#ProsaSelasa: Semoga Tidak Lagi Terjadi

21.58 Awaldi Rahman 75 Comments



Durasi Baca: 5-6 Menit

Tengah malam dan belum aku bisa tidur
Suntuk buat mata terasa jadi sulit diatur
Namun masih malas tubuhku naik kasur
Untuk terpejam nyenyak dan mendengkur

Sendiri aku terbuai di ujung lamunan
Hingga waktu pun tak sempat lagi kuperhatikan
Hanya diam yang mampu dominasi keadaan
Tenggelam dalam duduk termenung memikirkan

Benakku diajak imajinasi melanglang
Melayang terbang datang lalu hilang
Semua maslahat terbayang berulang
Dari bangsa ini mulai banyak yang berkurang

Di bagian bumi bernama ibu pertiwi
Politisi senggol sana senggol sini
Kalah lalu mendengki, menang tak tahu diri
Berujung pada melukai rakyat sendiri

Bergulat atas nama kongsi dan koalisi
Berebut kursi beradu elit jas safari
Dana reses dipakai kebutuhan pribadi
Salah, bukan kebutuhan tapi hasrat diri dan emosi

Gagah diri alih alih berorasi
Basa-basi tebarkan janji ilusi
Teriakkan selamatkan martabat negeri
Realita jadinya atau sebuah teka teki

Kemudian dua instansi pemerintah saling beradu
Berbalas tangkap saling kuat-kuatan regu
Media vokal informasikan kabar dengan ragam tajuk terbaru
Warga jadi penentu, apresiasi dan reaksi tentu berlaku

Gerangan apa cekcok mereka berlandas
Siapa ditindas siapa menindas seakan jelas
Bergeming hati ini penuh tanya gemas
Dimanakah sesosok pemimpin nan tegas

Semakin bertambah penasaran aku dengan lingkup hidup di nusantara
Kebenaran nampak semakin timpang di kelopak mata
Hal keadilan rumpang dibiarkan menganga
Petinggi yang seharusnya jadi promotor bangsa bermain licik dari balik meja kerja

Di bagian bumi bernama ibu pertiwi
Politisi senggol sana senggol sini
Kalah lalu mendengki, menang tak tahu diri
Berujung pada melukai rakyat sendiri

Tercekik rakyat juga tertusuk hingga palung hati
Meninju wajah yang terus menari rasanya ingin sekali
Sayang hadirnya hanya pada layar televisi
Empat belas inchi besarnya itu pun belum lunas terbeli

Begitulah geramnya komentar tetangga selepas maghrib tanpa membual
Saat aku tanya terhadapnya negeri ini makin jadi barang komersial
Dia tetanggaku adalah si miskin yang hidup nya terpingkal
Oleh candaan monopoli ekonomi si kaya dari gedung bertingkat terhadap finansial

Polemik berbagai sektor masih bermacam wujudnya
Sungguh letih mengiba dengan semua fakta yang ada
Mari buang penat nestapa, mari jemput bola bahagia
Bangkitlah indonesia, bukan sekedar macan asia juga hebat di mata dunia

Buka kembali mata nusantara yang sudah lama sayu dan semu
Tegak kan badan berjalan bangga buat kembali langkah baru
Bersama berpadu bertopang bahu bungkus rapi memori masa lalu
Marilah kita berseru, Indonesia bersatu!

Di bagian bumi bernama ibu pertiwi
Politisi senggol sana senggol sini
Kalah lalu mendengki, menang tak tahu diri
Berujung pada melukai rakyat sendiri
Semoga tidak lagi terjadi

MAR & HIA
Jakarta - Sudan
29 Januari 2015

 

-0-0-0-

 

