#ProsaSelasa: Sajak Agroekosistem

21.50 Awaldi Rahman 91 Comments



Durasi Baca: 5-5 Menit

Kutatap hiruk pikuk manusia hilir mudik
Berarak-arak tumpah ruah di jalan-jalan
Mondar-mandir riuh bergerak bolak-balik
Sambil didamba-damba oleh mereka angan-angan

Andai diriku bisa terbang melayang
Ingin rasanya kususuri penjuru ibu pertiwi
Agar jelas harap akan semua yang membayang
Masih indahkah bumi tani atau telah usai

Dibawah mata kaki ku ialah bumi yang sangatlah subur tanah nya
Tanah surga disebutnya dalam dendangan lagu
Lempar tongkat kayu juga batu tumbuhlah bertunas semua
Kau duduk lah sebentar biar aku terangkan istimewanya negeri agraria itu

Namun maafkan aku bila tak cukup sebentar masa untuk bercerita
Tentang Sabang-Merauke yang dicipta Tuhan dengan sumringah
Tentang hamparan tanah coklat mengkilat, tempat tumbuh harap dan cita
Juga tentang senyuman dan sekuntum bunga yang sama merekah

Negeri Khatulistiwa ini punya berjuta hektar sawah ladang dan kurasa kita tahu akan itu
Lebih lagi dengan ditambah berjuta hektar hutan dan perkebunan yang membentang hijaukan belantara Indonesia
Dahlia, Flamboyan, Semanggi, Kamelia, Cendana, Meranti, Mahoni sedikit kusebutkan beberapa jenis untukmu
Tak asing ditelinga memang, namun beberapa nama dan jenis dari bunga, umbi, biji, kayu, sayur, buah kini makin asing di mata manusia

Ah, masih ada beranekaragam ternak juga beratus ribu gerombol ikan yang tak mungkin kusebut jenisnya satu persatu
Aku, kamu, juga mereka pasti terselimuti rasa takjub terpesona jika melihatnya
Sungguh! Kau takkan sudi beranjak pergi meski hanya tuk sementara waktu
Tetapi, kurasa potongan cerita ini masih belum bisa disebut sebuah rangkaian sempurna

Sebab hari hari ini paceklik kian meresahkan
Agroekosistem timpang, miring sebelah
Petani dan tukang kebun mulai risau kehilangan meter demi meter tanah dan lahan
Mata nya berbinar dan nanar oleh pencakar langit yang menjulang nan kokoh menimpa petak demi petak sawah

Tepatnya disana, di gubuk tepi sungai kutemui seorang tua bermata binar
Benaknya terkenang di masa jaya saat negeri ini bergelar swasembada
Di bentangan langit, persis tanggal 14 kutemui purnama tak lagi bersinar
Dalam pekat malam, ia menyala tetap yakin pada harapan pun perubahan ada dipundak pemuda

Hei kawan, pasti kau mengerti kata pak tua itu bukan
Biar esok atau lusa rujukan sektor agrikultural Asia bahkan dunia adalah tanah ini
Supaya jadi bukti hasil semai bibit asa para pelakon pertanian
Dapat dipanen dan mengisi perut keturunan nya di kemudian hari

Serukan lagi! Agraria ialah identitas pun jatidiri
Perjuangan ini bukanlah mudah, namun janganlah menyerah
Kembalikan lagi hak mereka yang hilang dicuri
Reformasi pertanian ialah harga mati tuk masa depan gemilang nan cerah

Mari ikut aku, kita susuri permainya Indonesia dengan jalan beriringan
Sembari pulang, kita telisik tabir pada poros dan batas humanitas dalam modernisasi
Kita sungguh mampu menimang komoditi global agronomi pangan
Bertuah dengan nama pertanian, menyandang idealisme Agroteknologi

Mari ikut aku, kita susuri permainya Indonesia dengan jalan beriringan
Sembari pulang, kita panggul gelora asa pengembangan budidaya penuh optimis
Kita sungguh mampu wujudkan stabilitas ekonomi tani tuk sekarang juga masa depan
Bertuah dengan nama pertanian, menyandang idealisme Agribisnis

