiban untuk berpartisipasi secara tidak langsung. Misalnya, peran orang tua buat menanamkan gemar baca pada anaknya –seperti yang dilakukan Papi saya. Begitu juga dengan pelajar, bisa ikut berkontribusi untuk mempengaruhi lingkungan di sekitarnya seperti mengadakan event bedah buku atau membangun sebuah komunitas baca.

Pada akhirnya, membaca adalah salah satu kunci pembuka segala ilmu. “Semakin banyak buku yang dibaca, semakin banyak hal yang dipelajari, semakin sadarlah bahwa ilmu yang kita miliki ini sangatlah sedikit.” Happy long-life learning by reading! Baca buku yuk biar menawan! J

-0-0-0-


Muhammad Awaldi Rahman
Facebook: Awaldi Rahman
Twitter: @awaldi
Instagram: awaldirahman
Email: muhammadawaldirahman@gmail.com

89 comments:

#ProsaSelasa: Tentang Waktu

13.44 Awaldi Rahman 48 Comments

 

Durasi Baca: 3-4 Menit
"Tentang Waktu"

Mereka bilang,
Dua yang sering sia-sia
Kesehatan dan waktu luang
Dengan tidak atau sengaja terlupa
Kedua nikmat itu datang lalu pergi menghilang
Barulah setelahnya sesal terasa
Penuh tanya apa mungkin semua bisa terulang
Berputar mundur meski sekejap saja
Namun relatifnya hanya mampu menjadikan semua rapi terkenang
Dalam memoar sahaja di ingatan manusia
Tetapi aku bilang,
Untuk diriku dan pula semua kita
Dekaplah ia, waktu yang tajam hunusnya bak sebuah pedang
Gunakanlah ia dengan arif dan bijaksana
Bukankah memang seharusnya begitu, wahai pejuang?

HIA - MAR
Ahad, 17 Januari 2016
Sudan – Sumedang

-0-0-0-

Baca #ProsaSelasa pekan lalu: Semoga Tidak Lagi Terjadi
Filosofi #ProsaSelasa: Tentang Waktu:
Halo pembaca setia #ProsaSelasa! Selamat hari selasa ya. Seperti biasa, setiap pekannya #ProsaSelasa selalu hadir dengan tajuk barunya. Menghadirkan sesuatu yang berbeda untuk dinikmati. Ohiya, apa kabar kalian di hari selasa yang cukup cerah ini? Semoga selalu berada dalam kondisi baik ya. Lagi apa sekarang? Pasti sedang berada di sela-sela senggangnya aktifitas, bukan? Nah, berbicara mengenai kondisi beserta waktu tentu sangat berkaitan dengan prosa kali ini, guys. Langsung aja yuk disimak!
Prosa kali ini inspirasinya datang dari sebuah hadits. Ketika itu, Rasulullah saw sedang memberi petuah kepada para sahabat-sahabat agar mereka lebih berhati-hati terhadap dua hal, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang. Oleh karena itu, Rasulullah saw bersabda, “Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang.” (HR. Bukhari no. 6412, dari Ibnu ‘Abbas).
Sadar atau tidak, kerap kali kita membiarkan kedua nikmat itu datang lalu pergi menghilang lagi begitu saja. Barulah setelah nikmat itu pergi, rasa sesal datang membayang-bayangi. Mengapa dulu tak seperti ini. Mengapa dulu tak begitu. Namun sayang beribu sayang, sang waktu tentu saja tak bisa diputar mundur kembali, meskipun hanya sekejap. Terus berputar maju sebagaimana kodratnya.
Begitulah relatifnya sang waktu. Mungkin ada yang sedang tak sabaran menanti lalu bilang, “Duh ayo dong cepat datang pekan besok” dan ada juga yang bilang, “aduhai cepat sekali waktu berlalu, rasanya baru kemarin tahun baru.” Atas dasar relatifnya waktu yang telah berlalu itulah yang menjadikan semua yang sudah terjadi itu rapi terkenang dalam ingatan kita. Lagipula, bukankah ada sebuah syair arab yang berbunyi, “Waktu itu lebih berharga daripada emas.” Ada juga pepatah arab yang berbunyi, “Waktu itu bagaikan pedang, jika kamu tak memotongnya maka dia yang akan memotongmu.” Siapa lagi yang punya kendali atas pemanfaatan waktu yang kita punya selain diri sendiri. Ah, tentunya ini juga reminder buat penulis secara pribadi.