Filosofi #ProsaSelasa: Semoga Tidak Lagi Terjadi:
Helo teman-teman! Selamat hari selasa ya. Belum telat untuk menerbitkan #ProsaSelasa yang baru, bukan? Hehe. #ProsaSelasa kini hadir lagi untuk mengisi waktu kalian selama beberapa menit saja. Prosa ini diambil dari arsip lama memang dan hadir dalam kemasan tema bahasan yang berbeda lagi tentunya. Prosa ini tercatat rampung pada tanggal 29 Januari 2015 silam. Artinya kurang lebih sudah jadi pada setahun yang lalu. Lebih tepatnya lagi ketika Indonesia sempat dihebohkan masalah kpk vs polri. Tenang, maksud saya di sini bukan untuk mengungkit masa lalu atau masalah lama. Terlebih ke arah menyelipkan banyak harapan kepada mereka. Ya, satu harapan dari satu kepala yang mungkin mewakilkan banyak kepala lainnya.
Masih menggunakan konsep sama dengan #ProsaSelasa pekan lalu (baca di sini) yaitu puisi yang dibuat secara berantai dengan seorang karib saya semenjak SMP. Ini bukan kali pertama atau kedua kami berkolaborasi membuat sebuah prosa, melainkan untuk kesekian kalinya. Mungkin di #ProsaSelasa lain waktu bisa saya ceritakan awal mulanya saya bisa berkolaborasi dengan karib saya ini. Semoga.
Bagian awal dari prosa ini di awali dengan permulaan seseorang yang tak bisa tidur ketika malam sudah beranjak larut. Mungkin bahasa kekiniannya itu insomnia. Sudah memasuki waktu bagian galau dini hari saat itu. Melamun. Duduk termenung. Galau. Pikirannya dibayang-bayangi oleh berbagai macam kisruh yang terjadi di negeri ini.
Jadi, dalam prosa ini si tokoh utama merasa bingung dengan politisi yang kerap kali masyarakat mengidentikkannya laiknya ‘oknum’ yang tukang buat onar, buat  sensasi, dan tak jarang buat heboh. Terkadang, untuk mendapatkan posisi yang diinginkannya itu membuat mereka melakukan cara yang kurang terpuji. Menghalalkan segala cara. Entahlah semua itu berujung pada sebuah tindakan nyata atau sekedar janji belaka. Selalu saja di televisi ramai tentang mereka, tentang cekcok antara aparat negara yang seharusnya kompak dan saling mendukung guna menjaga keutuhan dan stabilitas negera.
Belum lagi dari segi ekonomi. Mungkin dari sudut pandang anak kimia yang melihat perkara tersebut akan berlaku hukum Markovnikov, “Yang kaya akan semakin kaya, yang miskin juga semakin menjadi-jadi.” Hal yang timpang ini tak hanya dirasakan oleh si tokoh utama, tetapi juga si tetangga yang menjadi pemeran bantu ini juga merasakan hal yang serupa.
Eits, tapi tenang saja kawan, masih banyak juga politisi yang ingin mengharumkan nama, mengangkat harkat serta martabat bangsa Indonesia melalui profesi mulianya itu. Masih banyak dari mereka yang sepenuh jiwa dan raga melayani. Setulus hati mengabdi pada ibu pertiwi. Masih banyak juga dari mereka yang peduli. Semoga saja pada akhirnya mereka semua satu visi. Bak semboyan negeri ini saja, “Berbeda-beda tapi tetap satu jua.” Kalau bukan menjadikan negeri ini macan di Asia bahkan dunia apalagi. Semoga saja semakin banyak generasi muda yang lahir dan bisa melanjutkan tongkat estafet perjuangan memajukan bangsa ini.
Oleh karena itu, sebelum jatuh terlelap tidur si tokoh utama ini menyimpan banyak harap semoga hal-hal buruk yang terjadi pada akhir-akhir ini tidak lagi terjadi. Harapannya, ketika esok hari bangun Indonesia bisa menjadi macan asia yang mengaum gemparkan dunia. Tapi, semua itu kembali lagi ke seluruh lapisan elemen masyarakat. Perlu didorong dengan penuh tenggang rasa antar sesama. Perlu didorong rasa saling percaya. Perlu didorong dengan saling mengingatkan dalam kebaikan. Demi Indonesia yang lebih aman, tentram, dan damai. Juga demi Indonesia yang kembali menjadi sebuah satu kesatuan yang utuh.
Mungkin, sebagian dari kalian berpendapat prosa ini merupakan sindiran keras. Prosa yang menjatuhkan. Sarkasme. Tapi bukan itu sebenarnya maksud dari prosa ini terbuat, bukan. Sebagaimana yang telah dipaparkan tadi, inti dari prosa ini adalah harapan-harapan akan kebaikan. Dibanding dengan syair Taufik Ismail yang berjudul “Malu Aku Jadi Orang Indonesia.” Prosa ini bukanlah apa-apa. Lewat syair tersebut, Taufik Ismail mengekspresikan kekecewaannya terhadap pemerintah dan itu merupakan tamparan keras bagi para aparat negara. Kembali lagi saya tekankan, inti dari prosa ini adalah menekankan akan harapan sebuah kebaikan yang didambakan oleh banyak orang. Terima kasih.
Gimana pendapat kalian? Yuk beri pendapat terbaik kalian. Seperti biasa, silakan berbeda pendapat.