Mari kawan, sampaikan salamku pada keluargamu
Esok mari sama sama kita sempurnakan kisah tadi jadi lebih seru

Langit Jakarta, Tasikmalaya, Sudan.
Rabu, 13 Januari 2016
MAR. YSK. HIA

-0-0-0-

Filosofi Sajak Agroekosistem:
Puisi ini bermula ketika saya, sebagai anak kuliah jurusan Agribisnis, mengawali liburan pada semester pertama. Perjalanan pulang sangat ramai memang saat itu. Lalu, terbesitlah di pikiran saya untuk mengajak kedua kawan saya ini membuat sebuah puisi berantai.
Puisi ini bercerita tentang sektor pertanian masa kini, mungkin. Mulai dari permasalahan petani yang kehilangan pekerjaan karena alih fungsi lahan lah hingga nama-nama jenis tumbuhan yang kita tahu hanya sebatas jadi nama jalan saja. Hal yang serupa terjadi pada nama-nama komoditas perikanan dan perkebunan (buah). Namanya pun itu lagi itu lagi. Tapi, apakah semua dari kita tahu akan wujud dari semua nama tersebut? Belum tentu.
Sampai puisi ini selesai terbuat, terkesan masih saja banyak orang yang kurang akrab dan peduli sama sektor pertanian. Padahal, banyak harapan dari apa yang ditanam oleh para petani. Padahal, sejatinya hidup kita tak terlepas dari segala komoditas pangan pada setiap harinya, bukan? Selama manusia masih butuh makan, sektor pertanian akan selalu dibutuhkan rasa-rasanya.
Sajak Agroekosistem ini terlihat seperti percakapan antara dua orang. Saling antusias dalam membahas seputar problema sektor pertanian. Belum selesai hanya sampai sisi permasalahan saja, di sini juga keduanya terlihat saling mengajak supaya lebih percaya diri lagi dan peduli terhadap pertanian. Harapannya, dengan kolaborasi agroteknologi dan agribisnis yang kooperatif mudah-mudahan bisa mengangkat strata pertanian di negeri ibu pertiwi, Indonesia. Tentu harus dibarengi dengan dukungan dan support saling percaya dari berbagai elemen hingga merambah pada masyarakat luas juga, bukan hanya sekedar dari dua elemen tadi.

-0-0-0-

Halo pembaca blog awaldiw yang baik hati, rajin menabung, dan tidak jomblo sombong. Selamat hari selasa. Selasa di surga bisa blog ini bisa dibaca kamu, iya kamu. Apalagi kalau meninggalkan komentar di bawah ini hehehe. Terima kasih sudah mau membaca ya.
Nah, berhubung ini hari selasa. Saya mau memperkenalkan salah satu rubrik baru di blog ini. Rubriknya adalah #ProsaSelasa. Jadi, rubrik ini akan diterbitkan pada hari selasa. Tidak melulu hari selasa terbit untuk #ProsaSelasa. Menyesuaikan kondisi saja keberlangsungannya. Tetapi, rubrik ini salah satu bacaan yang pastinya kamu tunggu-tunggu kok. See you next week ya!

91 komentar:

  1. ngomong ngomong tentang pertanian
    dulu di kampung saya banyak petani
    namun semua berubah ketika gusuran menyerang
    banyak petani yg pensiun
    gara2 lahannya di gusur
    padahal enak loh dlu kalo main di sawah
    bisa mancing, berenang, cari timun suri kalo bulan puasa, maen layangan, nyari burung padahal udah punya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Serukan stop alih fungsi lahan! Haha.
      Rasanya seru ya bang bisa merasakan hal-hal seperti mancing, berenang, cari timun suri. Bisa jadi pengalaman tak terlupakan dan suatu kebahagiaan tersendiri aja gitu pernah merasakan itu.

      Hapus
  2. wih keren sajaknya... mahasiswa agribisnis mah gini ya, galaunya buat sajak tentang pertanian :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Galaunya meresahkan sektor pertanian ya hehe.

      Hapus
  3. Wah, bait bait tentu pertaniannya keren..