P.s:
Manfaatkan waktu senggang dengan sebaik-baiknya, Yuk!
Jaga kesehatan juga ya supaya bisa baca #ProsaSelasa pekan depan hehehe.

Source Image: Pinterest

48 comments:

Buku: Belajar dan Berbagi

14.58 Awaldi Rahman 46 Comments



Durasi Baca: 3-3 Menit
Jikalau saya ditanya tentang hal apa yang ingin terus saya lakukan selama hidup saya selain beribadah, maka dengan lantang saya akan menjawab belajar (membaca) dan berbagi (menulis). Ya, saya ingin terus belajar, belajar, dan belajar lagi. Pernah dalam sebuah buku saya mendapatkan petikan kata bijak, “More you read more you know, more you read more you don’t know.” Saya rasa statement tersebut benar adanya. Sense of curious yang timbul dari suatu pengetahuan dapat memberikan semangat bahkan motivasi untuk mengembangkan diri dan merangkak menjauhi era kebodohan.
Lalu benda apa yang sekiranya bisa menggambarkan seorang penulis? Menurut saya adalah buku. Memang, belajar itu tak harus selamanya terpaut dengan buku sebagai salah satu sumber ilmu. Tanpa disadari, alam dengan sendirinya bisa juga mengajarkan banyak hal seperti bagaimana sebuah apel bisa jatuh ke bawah dari pohonnya, bagaimana bumi bisa berputar pada porosnya lalu memberikan zona waktu siang dan malamnya. Tetapi, bukankah mungkin bagi seorang penulis menyerap ilmunya atau banyak informasi dari sebuah buku dan apabila ia tuangkan kembali dalam bentuk tulisan memungkinkan akan menjadi sebuah buku yang baru. Mungkin saja, bukan?
Kurang lengkap rasanya apabila menulis itu tidak dikaitkan dengan membaca. Jika membaca adalah sebuah bentuk ruang imajinasi yang dibagikan oleh para penulis kepada kita, maka menulis adalah bentuk ruang arsip gagasan untuk dibagikan –meskipun tidak selalu. Saya pun suka menulis karena mendapatkan begitu banyak pengalaman imajinatif (pengalaman yang tentu sebelumnya belum pernah saya rasakan) dari buku-buku yang saya baca. Sedari dulu, saya suka menulis karena banyak buku yang menghadirkan inspirasi dalam keseharian hidup saya. Karena lewat buku, sebuah tulisan bisa saja menjadi sarana pembelajaran efektif dan mampu membawa perubahan bagi siapapun yang membacanya. Singkatnya, buku adalah salah satu media efektif guna belajar dan berbagi. Life is too useless to spend without learn and share. So, let’s read and write down your imagination! J

“Tulisan ini saya buat biar dapat kaos gratis dari salahtulis.com
#sedekahkaos #salahtulisdotcom

46 comments:

#ProsaSelasa: Semoga Tidak Lagi Terjadi

21.58 Awaldi Rahman 75 Comments



Durasi Baca: 5-6 Menit

Tengah malam dan belum aku bisa tidur
Suntuk buat mata terasa jadi sulit diatur
Namun masih malas tubuhku naik kasur
Untuk terpejam nyenyak dan mendengkur

Sendiri aku terbuai di ujung lamunan
Hingga waktu pun tak sempat lagi kuperhatikan
Hanya diam yang mampu dominasi keadaan
Tenggelam dalam duduk termenung memikirkan

Benakku diajak imajinasi melanglang
Melayang terbang datang lalu hilang
Semua maslahat terbayang berulang
Dari bangsa ini mulai banyak yang berkurang

Di bagian bumi bernama ibu pertiwi
Politisi senggol sana senggol sini
Kalah lalu mendengki, menang tak tahu diri
Berujung pada melukai rakyat sendiri

Bergulat atas nama kongsi dan koalisi
Berebut kursi beradu elit jas safari
Dana reses dipakai kebutuhan pribadi
Salah, bukan kebutuhan tapi hasrat diri dan emosi