75 komentar:

  1. prosanya bagus gan, ijin bookmark yah!

    BalasHapus
  2. Mudah-mudahan bisa istiqomah dalam amanah, dan bisa menegakkan kebenaran diatas keadilan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Untuk Indonesia yang lebih maju. Aamiin.

      Hapus
  3. apapun tujuan prosa ini,,,yang pasti isinya keren mas....

    BalasHapus
  4. Keren nih prosanya.
    Kadang juga suka kepikiran nasib negeri tercintah ini sebelum tidur, mau sampai kapan terus-menerus di tengah ketidak jelasan. :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ewh calon pemimpin nih sebelum tidur galauinnya nasib bangsa haha.
      Terima kasih ya!

      Hapus
  5. Kalau menurutku sih, semua berhak untuk berprosa. Eh tapi ... setelah sebuah prosa dilempar ke publik, penulisnya sudah 'mati'. Karena apa pun itu, publik yang menentukan. ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, setuju nih kak. Karena publik lah yang akan menilai.

      Hapus
  6. Nah kan bener tentang daleman Indonesia.
    Di, menurut gue mending jangan pake filosofi, biar pembaca bener-bener nyari tau tentang apa isi dalem prosa tersebut. tapi itu menurut gue loh.
    Kalau itu sebagai ciri khas lu, ya lanjutkan :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thank you bang sarannya.
      Iya nanti beberapa prosa ke depan bakal ada yang gak ada filosofinya kok.
      Entahlah, mau menghadirkan sesuatu yang unik, menarik, dan beda aja sih, Bang :)

      Hapus
  7. Keren uuyy prosanya.. jangankan yang berjabatan tinggi, rakyat kecil pun juga banyak yang seperti itu tentunya sesuai dengan porsinya..

    No comments lah tenang beginian takut salah :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, jangankan petinggi, rakyat kecil pun juga bisa seperti itu ya.

      Hapus
  8. Emang saya juga kagak ngerti sih gimana pemikiran orang-orang kita yg udah diatas sana .. gaji gede, tpi nggak cocok sama tingkah laku mereka ..
    Mereka ribut mulu, twitwar jotos2an mengatasnamakan rakyat .. tapi toh hasilnya nggak sampe2 ke rakyat hmmm ...

    Alangkah lucunya negri ini ..

    Prosanya bagus bang. . keresahannya dapet walopun agak latepost .. hehehe ..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo bang bantu buat perubahan buat negeri ini.
      Mungkin masih bisa menggambarkan keresahan untuk sekarang ini juga kali ya bang.
      Thank you, Bang!

      Hapus
  9. memang benar si kadang kita merasa kecewa dengan para wakil rakyat dan polri. namun masih banyak juga politisi yg berprestasi. Itu sebabnya kita (rakyat) harus bersama2 ikut mengawasi dan mengawal semua kebijakan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju dengan pendapat Hanan.

      Bdw, prosanya bagus~

      Hapus
    2. Mari kawal secara bersama terkait kebijakan pemerintah. Terima kasih ya :)

      Hapus
  10. martabat negeri...kupikir selintas tadi bacanya martabak..huhu
    oke aku lagi laper baca ini heheh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Duh jadi ikutan laper, Mbak. Karena saya juga pecinta martabak nih :D

      Hapus
  11. saya juga selalu berharap, terutama berharap bisa membuat prosa sebagus ini juga :)
    keren, mas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pasti bisa kok, Mas. Terima kasih :)

      Hapus
  12. Prosa pertama yang gue baca di blog sampe selese. Keren yah :')
    Coba anak muda sekarang punya pemikiran kayak gini semua, nggak cuma biaa selfie sambil nginjek bunga doang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yeay, keren bisa sampai selesai. Kalau baca terus setiap hari selasa nanti lebih keren lagi mbak hahaha.