    Alih fungsi dari ladang ke perumahan.. Iya gitu sekarang mah.. ckckk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, itu dia salah satu problema sektor pertanian.
      Terima kasih ya :)

      Hapus
  4. Wih anak agrobisnis, emang ada matkul bersajak yaa .. canggih bet .. hahaha ..
    Ehmmm tinggal di musikalisasi nih sajaknya ..

    ya semoga aja sektor pertanian negara ini yang udab stabil bisa smakin stabil lagi .. lu yang jadi penerus harus bisa ngasih trobosan2 yang kece di bidang agrobisnis ..

    dan semoga sukses dengan #ProsaSelasa nya ,. ululululu~~~

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada mas kalau saya jadi dekannya nanti haha.
      Boleh lah mas dikolaborasikan dengan musik, tapi mas yang iringin ya :)

      Aamiin. Mohon dukungannya mas supaya saya bisa terus eksis berkiprah di bidang agribisnis (loh?)

      Yeay! Terima kasih :D

      Hapus
  5. Begini yak kalo anak agrobisnis kalo lagi putis, isi sajaknya gak jauh-jauh dari pertanian dan hasil alam yang disulap jadi rasa yang mendalam(^﹏^)"

    BalasHapus
    Balasan
    1. Secara gak langsung mengajak pembacanya untuk kembali peduli pada lingkungan sekitarnya mbak, khususnya sektor pertanian ini hehe.

      Hapus
  6. Sarat makna banget puisinya Mas...
    Kalau kata anak alay,,,dalem bingits

    BalasHapus
    Balasan
    1. Udah sedalam lautan samudera belum, Mas? :D

      Hapus
  7. Saya orang yang kuliah di bidang agama, tapi sangat tertarik tentang pertanian, ekosistem, dan menjaga lingkungan. Dulu sempet 'ngehits' wacana keagamaan yang diintegrasikan dengan wacana ekologi di kampus saya.

    salam kenal. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah bisa tuh mas dibagi-bagi ilmu keagamaan yang diintegrasikan dengan ekologi, sepertinya seru. Salam kenal juga, Mas :)

      Hapus
  8. Baca puisi ini jadi ingat kalo nanti siang harus jemur hasil panen. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Boleh tuh mbak hasil panennya dibagi-bagi :)

      Hapus
  9. anak agrobisnis pas bangat kalo beginian..
    lahan sawah udah mulai hilang di bangun gedung dan rumah rumah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Miris sih memang. Tapi, hal tersebut bisa diinisiasikan dengan vertikal garden kok, Mas.

      Hapus
  10. Ternyata gini kalo anak Agribisnis galau, yang di galauin pertanian Nusantara. Warbiyasah.

    asiik ada proyek baru nih, btw, kenapa milihnya hari Selasa?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Warbiyaza haha.

      Karena selasa di surga (?) Eh, karena cocok aja dengan akhiran prosa yang 'sa' dengan selasa yang sama-sama 'sa.' Gitu sih filosofinya :D

      Hapus
  11. pertanian, mungkin masuknya ke alam juga ya, gue banyak uneg-uneg padahal kalau bicara soal itu.
    mantep lah selasa prosanya, thumbs up

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa nih mas kalo mau kolaborasi sajak bareng :)
      Terima kasih, yeay!

      Hapus
    2. Jadi, gimana selanjutnya mas? Udah kayak lagi bicarain kontrak kerja aja ini haha.

      Hapus
  12. Kesekian kalinya kesini, tulisannya keren aja ;D eniwei, jd anak agrobisnis itu rasanya gimana sih~

    BalasHapus
    Balasan
    1. Follback jg ya mas aku udh follow blognya..

      Hapus
    2. Alhamdulillah ada yang bilang keren. Tulisannya, iya tulisannya.
      Hmmm, duh masuk aja deh agribisnis biar tau langsung gimana rasanya haha.
      Sip, meluncur balik ya.

