#ProsaSelasa: Fenomena Sosial(ita)

00.50 Awaldi Rahman 40 Comments



Durasi Baca: 4-4 Menit
"Fenomena Sosial(ita)"

Dengan kebaya ber-renda
Wanita ibukota bersolek manja
Merk kosmetik top dunia
Dari make up sampai heels di kakinya
Rata rata tinggi harganya
Kalau ingin tahu dari mana dapatnya
Coba tanya suaminya
Atau cek rekening tabungannya
Berapa total saldo mereka
Saldo itu dana

Si dia harum betul aroma parfumnya
Bombshell Fantasy Fragrance, secara
Parfum keluaran Victoria's Secret ternama
Harga nya 500 ribu US$ saja
Saja

Dia si kaya dan aku si miskin
Seakan ada jurang pemisah
Seakan ada cinta dibatas istilah
Pada yang seharusnya terjamah
Bukan paras yang menjadikan indah
Bukan harta yang menjadikan mewah
Namun rendahnya hati dalam telatah
Lihatlah ke bawah

Libur dihabiskan satu bulan di Paris
Caturwulan selanjutnya vakansi di Venice
Adelaide Perth Melbourne dan Sydney Australia
Winterswijk Rozendaal Eindhoven Denhaag Utrecht Amsterdam Belanda
Paspornya sudah perpanjang kali ketiga
Isinya cap-cap imigrasi semua
Juga visa untuk pelancong wisata

Perawatan kulit wajah tiap hari minggu
Hias kuku disalon tiap hari sabtu
Fitness kebugaran tiap hari rabu
Dirinya gemerlap saat tertangkap kamera
Menebar senyum manis di wajahnya
Memang benar manis senyum wajahnya
Sayang tak semanis tingkah dirinya
Sedikit sedikit foya foya
Hura hura
Sudah jadi biasa

Dia si kaya dan aku si miskin
Seakan ada jurang pemisah
Seakan ada cinta dibatas istilah
Pada yang seharusnya terjamah
Bukan paras yang menjadikan indah
Bukan harta yang menjadikan mewah
Namun rendahnya hati dalam telatah
Lihatlah ke bawah