      Hapus
  13. keren nih prosanya
    kayak2 berbau pemerintahan gitu
    ah tapi gtw juga deh
    soalnya gw gtw maknanya hahaha

    BalasHapus
  14. keren nih prosanya
    kayak2 berbau pemerintahan gitu
    ah tapi gtw juga deh
    soalnya gw gtw maknanya hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih aja deh ya bang biar cepet hahaha :D

      Hapus
  15. Wah, udah lama juga ya prosanya dibuat. Tapi keren. Keresahannya masih berlaku untuk ekarang kok.
    Ini aku baca prosanya udah kayak baca lirik lagu rap. Pake flow gitu. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Buahahhaha guee barusan nyobain, sambil ngerap. Seruu juga ternyata. Wkkw

      Hapus
    2. Wah syukur deh kalau masih berlaku.
      Hahaha saya jadi ikut-ikutan coba di-rap nih. Seru sih bikin senyum senyum sendiri kalau udah selesai.

      Hapus
  16. Bacanya jadi bermenit-menit ni mas, setiap satu kalimat diem dulu mikir artinya :))

    Kesimpulannya saya kembalikan lagi pada judulnya : Semoga tidak lagi terjadi :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waduh, mungkin mbak kurang minum aqua? Hehehe.

      Hapus
  17. Bagus untaian kata dari prosanya, seakan mewakili teriakan rakyat atas segala derita di ibu pertiwi yg umumnya diakkibtkan ingkarnya para politisi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih mbak sudah mau mampir dan membaca.

      Hapus
  18. Balasan
    1. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing :D

      Hapus
  19. Wah.. Wah.. Wah.. Sepertinya saya punya bacaan baru nih tiap selasa. Keren. :D

    Menarik jika kritik disampaikan dengan seni, tata bahasa indah, kritiknya pun menusuk sangat dalam padahal disampaikan dengan lembut. Hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Baca prosa selanjutnya ya, Bang.
      Kritikan dalam seni terkadang malah lebih nusuk ya haha.

      Hapus
  20. Bhangke! gue jadi tertarik pengen belajar bikin prosa tema gini nih. Ah sayangnya otak gue bekum nyampe sini nih huhuhu

    BalasHapus
  21. Prosanya bagus mas bisa mencerahkan anak muda nih ya kayaknya,,, politisi emang suka senggol sana senggol sini kayak joged dangdut tuh ya,,, waduh... :)

    BalasHapus
  22. Wah ada durasi bacanya juga yah, kenapa di kasih durasi gan! kaya fil aja!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gapapa biar ga kalah serunya sama film hehe.

      Hapus
  23. pantesan pas baca kok kayak perseteruan polri dan kpk waktu dulu, ternyata prosanya dibuat udah lama yaa.

    Wah ini nih, demi kekuasaan emang apapun dilakukan. saling menjegal bukan lagi hal yang aneh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, ini prosa lama yang baru diangkat ke permukaan.

      Hapus
  24. mantap nih.. kayak nazwa sihab kalau mau akhirin acarnaya hehe

    gue baru kesini deh kayaknya. dan ternyta lo pemerhati masalah negara kita iini. gue juga merhatiin tapi jarang ditulis di blog gni.

    semoga nggak terjadi lagi, masalah-masalah yang ada kedepannya apalagi di 2016 ini :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah iya tuh bang. Saya selalu suka statement akhir di acara mata najwa yang biasanya dibacakan langsung oleh dia.

      Hola bang salam kenal dan sering-sering main kesini ya!

      Yap, sebagaimana tulisan move-on di blogmu bang. Move on ke arah yang lebih baik :)

      Hapus
  25. aku pernah bikin tulisan judulnya indonesia 20 tahun ke depan, langsung jleb semua aspek krn kalo pejabatnya tetap bejat ya bakal bejat negara kita..

    btw, masih alus ini mah, ndak sarkas kok :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah masih alus ya ternyata. Jadi rada tenang deh sekarang mbak hahaha.