      Hapus
  13. Hmm.. Kurang paham sih sama sastra-sastraan begitu. Cuman.. keep going broh! Semoga tulisannya makin kece! Ditunggu prosa selanjutnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih kakak.
      Sering-sering mampir dimari ya :)

      Hapus
  14. Sajaknya luar biasa :))
    Wah anak pertanian ya. Peduli sama yang ada di lingkungan dong. Keren keren. Semoga ProsaSelasa nya bisa terus jalan dan lancar yah :D

    BalasHapus
  15. maknanya dalem banget... luar biasa..!

    Klo anak pertanian emang gitu,, tetep kembali ke lingkungan,,hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih ya.
      Selain anak pertanian juga harus peduli dong :)

      Hapus
  16. kamu jurusan agro tapi jago nulis kayak anak sastra ya. hebat. keep writing!
    tentunya rubriknya kami tunggu..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah mas bisa aja nih. Alhamdulillah deh, jadi enak.
      Terima kasih loh mas.

      Hapus
  17. wih, anak agribisnis begini deh.. kalau baper baperin lingkungan :")
    sepertinya negri ini memang sungguh permai, sumber daya alamnya sungguh menawan.
    sektro pertanian memang sepertinya agak dianaktirikan kalau dibandingkan sektro industri dan semacamnya. mungkin kembali ke masalah fulus..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju. Dalam dendangan lagu bilang tanah ini tanah surga.
      Padahal, sektor pertanian juga menjadi salah satu mesin pembangunan bangsa juga kok.

      Hapus
  18. Keren bro!
    Jadi kangen di kampung, dimana semuanya itu masih sawah-sawah. Lain hal di jakarta, yang rata-rata udah gedung pencakar langit semua. Huhu.

    BalasHapus
  19. wow keren banget bikin puisi berantai nya hhe. Kayaknya peka banget sama lingkungan.

    habis baca puisi ,kayaknya gue harus nikmatin keadaan sekitar gitu deh. soalnya di puisi tadi di jelasin banget keindahan alam nya . mantap bang ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama lingkungan aja peka, apalagi sama... ahsudahlah haha.

      Terima kasih. Selamat menikmati keadaan sekitar :)

      Hapus
  20. bisa jadi jurusannya bukan agrobisnis nih, tapi agropuitnis *krik krik*
    keren bro puisinya, mengingatkan kita untuk terus menjaga sumber daya apalagi yang berupa lingkungan dan pertanian.

    ohya, rubriknya seru nih tiap hari selasa. saya sendiri juga sering ngeluarin tulisan berupa puisi. tapi belum berani buat konsisten macam kamu bro. Semangat bro, saya dukung 100%

    BalasHapus
    Balasan
    1. Agropuitnis. Rasa-rasanya terdengar tidak aneh juga deh haha.
      Asik, ada yang dapet pesan tersiratnya juga ya dari sajak ini :)

      Wah berkolaborasi buat sajak berantai lainnya bisa nih mungkin mas.
      Saya juga bilang tidak melulu hari selasa untuk #ProsaSelasa kok mas, tergantung tersedia atau tidaknya saja prosanya.
      Semangat 45!

      Hapus
  21. Awesome ^^
    Salam kenal ya ..saya anak sastra tapi kalah berdendang dengan diksinya anak agrobisnis..

    Keren..
    Kegalauan yg elegan karena dilembutkan oleh bahasa. Terasa banget.. dalem ^^

    Lanjutkan..
    Ditunggu tulisan selanjutnya yaa..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah justru saya yang harus berguru sama anak sastra mbak biar sajaknya gak cuma pertanian saja hehe.

      Terima kasih, Mbak.
      Sering-sering mampir ya :)

      Hapus
  22. ohhh jadi gini anak agrobisnis kalau lagi galau. ohhh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kenapa ya kalau bikin sajak selalu diidentikkan dengan galau? Hahaha.