HIA & MAR
16 Februari 2016
Sudan - Jakarta

-0-0-0-

Baca #ProsaSelasa pekan lalu: Ketika Tuhan Rindu
Filosofi #ProsaSelasa: Fenomena Sosial(ita):
Berjumpa lagi dengan #ProsaSelasa di hari Selasa! Sebagaimana janji saya di postingan sebelumnya, prosa selasa pekan ini benar-benar fresh from the oven dan hal tersebut bisa terlihat dari tanggal rampungnya, 16 Februari 2016. Yeay!
#ProsaSelasa kali ini membahasa salah satu fenomena dalam konteks sosial. Itulah kenapa prosa ini diberi judul “Fenomena Sosial(ita)” Terinspirasi dari mereka-mereka yang muncul di layar kaca, tampil tenar dengan segala ke-glamour-annya, membuat rumor bertajuk terkini, sampai sedikit-sedikit dipublikasikan ke khalayak ramai lewat akun media massa miliknya. Belum lagi, mereka-mereka yang menonjolkan jiwa hedonismenya secara terang-terangan.
Tetapi, jiwa sosialnya terhadap masyarakat lain yang lebih membutuhkan ini masih bisa dibilang kurang. Tetapi, mereka terlalu asyik memikirkan bahagia di dunianya sendiri dan jarang peduli pada sekitarnya. Tetapi, seakan ada sekat pemisah antara mereka si kaya dan si miskin. Tetapi, seakan ada cinta yang dibatasi oleh istilah mereka si kaya dengan aku si miskin. Padahal, masih banyak di sekitar mereka yang lebih butuh mengenyam sekadar nikmatnya makan enak, berpakaian layak, serta tempat tinggal yang nyaman. Padahal, mereka bisa saja memperbaiki sekaligus memperindah elok dirinya hanya dengan mengalahkan egonya lalu memulai untuk peduli akan kehidupan di lingkungan sekitarnya.
Memang, terkadang beberapa dari mereka tertangkap kamera sejumlah media ketika kegiatan ajang amal berlangsung. Hanya saja, apakah itu ikhlas setulus hati atau apa hanya sekadar salah satu cara untuk menaikkan pamor, memperbanyak penggemar, serta dianggap memiliki rasa kepedulian. Bukan, bukan bermaksud untuk berprasangka buruk. Tetapi, siapa yang tahu? Namun apabila yang mereka lakukan itu demi kebaikan dirinya juga yang lain, that’s good enough.
Pesan moral yang disisipkan pada prosa kali ini adalah sebaik-baik manusia ialah yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Khoirunnaas Anfauhum Linnaas. Begitulah kurang lebih sabda Nabi berbunyi. Hal tersebut tersirat pada kalimat "Lihatlah ke bawah" Maksudnya kita diminta untuk berendah hati dengan segala apa yang kita punya. Lalu, berbagilah serta pedulilah. Dengan berbagi, kita sendiri yang merasakan dampaknya. Dengan berbagi, kita telah melakukan upaya menjadi sebaik-baiknya manusia. Mulia, bukan? 
Sebenarnya, gaya kepenulisan prosa ini sendiri inspirasinya datang dari gaya puisi-puisi penyair ternama angkatan tua, Taufik Ismail. Tiap baris yang memiliki ke-khas-an kalimatnya tersendiri dan bait-bait berulangnya. Karya-karya mereka yang fenomenal itulah yang menginspirasi kami sehingga terlahirlah prosa “Fenomena Sosial(ita)”ini.

Itu dia #ProsaSelasa pekan ini. So, what’s on your mind?

40 komentar:

  1. Love this one!
    Success to be ur first reader, any reward for this? :"

    BalasHapus
  2. Dan mungkin menjadi diri yang rendah hati itu berlaku untuk semua orang. (y)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju, Mbak. Teruntuk semua orang :)

      Hapus
  3. Luar biasahh.
    fenomena jaman sekarang nih, banyak yang sibuk memamjakan diri sendiri, memang gak salah asal gak lupa sama orang-orang yang dibawah.
    Hidup gak usah mewah-mewah, makeup, perawatan kulit, parfum mahal, tas brandede gak dibawa mati kok.

    BalasHapus
    Balasan
    1. #adibahedisibijak
      Btw setuju kok! Hehe :D

      Hapus
  4. suka bagian
    Bukan paras yang menjadikan indah
    Bukan harta yang menjadikan mewah
    Namun rendahnya hati dalam telatah
    Lihatlah ke bawah

    btw, suka banget sama pemilihan diksinya (y)

    BalasHapus
  5. Iya sekarang jamannya yang kaya makin kaya yang miskin makin blangsak !!
    Apalagi artis2 yang jadi simpenan anggota2 dewan tu, pasti pamer kekayaan mulu..
    kalo nggak pamer sehari aja keknya gatel2 tu ..

    Ya Allah, kok comment gue jadi emosional gini, maap ya bang diw..

    Salut sama kekosistensiannya terkait ProsaSelasanya nih .
    Tepuk Tangan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. setuju sama Azka, aku juga jadi emosi.

      Hapus
    2. Ya namanya juga fenomena sosialita ya, Bang.
      Geram sendiri juga sih terkadang ketika melihat berita berbau topik ini.
      Tapi ya mau gimana, emosi juga belum cukup untuk merubah hal tersebut kan bang hehehe.

      Yeay!
      Thank you, Bang.

      Hapus
  6. prosanya keren diw.
    aku bingung mau komentar apa, pas baca agak kebawa emosi juga. sependapat aku sama Azka dan Aireni kata-katanya itu lho keren banget.

    ditunggu prosa selasa berikutnya diw.