Gagah diri alih alih berorasi
Basa-basi tebarkan janji ilusi
Teriakkan selamatkan martabat negeri
Realita jadinya atau sebuah teka teki

Kemudian dua instansi pemerintah saling beradu
Berbalas tangkap saling kuat-kuatan regu
Media vokal informasikan kabar dengan ragam tajuk terbaru
Warga jadi penentu, apresiasi dan reaksi tentu berlaku

Gerangan apa cekcok mereka berlandas
Siapa ditindas siapa menindas seakan jelas
Bergeming hati ini penuh tanya gemas
Dimanakah sesosok pemimpin nan tegas

Semakin bertambah penasaran aku dengan lingkup hidup di nusantara
Kebenaran nampak semakin timpang di kelopak mata
Hal keadilan rumpang dibiarkan menganga
Petinggi yang seharusnya jadi promotor bangsa bermain licik dari balik meja kerja

Di bagian bumi bernama ibu pertiwi
Politisi senggol sana senggol sini
Kalah lalu mendengki, menang tak tahu diri
Berujung pada melukai rakyat sendiri

Tercekik rakyat juga tertusuk hingga palung hati
Meninju wajah yang terus menari rasanya ingin sekali
Sayang hadirnya hanya pada layar televisi
Empat belas inchi besarnya itu pun belum lunas terbeli

Begitulah geramnya komentar tetangga selepas maghrib tanpa membual
Saat aku tanya terhadapnya negeri ini makin jadi barang komersial
Dia tetanggaku adalah si miskin yang hidup nya terpingkal
Oleh candaan monopoli ekonomi si kaya dari gedung bertingkat terhadap finansial

Polemik berbagai sektor masih bermacam wujudnya
Sungguh letih mengiba dengan semua fakta yang ada
Mari buang penat nestapa, mari jemput bola bahagia
Bangkitlah indonesia, bukan sekedar macan asia juga hebat di mata dunia

Buka kembali mata nusantara yang sudah lama sayu dan semu
Tegak kan badan berjalan bangga buat kembali langkah baru
Bersama berpadu bertopang bahu bungkus rapi memori masa lalu
Marilah kita berseru, Indonesia bersatu!

Di bagian bumi bernama ibu pertiwi
Politisi senggol sana senggol sini
Kalah lalu mendengki, menang tak tahu diri
Berujung pada melukai rakyat sendiri
Semoga tidak lagi terjadi

MAR & HIA
Jakarta - Sudan
29 Januari 2015

 

-0-0-0-

 