      Hapus
  23. Prosanya bagus mas, ada pesan moral yang disampaikan tanpa mempengaruhi dari filosofi yang diuraikan. Semoga aja jadi renungan buat kita semua. Kalau disusun rapi bisa jadi buku nih mas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Terima kasih, Mas.
      Wah saya belum kepikiran untuk dijadikan buku. Terpenting sekarang adalah konsisten terlebih dahulu untuk mengisi rubrik ini mas hehe :)

      Hapus
  24. Duh gue sebagai lulusan kampus pertanian merasa tergugah nih, emang sih sekarang pertanian kita engga kayak dulu lagi. Soalnya Indonesia lagi ada di masa transisi dari negara agraris ke negara industri. jadi semakin sedikit sawah dan ladang dan semakin banyak bangunan bangunan perindustrian.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waaah bisa tuh mas dibagi-bagi pengalaman jadi anak pertaniannya hehe.
      Problema yang sudah tidak asing lagi itu mas sepertinya, tinggal bagaimana kita mencari jalan keluar atau alternatif dari permasalah tersebut saja :)

      Hapus
  25. Nah itu dia. Esensinay itu konsistensinya seperti yang mas katakan. Saya termasuk yang masih belum konsistem

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya juga kurang yakin betul kok mas akan terus konsisten atau tidak.
      Tapi, selama tidak ada yang memacu untuk berkarya rasanya kurang dapet dorongan juga.
      Nah dengan begitu mau gak mau ya saya coba saja dulu hehe. Semoga konsisten.

      Hapus
  26. Pertama kali baca ini, gue lansung faham dengan keresahan yang di thangkan penulis ke dalam tulisan. Tentang merosotnya pertanian kita. Tanah-tanah subur yang di alih fungsikan.

    Scroll ke bawah lagi, eh rupanya ada filosofinya. Gue semakin paham. Karna, emang disitu di jelasin semua inti keaeluruhan dari prosa tersebut.

    Ntap. Salam kenal, ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah tjakep! Ya begitulah problema yang terjadi dan kadang kita kurang meninjau sisi tersebut.
      Filosofinya mungkin bertujuan untuk lebih menekan lagi aja akan pesan yang tersirat dari sajak tersebut.
      Salam kenal juga. Terima kasih ya :)

      Hapus
  27. Agribisnis ada jurusan sastra juga ya?
    hehehe

    Aku sampai hari ini kalau di rumah emang jadi petani juga, dan butuh jiwa - jiwa muda yang 'Peduli' agar generasi tua saat ini ada pengganti dan penerusnya. Sangat miris ketika pemuda kampung lebih memilih untuk merantau dan membiarkan para orangtua yang terus mengurus lahan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada, kalau beberapa komen sebelum kamu ada yang bilang agropuitnis namanya hahaha.

      Wah berbagi pengalaman bisa tuh gimana rasanya mengurus lahan. Udah petani dan desainer kan itu keren :D

      Hapus
  28. ternyata mahasiswa agribisnis bisa puitis juga ya :D

    BalasHapus
  29. wow !!! jurusan agri-salfat ? tema dan isinya sesuai jurusan :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waduh, saya istilah baru lagi itu mas haha.
      Terima kasih ya.

      Hapus
  30. Waa..saya terlambat dong ini sudah hari Kamis :)

    Iya sekarang banyak lahan hijau yang dijadikan perumahan, tanah pertanian jadi menyempit terus ujung-ujungnya import bahan pangan deh :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah iya nih mbak. Tuhkan nyesel kan nyesel :D
      Mantap nih, salah satu pengamat pertanian juga ya mbak hehe.

      Hapus
  31. wah keren itu puisi kolaborasi yang indah ^^ Bener seperti ada komunikasi emosi tanya jawab di dalamnya, namun tidak tertulisnyata.
    Di kala yang lainnya berlomba lomba ada puisi cinta, kamu malah bikin puisi agroekosistem.

    Amazing 18 th udah sadar begini!
    malulah harus nya bapak bapak yang cuma peduli sama dunia properti itu..

    Ditunggu rubriknya selasa depan ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak kita membuatnya berantai via line hehehe.
      Kebetulan saja waktu itu saya lagi kepikian sektor tani, rasanya seru juga kalau dibahas. Yasudahlah akhirnya tercipta puisi ini, Mbak.

      Siap 86!
      Terima kasih ya, Mbak :)

      Hapus
  32. Huehehehe. Baca ini jadi ingat seseorang yang dulunya mahasiswa agribisnis. Dan sekarang pergi merantau. Duh jadi baper. :'D

    Sukses ya buat Prosa Selasanya. Seru juga, pertanian dan perkebunan dijadiin bahan buat nulis puisi :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Duh, masa lalu ya mbak #eh
      Terima kasih ya.