    BalasHapus
  7. Prosanya keren, dan aku setuju banget sama pernyataanmu kalau kaum so-SIAL(ita) amat jarang melihat kebawah, melihat pun untuk pencitraan aja.

    Fenomena sekarang, lebih asik buat pamer kekayaan, pamer tas mahal, pamer mobil mewah, dsb. Padahal kalau merutku kenapa uang yg amat berlebih2 itu g dipakai buat yg lebih bermanfaat kayak pernyataanmu juga. Bagaimana kalau uang buat beli tas herpes yg harga beratus jeti itu dibuat bantuin warga yg masih kesulitan mendapatkan air bersih, misal di ntt. Duit buat lamborgeneh dialihkan untuk membantu mendirikan sekolah di daerah pedalaman.

    Sayangnya, bukannya semakin merunduk layaknya padi, kaum mereka kayak padi yg g ada isinya, mendongak terus. Semoga mereka cepet sadar. Cepet tau arti bersyukur itu seperti apa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yeay ada yang sependapat!
      Wah, aku juga baru tau kak ternyata di sana itu terdapat kebijakan semacam itu juga ya. Salut ih.

      Nah, padahal sempet mau menyisipkan pengibaratan padi ini kak di dalam prosanya. Tapi enggak jadi hehehe.
      Aamiin. Semoga saja begitu ya, Mbak.

      Hapus
  8. Untung gue masih sekolah, masih ngeliat temen-temen gue yang tingkat glamornya cuma selevel update Path tiap jam. jadi gak mengira "wah, kayak temen gue nih".

    Subhanallah, kali ini prosanya ada selipan tausyiah. Sering-sering begini dong, bang, biar gue betah bacanya. Hehehe

    Sedih sih, kalo ngeliat fenomena begini. Mereka berfoya-foya, sedangkan saudaranya sengsara. Nelangsa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau itu fenomena sosialita versi anak sekolah ya, Rob.
      Iya ya, miris juga kadang rasanya sih begitu melihat atau sekadar mendengar hal semacam ini.

      Haha biasanya juga diselipin pesan moral juga kok. Hal terpenting sih menyelipkan sebuah pelajaran yang bisa diambil dari setiap prosanya.

      Hapus
  9. Aku berasa enak bacanya mas :D dan agak lucu juga sih kata-katanya :D sukaa ini mah :)0

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waduh, ada lucunya juga ya haha.
      Terima kasih ya, Mas! :)

      Hapus
  10. bagus kak..fenomena artis ibukota :D
    ijin copas yg ini ya Khoirunnaas Anfauhum Linnaas :v

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat :)
      Terima kasih ya.

      Hapus
  11. WEEEWWWWW...
    yang kaya makin kaya, yang miskin makin yahhh gitu dah, trus yang diatas makin berkuasa yang di bawah makin tertindas.

    Trus juga sekarang memang sudah jamannya riyah bang :'( apa-apa di pamerin, tas, perhiasan,lagi makan di restoran berbintang di pamer sekalipun memberi kesesama atau yang lebih membutuhkan di pamerin juga. Jadi maunya apa ???

    kira-kira beli indomie sekardus pakai 500 ribu US$ saja, cukup nggak yah ??

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi lama kelamaan hukum kimia markovnikov ini bisa jadi hukum alam juga ya, Bang.

      Ya setidaknya itulah yang membutuhkan penyadaran dari diri sendiri kali ya.
      Itu sih lebih dari cukup bang. Bisa mabuk indomie selama setahun itu hahaha :D

      Hapus
  12. So sweet words there :)

    Salam kenal dan terimakasih sudah bertandang. wah site tampilannya menarik, khususnya waktu yang disempatkan untuk mengedit cover tiap selasa... salut......