Filosofi #ProsaSelasa: Semoga Tidak Lagi Terjadi:
Helo teman-teman! Selamat hari selasa ya. Belum telat untuk menerbitkan #ProsaSelasa yang baru, bukan? Hehe. #ProsaSelasa kini hadir lagi untuk mengisi waktu kalian selama beberapa menit saja. Prosa ini diambil dari arsip lama memang dan hadir dalam kemasan tema bahasan yang berbeda lagi tentunya. Prosa ini tercatat rampung pada tanggal 29 Januari 2015 silam. Artinya kurang lebih sudah jadi pada setahun yang lalu. Lebih tepatnya lagi ketika Indonesia sempat dihebohkan masalah kpk vs polri. Tenang, maksud saya di sini bukan untuk mengungkit masa lalu atau masalah lama. Terlebih ke arah menyelipkan banyak harapan kepada mereka. Ya, satu harapan dari satu kepala yang mungkin mewakilkan banyak kepala lainnya.
Masih menggunakan konsep sama dengan #ProsaSelasa pekan lalu (baca di sini) yaitu puisi yang dibuat secara berantai dengan seorang karib saya semenjak SMP. Ini bukan kali pertama atau kedua kami berkolaborasi membuat sebuah prosa, melainkan untuk kesekian kalinya. Mungkin di #ProsaSelasa lain waktu bisa saya ceritakan awal mulanya saya bisa berkolaborasi dengan karib saya ini. Semoga.
Bagian awal dari prosa ini di awali dengan permulaan seseorang yang tak bisa tidur ketika malam sudah beranjak larut. Mungkin bahasa kekiniannya itu insomnia. Sudah memasuki waktu bagian galau dini hari saat itu. Melamun. Duduk termenung. Galau. Pikirannya dibayang-bayangi oleh berbagai macam kisruh yang terjadi di negeri ini.
Jadi, dalam prosa ini si tokoh utama merasa bingung dengan politisi yang kerap kali masyarakat mengidentikkannya laiknya ‘oknum’ yang tukang buat onar, buat  sensasi, dan tak jarang buat heboh. Terkadang, untuk mendapatkan posisi yang diinginkannya itu membuat mereka melakukan cara yang kurang terpuji. Menghalalkan segala cara. Entahlah semua itu berujung pada sebuah tindakan nyata atau sekedar janji belaka. Selalu saja di televisi ramai tentang mereka, tentang cekcok antara aparat negara yang seharusnya kompak dan saling mendukung guna menjaga keutuhan dan stabilitas negera.
Belum lagi dari segi ekonomi. Mungkin dari sudut pandang anak kimia yang melihat perkara tersebut akan berlaku hukum Markovnikov, “Yang kaya akan semakin kaya, yang miskin juga semakin menjadi-jadi.” Hal yang timpang ini tak hanya dirasakan oleh si tokoh utama, tetapi juga si tetangga yang menjadi pemeran bantu ini juga merasakan hal yang serupa.
Eits, tapi tenang saja kawan, masih banyak juga politisi yang ingin mengharumkan nama, mengangkat harkat serta martabat bangsa Indonesia melalui profesi mulianya itu. Masih banyak dari mereka yang sepenuh jiwa dan raga melayani. Setulus hati mengabdi pada ibu pertiwi. Masih banyak juga dari mereka yang peduli. Semoga saja pada akhirnya mereka semua satu visi. Bak semboyan negeri ini saja, “Berbeda-beda tapi tetap satu jua.” Kalau bukan menjadikan negeri ini macan di Asia bahkan dunia apalagi. Semoga saja semakin banyak generasi muda yang lahir dan bisa melanjutkan tongkat estafet perjuangan memajukan bangsa ini.
Oleh karena itu, sebelum jatuh terlelap tidur si tokoh utama ini menyimpan banyak harap semoga hal-hal buruk yang terjadi pada akhir-akhir ini tidak lagi terjadi. Harapannya, ketika esok hari bangun Indonesia bisa menjadi macan asia yang mengaum gemparkan dunia. Tapi, semua itu kembali lagi ke seluruh lapisan elemen masyarakat. Perlu didorong dengan penuh tenggang rasa antar sesama. Perlu didorong rasa saling percaya. Perlu didorong dengan saling mengingatkan dalam kebaikan. Demi Indonesia yang lebih aman, tentram, dan damai. Juga demi Indonesia yang kembali menjadi sebuah satu kesatuan yang utuh.
Mungkin, sebagian dari kalian berpendapat prosa ini merupakan sindiran keras. Prosa yang menjatuhkan. Sarkasme. Tapi bukan itu sebenarnya maksud dari prosa ini terbuat, bukan. Sebagaimana yang telah dipaparkan tadi, inti dari prosa ini adalah harapan-harapan akan kebaikan. Dibanding dengan syair Taufik Ismail yang berjudul “Malu Aku Jadi Orang Indonesia.” Prosa ini bukanlah apa-apa. Lewat syair tersebut, Taufik Ismail mengekspresikan kekecewaannya terhadap pemerintah dan itu merupakan tamparan keras bagi para aparat negara. Kembali lagi saya tekankan, inti dari prosa ini adalah menekankan akan harapan sebuah kebaikan yang didambakan oleh banyak orang. Terima kasih.
Gimana pendapat kalian? Yuk beri pendapat terbaik kalian. Seperti biasa, silakan berbeda pendapat.

75 comments:

Tiga Alasan Mengapa Harus Bangga Menjadi Blogger

22.57 Awaldi Rahman 87 Comments



Durasi Baca: 5-6 Menit

“Kalau aku nggak berkarya apapun, masa aku berani menyebut bahwa diriku ini seorang penulis? Kalau aku nggak nulis lagi nantinya, apakah aku akan tetap dianggap sebagai seorang penulis?”