      Hapus
  33. wew, anak anak agribisnis bisa buat puisi se-keren ini !! gut...gut...
    lahan pertanian sekarang sudah banyak yg beralih fungsi. kalau di daerah saya, kebanyakan dibeli oleh pemerintah buat dijadiin jalan tol.

    BalasHapus
    Balasan
    1. *Benerin kerah*
      waduh miris juga ya.

      Hapus
  34. Hallo awal :)
    awal yang baik bisa menemukan ProsaSelasa.

    ditunggu prosaselasanya lagi

    BalasHapus
  35. saya anak ilmu ekonomi mas, jadi tertarik bikin puisi tentang ilmu ekonomi juga hahaha
    bisa nggak ya? kayaknya bakal absurd xD

    tapi saya rasa ini adalah puisi yang unik, baik isinya, maupun proses dari membuatnya :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah agribisnis juga ada ekonominya loh, Mas. Ekonomi pertanian hehe.
      Coba aja dulu, Mas. Kita gabakal tau hasilnya sebelum pernah mencobanya sama sekali, bukan? Hehehe.

      Terima kasih :)

      Hapus
  36. Uwh!! Terbaik lah
    Merasa terpanggil nih :" lanjutin project selanjutnyaaaaa ya ditunggu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ewh. Attention to all of commenters, ini salah satu penulis dari puisinya nih haha.
      Siap 86!

      Hapus
  37. Asyek, setiap selasa ada prosa. Oke, bisa nih pantengin. :D

    Pertanian kita sebenernya dulu bagus, tapi kenapa sekarang impor, ya? Miris, kan.... :(
    Semoga lu dan anak-anak agribisnis bisa membuat pertanian Indonesia. Aamiinn.

    Gue saat ini baru bisa mendoakan. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Asik. Tunggu selasa depan ya, Bang :D

      Salah satunya karena permintaan masyarakat tak sebanding dengan ketersediaan komoditasnya, Bang. Banyak faktor yang kondisional sih sebenernya.
      Buat pertanian Indonesia lebih maju? Aamiin.

      Hapus
  38. Ada typo dikin mah di "Selasa di surga bisa blog ini bisa dibaca kamu" harusnya "Serasa di surga bisa blog ini bisa dibaca kamu".....

    Btw Prosa nya bagus :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang disengaja kok mas hahaha. Terima kasih :D

      Hapus
  39. Tulisan ini bikin aku inget tulisan di sosmed beberapa waktu lalu yang isinya kira-kira begini, "jika ikan terakhir di laut sudah diambil, jika pohon terakhir di hutan sudah ditebang, jika air terakhir di sungai sudah kering, uang bisa untuk apa?" intinya, Indonesia rindu alamnya. Hmmm semoga tulisan di blog ini bisa buat kita introspeksi ya. :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah iya kak, saya juga pernah membaca kutipan kalimat itu.
      Maka dari itu, lestarikan. Terima kasih :)

      Hapus
  40. Semoga sektor pertanian kita tidak semakin punah ya karena banyak alih fungsi sawah maupun ladang menjadi lahan perkotaan. Petani butuh tempat dan kita butuh hasilnya. Btw jarang banget ada anak muda yg mengangkat isu ini, masalah pertanian rasanya terlalu membosankan untuk kebanyakan orang. Sukses ya buat km dan teman2mu semoga bisa bikin sajak berantai lagi

    BalasHapus
  41. setahu saya .. kayaknya baru ini ada puisi tentang pertanian ...
    mudah2-an dengan puisi2 indah ini .. pertanian semakin maju .. indonesia menjadi swasembada pangan ...

    BalasHapus
  42. nice prosanya, begitulah alam tak ada yang menjaga, tanah pertanian semakin sempit, siapa yang akan menjaganya kalau bukan kita???

    BalasHapus

  43. If you are going for best contents like me, just pay a quick visit this site everyday since it provides quality contents, thanks craigslist san antonio

    BalasHapus