    Keep writing and happiness

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama ya, Mbak.
      Semangat dan terima kasih ya :D

      Hapus
  13. keren banget ini serius.. mencerminkan kenyataan yang sebenarnya di zaman sekarang ini.
    ada pesan moralnya jugaa
    semangat kaka,hehe terus berkarya:)

    BalasHapus
  14. Prosanya nyindir ibu-ibu hedon nih, ya? Ahaha. :D

    Keren euy. Cuma pas di bagian nyebutin daerah-daerah yang rada ribet, tidak enak saat bacanya. Overall, bagus banget, Man! :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Apalagi di bagian ini, Winterswijk Rozendaal Eindhoven Denhaag Utrecht Amsterdam Belanda. bacanya giman, ini. :(

      Hapus
  15. Pernah baca, klo sosialita itu suka sewa potografer khusus buat motoin kegiatan mereka yg ala ala...jehehe, biasanya tp ada yang bertameng punya yayasan sih biar citranya di masyarakat bagus karena ada pula yg terjun ke dunia sosial gitu

    BalasHapus
  16. mancayyy, bagus mas prosanya!!!
    pemilihan diksi nya juga dapet :D

    BalasHapus
  17. Ahhh seperti biasa. prosanya selalu keren. Semoga para sosailita ada yang baca, nih.

    BalasHapus
  18. *tepuk tangaaaan*
    Bombshell Fantasy Fragrance ? kok kamu tau ini segala haha.

    AKu kok kayak bisa menebak siapa tokoh ini ya.
    Miss syahrini. Itu yang aku pikirkan pas baca prosa ini.

    BalasHapus
  19. Sindir alus lewat karya prosa *angkat topi*

    Iya sedih ya, kata sosialita mengalami pergeseran makna di Indonesia, padahal seyogyanya sosialita adalah orang-orang yang sering melakukan aksi sosial untuk membantu sesama tanpa perlu ada sorot kamera (≧▽≦)

    BalasHapus
  20. pfftttt, lumayan kesindir sama prosanya mas....
    yaa emang gitu, pencitraan :p
    mungkirnya buat sesi dokumentasi tapi yaa entahlah siapa yang tahu

    BalasHapus
  21. prosanya keren badai :) sudah seharusnya yang kaya itu memiliki sifat rendah hati hehe

    BalasHapus
  22. saya berusaha menangkap fenomena dan arti sosialita ketika dulu saya menonton film arisan 2, sosialita bagi saya adalah dunia di lingkaran berbeda :)

    BalasHapus
  23. Emang semua itu tak dapat di pungkiri guyss -__-

    BalasHapus
  24. Kunjungaan perdana, salam kenal ya mas.

    Rubrik #ProsaSelasa ini sungguh bagus sekali, membahas sesuatu dalam bentuk prosa rasanya beda dari yang lain.

    Sosialita tampaknya sdh menjadi hal yang biasa dan lumrah dikalangan masyarakat. Tentu citra seperti itu agak tidak terlalu baik untuk perkembangan bangsa kita.

    Implementasi utama dari sikap syukur adalah semakin dekat dengan sang pencipta. Selain itu, syukur hharusnya membuat kita berlaku sederhana.

    Postingan mas keren. Jempol. Saya follow ya mas

    BalasHapus
  25. Luar biasa. Membuat kritik sosial melalui sebuah prosa secara elegan :)

    Sosialita itu bertebaran di seluruh muka bumi. Entah apa yang mendorong mereka untuk hedon, pasti banyak faktornya. Bagi mereka, mungkin mendapatkan duit sama mudahnya dengan menghamburkan, padahal di luar sana masih banyak yang membutuhkan. Ah entahlah, biar masing-masing diri kita pribadi yang menilai mana yang layak dan mana yang tidak. Gua cuma berharap semoga mereka sadar bahwa hidup itu tidak selamanya selalu berada "di atas".

    Ya Allah, parfum harganya ampe USD 500.000? Btw, kalo boleh nambahin, ada satu lagi fenomena sosialita lokal itu: Arisan. Biasanya kan arisan mereka banyak, dan sekali arisan bisa ngeluarin duit banyak :D

    BalasHapus