Siang kemarin, tepatnya di sebuah bis yang sedang melaju menuju kota di mana tempat saya menuntut ilmu, saya merasa ditampar seketika saat membaca kutipan tersebut pada salah satu koleksi buku bacaan saya. Kalimat tersebut merupakan sebuah sindiran keras bagi saya pribadi. Bagaimana tidak, selama saya vakum tiga tahun ke belakang lamanya dari dunia nge-blog sebagaimana yang telah saya ceritakan di sini, dengan begitu percaya dirinya saya memasang status profile di pelbagai akun media sosial dengan status “A Writerpreneur.” Istilah tersebut ada terlebih karena memang saya suka menulis dan juga suka berwirausaha. Jadilah istilah writerpreneur tersebut. Bahkan mengapa nama blog ini awaldiw(dot)blogpsot(dot)com, huruf ‘w’ terakhir pada awaldiw itu saya filosofikan sebagai writerpreneur sebenarnya. Saya pikir, siapa tahu bisa menjadi sebuah doa juga kan. Semoga iya, Aamiin.
Namun, sekedar ‘suka’ seperti yang saya jelaskan tadi saja rasanya tidak cukup apabila tidak didukung dengan sebuah usaha. Ibarat kalau kita suka sama seseorang, tapi tidak ada usaha untuk mengungkapkan rasa mah yang ada ditikung dengan ketikungan tiga puluh derajat hehehe. Jadi, kembali lagi kepada diri kita masing-masing apakah bersedia menyeimbangkan bakat yang sebenarnya melekat erat pada diri kita tersebut dengan berusaha keras atau tidak. Make your own decision guys!
“Diw, kamu suka nulis ya?” Iya.
“Diw, kamu suka buat puisi ya?” Iya.
“Diw, kenapa gak dilanjut ngeblognya? Sayang banget ih.” Duh, jadi enak ada yang sayang (?)
Mungkin tidak hanya saya, sebagian dari kalian barangkali pernah ditanyakan hal yang serupa. Oleh karena itu, saya berusaha kembali ke dunia per-blog-an dengan membawa beberapa alasan, tujuan dan harapan tentunya. Malu dong ah sama status di berbagai sosmed hehe.
Nah, dalam tulisan kali ini saya akan berbagi mengenai sedikitnya tiga alasan mengapa harus bangga menjadi blogger.
1.               Blogger bukan untuk semua orang.
“Diw, apa perlu orang macam kita-kita ini ngeblog?”
Suatu waktu pernah saya mendapatkan pertanyaan seperti itu. Menjadi seorang blogger memanglah bukan profesi wajib untuk semua orang. Menurut saya, sebenarnya kita pun tidak perlu nge-blog apabila memang tidak memiliki cukup waktu luang, seandainya sama sekali tidak ada nilai tambahnya bagi hidup, frustasi atau tidak nyaman sama sekali ketika menulis, dikejar-kejar tugas sehari-harinya, atau merasa terancam ketika menjalin relasi sosial di ranah dunia maya. Singkatnya, kita tidak perlu repot-repot nge-blog jika enggan untuk berkomunikasi dan berbagi dengan sesama.
Jika kita seorang tukang pahat yang memang selalu bekerja penuh seharian, pesanan selalu mengalir deras, sampai-sampai waktu istirahat pun kurang ya saya rasa tidak perlu nge-blog. Berbeda lagi apabila kita seorang desainer produk dan memerlukan sebuah media yang bisa memamerkan produknya. Mungkin dengan nge-blog bisa menjadi mediatornya. Bisa menghubungkan dengan pelanggan dan menjadi ruang tersendiri untuk berkonsultasi dengan para klien.
Jadi, berbanggalah kita sebagai orang-orang yang terpilih menjadi blogger. Memiliki passion menulis untuk berbagi yang tidak bisa dirasakan manfaatnya oleh sembarang khalayak ramai tentunya.
2.               Blogger bukan profesi biasa.
Pada era modern ini, mungkin nge-blog itu bisa diartikan sebagai salah satu sarana yang bisa dilakukan seseorang untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Tidak sedikit orang yang mendadak populer dan bisa menghasil income menengah ke atas hanya karena rutin nge-blog. Semua itu tergantung bagaimana kita pintar dalam memanfaatkannya saja. Misalnya, ikut serta dalam berbagai kompetisi blog, melalui job review, juga lewat ajang giveaway yang kerap kali diadakan oleh beberapa para blogger, dan memasang banner iklan. Mungkin dengan berbagai cara tadi bisa lebih menjadikan profesi blogger itu sebuah kebanggan yang luar biasa. Bahkan, barangkali bisa menjadi sarana untuk mewujudkan impian saya menjadi seorang writerpreneur hehehe.