      Hapus
  26. halo salam kenal balik ya awaldi, kuliah di ipb atau...?
    hehe posting kamu lagi berat banget, saya jadi inget masa kuliah waktu masih di organisasi pers :D *eyaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukan IPB kak, tapi Unpad.
      Duh saya juga tertarik masuk pers kampus nih kak. Doakan semoga bisa masuk ya hehe.

      Hapus
  27. Keren prosanya. Dan ternyata nggak dibuat oleh satu orang. Keren banget kolaborasi kalian. Pas di tengah-tengah feelnya dapet banget. Mengomentari beberapa politisi yang saling menyingkirkan dengan cara apapun. Bahkan mengorbankan rakyat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, ini puisi dibuat secara berkolaborasi dengan karib saya semenjak SMP. Terima kasih, Mas :)

      Hapus
  28. Suka ih remaja kritis gini. Uh :'v

    BalasHapus
  29. boleh bro, rimanya sejalan di setiap paragraf. cuma ada yang tyop tuh.. media lokal jadi media vokal.
    politik terkadang memang menakutkan.
    ulah picik pelakunya terkadang membuat kesal tak karuan.
    sama-sama berlomba-lomba mencari koalisi untuk menjanjikan kesehjateraan
    pada akhirnya bukan kesehjateraan yang didapatkan
    tapi hanya segumpalan rasa penyesalan dan bawa perasaan.

    asik kan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Duh baper dong hahaha.
      Btw, terima kasih ya atas segala masukan dan komentarnya.

      Hapus
  30. mengritik itu menurut ak sah2 aja, sebagai sarana menyatakan pendapat, asal tidak menyinggung orang lain

    intinya prosa mu, Keren mas :-) lanjutkan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yap, setuju. Terima kasih ya, Mas.

      Hapus
  31. Hai Awaldi kawan baru di dunia per-blogger-an
    Aku suka prosamu yang berisi tentang harapan
    Negeri ini memang sedang dilanda kekhawatiran
    Tapi aku percaya generasi muda akan membawa perubahan

    Salam penikmat prosa :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo kak.
      Iya, generasi muda lah harapan bangsa untuk menjadi agent of change, ke arah yang lebih baik lagi tentunya.
      Terima kasih ya kak.
      Salam :)

      Hapus
  32. Insomnia melahirkan prosa yang punya rima indah. Pas. Mantap nih prosanya. Saya paling susah ngerangkai prosa, jadi two thumbs up deh untuk prosa ini, yang meski udah hampir setahun umurnya, masih tetep bisa selaras dengan keadaan sekarang.

    Udah sering didengung-dengungkan kalo Indonesia itu macan Asia yang sedang tertidur. Semoga aja tidurnya ga kelamaan ya. Kalo ngomongin para politisi, yah... begitulah mereka. Semua punya motif masing-masing. Meskipun tidak semua politisi itu bermain kotor, tapi jika ada politisi yang terekspos media karena "politik kotornya", maka rakyat pasti langsung men-judge buruk politisi.

    Saya suka kekritisan di prosa ini. Generasi muda emang sebaiknya kritis akan kondisi negeri (saya sendiri ngga bisa sekritis prosa di atas hehe). Selain kritik, uniknya prosa di atas memuat kalimat ini: "Empat belas inchi besarnya itu pun belum lunas terbeli" --> nice statement, menggelitik dan jujur.

    There will be hope. Akan selalu ada harapan kok. Harapan untuk Indonesia yang lebih baik :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Harus dibangunkan dari hibernasinya sepertinya ya, Mas Bayu. Nah itu juga sih yang membuat rakyat men-judge bahwa politisi itu kotor, karena seringkali terekspose di media massa.

      Terima kasih loh hehe.
      Sungguh, harapan itu tentu masih ada, Mas.

      Hapus
  33. Visit
    Ayyasymsyfpel.blogspot.com yak.
    Ajarin nulis juga jan lupa.

    BalasHapus
  34. Awesome....
    Suka dengan jenis tulisan kayak gini...
    Ada kepekaan yg lebih berwarna...
    Saya menikmati tulisannya hingga paragraf terakhir....
    7menit kurang saya menikmatinya
    ^^

    Two thumbs up

    BalasHapus