Dengan begitu kita tidak perlu merasa canggung lagi kalau misalkan ditanya oleh calon mertua mengenai apa pekerjaan kita dan berapa penghasilan yang didapat.
“Jadi, nama kamu Awaldi?” (Ini interview seleksi menantu apa seleksi kerja ya?).
“Iya, Om. Iya, Tante” Masih santai.
“Kalau om boleh tau, apa profesi kamu?” Masalah kerjaan, jelas job desk nya si Om (Calon papa).
“Blogger, Om. Bahasa kerennya sih, bloggerpreneur atau writerpreneur” Mulai bangga, sambil angkat alis. Biar terlihat gaul menggoda gimana gitu.
“Memangnya berapa penghasilan kamu per bulan sebagai blogger?” Kalau masalah penghasilan siapa lagi yang nanya kalau bukan tante (Calon mama).
“Hmmm, lumayan sih tante tergantung momen juga, kalau momennya lagi bagus ya tingkat permintaan meningkat dan hasilnya banyak, kalau nggak ya permintaannya biasa-biasa dan hasilnya pun standar aja. Biasanya per bulan aku bisa menghasilkan 10 artikel, 200 komentar, dan 5000 pengunjung. Itu pun belum termasuk pengikut, Tante.” Jawab penuh mantap. Intronya udah macam anak agribisnis, belum?
“.........” Cara memandangnya mulai berubah.
“Kalau dikalkulasikan setahun ya kira-kira bisa sampai 120 artikel, 2000 komentar, dan satu juta lebih pengunjung, Tante.” Percaya diri melanjutkan.
“.........” Semakin beda lirikin matanya.
“.........” Mulai tegang.
*seketika hening*
“Hmmm, okay setelah om dan tante menimbang dari berbagai aspek, riset di beberapa tempat, dan uji kelayakan. Jadinya kamu...”
“Kamu.....?” Degdegan.
“Kamu mau kapan nentuin tanggal buat resepsinya?”
“Ah, seriusan ini, Ma? Eh, Tante maksudku?” Tuhkan yesh!
Loh, ini jadi bahas apa hehehe. Kembali ke laptop. Intinya, seseorang blogger menjadikan nge-blog sebagai profesi yang bisa menghasilkan banyak uang karena buah hasil dari merawat blog, bukan dari blognya. Meminjam perkataan Matt Mullenweg, selaku pendiri layanan hosting gratis Wordpress, “You can make more money because of your blog, not from your blog.” Agree?
3.               Blogger bukan sekedar mengambil, tetapi juga berbagi.
Tidak jarang kita menemukan beberapa orang yang menggerutu seperti ini misalnya, “Ah diw, ngapain nge-blog kalau diisi dengan beraneka ragam tulisan tapi nggak ada bayarannya?”
Dalam hal itu, tentu saya tidak bisa memaksa dan menyalahkan mereka yang enggan membuat sebuah blog ketika tahu tidak ada fee-nya. Karena ya pada dasarnya nge-blog itu merupakan pekerjaan yang tidak dibayar alias gratisan toh.
Pada hakikatnya, nge-blog itu berbicara juga mengenai niat dan minat yang ditambah keinginan untuk berbagi. Pertama, terlebih dahulu kita harus memiliki niat (nge-blog) dan minat dalam belajar, mengembangkan potensi diri, dan berpikiran terbuka. Hei, nilai dari sebuah pekerjaan itu tergantung pada niat awalnya, bukan? Kedua, tambahkan keinginan berbagi dengan orang lain. Menulis di berbagai platform, merekam momen-momen kegiatan seru kita, mengemukakan gagasan lalu mempublikasikannya merupakan bentuk sebuah kerelaan, toh? Siapa tahu apa yang kita tulis itu bisa menginspirasi banyak orang sehingga memiliki nilai manfaat. Tanpa adanya hal tadi, saya rasa simpan saja baik-baik tulisan kita dalam bentuk draf di laptop, sampai bersarang laba-laba kalau perlu hehe.
Menurut saya, kita tak perlu merasa dirugikan dalam masalah nge-blog. Bukankah selama ini kita berseluncur di dunia maya ini tidak bayar?  Jadi, anggap saja nge-blog ini merupakan feedback kita dari apa yang sudah diperoleh dari internet secara cuma –cuma. Cukup adil, bukan?
Itulah tiga alasan mengapa harus bangga menjadi blogger versi saya. Untuk kesimpulannya, mari kita introspeksi diri masing-masing bahwa menjadi seorang blogger ini adalah suatu anugerah tersendiri bagi kita atau menganggapnya sama sekali bukan sebuah anugerah. Terakhir, sebagai pelajaran yang bisa diambil dari kejadian yang saya alami kemarin siang, kalau mau menjadi seorang penulis ya mulailah dengan menulis sesuatu. Sesederhana itu.
Punya opini lain? Silakan berbeda pendapat pada kolom komentar di bawah ini.


Source Image: Voices of Rusia

87 comments:

#ProsaSelasa: Sajak Agroekosistem

21.50 Awaldi Rahman 93 Comments



Durasi Baca: 5-5 Menit

Kutatap hiruk pikuk manusia hilir mudik
Berarak-arak tumpah ruah di jalan-jalan
Mondar-mandir riuh bergerak bolak-balik
Sambil didamba-damba oleh mereka angan-angan

Andai diriku bisa terbang melayang
Ingin rasanya kususuri penjuru ibu pertiwi
Agar jelas harap akan semua yang membayang
Masih indahkah bumi tani atau telah usai

Dibawah mata kaki ku ialah bumi yang sangatlah subur tanah nya
Tanah surga disebutnya dalam dendangan lagu
Lempar tongkat kayu juga batu tumbuhlah bertunas semua
Kau duduk lah sebentar biar aku terangkan istimewanya negeri agraria itu

Namun maafkan aku bila tak cukup sebentar masa untuk bercerita
Tentang Sabang-Merauke yang dicipta Tuhan dengan sumringah
Tentang hamparan tanah coklat mengkilat, tempat tumbuh harap dan cita
Juga tentang senyuman dan sekuntum bunga yang sama merekah

Negeri Khatulistiwa ini punya berjuta hektar sawah ladang dan kurasa kita tahu akan itu
Lebih lagi dengan ditambah berjuta hektar hutan dan perkebunan yang membentang hijaukan belantara Indonesia
Dahlia, Flamboyan, Semanggi, Kamelia, Cendana, Meranti, Mahoni sedikit kusebutkan beberapa jenis untukmu
Tak asing ditelinga memang, namun beberapa nama dan jenis dari bunga, umbi, biji, kayu, sayur, buah kini makin asing di mata manusia

Ah, masih ada beranekaragam ternak juga beratus ribu gerombol ikan yang tak mungkin kusebut jenisnya satu persatu
Aku, kamu, juga mereka pasti terselimuti rasa takjub terpesona jika melihatnya
Sungguh! Kau takkan sudi beranjak pergi meski hanya tuk sementara waktu
Tetapi, kurasa potongan cerita ini masih belum bisa disebut sebuah rangkaian sempurna

Sebab hari hari ini paceklik kian meresahkan
Agroekosistem timpang, miring sebelah
Petani dan tukang kebun mulai risau kehilangan meter demi meter tanah dan lahan
Mata nya berbinar dan nanar oleh pencakar langit yang menjulang nan kokoh menimpa petak demi petak sawah

Tepatnya disana, di gubuk tepi sungai kutemui seorang tua bermata binar
Benaknya terkenang di masa jaya saat negeri ini bergelar swasembada
Di bentangan langit, persis tanggal 14 kutemui purnama tak lagi bersinar
Dalam pekat malam, ia menyala tetap yakin pada harapan pun perubahan ada dipundak pemuda

Hei kawan, pasti kau mengerti kata pak tua itu bukan
Biar esok atau lusa rujukan sektor agrikultural Asia bahkan dunia adalah tanah ini
Supaya jadi bukti hasil semai bibit asa para pelakon pertanian
Dapat dipanen dan mengisi perut keturunan nya di kemudian hari

Serukan lagi! Agraria ialah identitas pun jatidiri
Perjuangan ini bukanlah mudah, namun janganlah menyerah
Kembalikan lagi hak mereka yang hilang dicuri
Reformasi pertanian ialah harga mati tuk masa depan gemilang nan cerah

Mari ikut aku, kita susuri permainya Indonesia dengan jalan beriringan
Sembari pulang, kita telisik tabir pada poros dan batas humanitas dalam modernisasi
Kita sungguh mampu menimang komoditi global agronomi pangan
Bertuah dengan nama pertanian, menyandang idealisme Agroteknologi

Mari ikut aku, kita susuri permainya Indonesia dengan jalan beriringan
Sembari pulang, kita panggul gelora asa pengembangan budidaya penuh optimis
Kita sungguh mampu wujudkan stabilitas ekonomi tani tuk sekarang juga masa depan
Bertuah dengan nama pertanian, menyandang idealisme Agribisnis

Mari kawan, sampaikan salamku pada keluargamu
Esok mari sama sama kita sempurnakan kisah tadi jadi lebih seru

Langit Jakarta, Tasikmalaya, Sudan.
Rabu, 13 Januari 2016
MAR. YSK. HIA

-0-0-0-

Filosofi Sajak Agroekosistem:
Puisi ini bermula ketika saya, sebagai anak kuliah jurusan Agribisnis, mengawali liburan pada semester pertama. Perjalanan pulang sangat ramai memang saat itu. Lalu, terbesitlah di pikiran saya untuk mengajak kedua kawan saya ini membuat sebuah puisi berantai.
Puisi ini bercerita tentang sektor pertanian masa kini, mungkin. Mulai dari permasalahan petani yang kehilangan pekerjaan karena alih fungsi lahan lah hingga nama-nama jenis tumbuhan yang kita tahu hanya sebatas jadi nama jalan saja. Hal yang serupa terjadi pada nama-nama komoditas perikanan dan perkebunan (buah). Namanya pun itu lagi itu lagi. Tapi, apakah semua dari kita tahu akan wujud dari semua nama tersebut? Belum tentu.
Sampai puisi ini selesai terbuat, terkesan masih saja banyak orang yang kurang akrab dan peduli sama sektor pertanian. Padahal, banyak harapan dari apa yang ditanam oleh para petani. Padahal, sejatinya hidup kita tak terlepas dari segala komoditas pangan pada setiap harinya, bukan? Selama manusia masih butuh makan, sektor pertanian akan selalu dibutuhkan rasa-rasanya.
Sajak Agroekosistem ini terlihat seperti percakapan antara dua orang. Saling antusias dalam membahas seputar problema sektor pertanian. Belum selesai hanya sampai sisi permasalahan saja, di sini juga keduanya terlihat saling mengajak supaya lebih percaya diri lagi dan peduli terhadap pertanian. Harapannya, dengan kolaborasi agroteknologi dan agribisnis yang kooperatif mudah-mudahan bisa mengangkat strata pertanian di negeri ibu pertiwi, Indonesia. Tentu harus dibarengi dengan dukungan dan support saling percaya dari berbagai elemen hingga merambah pada masyarakat luas juga, bukan hanya sekedar dari dua elemen tadi.

-0-0-0-

Halo pembaca blog awaldiw yang baik hati, rajin menabung, dan tidak jomblo sombong. Selamat hari selasa. Selasa di surga bisa blog ini bisa dibaca kamu, iya kamu. Apalagi kalau meninggalkan komentar di bawah ini hehehe. Terima kasih sudah mau membaca ya.
Nah, berhubung ini hari selasa. Saya mau memperkenalkan salah satu rubrik baru di blog ini. Rubriknya adalah #ProsaSelasa. Jadi, rubrik ini akan diterbitkan pada hari selasa. Tidak melulu hari selasa terbit untuk #ProsaSelasa. Menyesuaikan kondisi saja keberlangsungannya. Tetapi, rubrik ini salah satu bacaan yang pastinya kamu tunggu-tunggu kok. See you next week ya!

93 comments: