#ProsaSelasa: Ketika Tuhan Rindu

23.50 Awaldi Rahman 37 Comments



Durasi Baca: 5-6 Menit
"Ketika Tuhan Rindu"

Semua terbang dengan alasan
Semua terbang membawa harapan
Pada tanah mereka dilahirkan
Pada tempat yang dijanjikan
Pada peluk yang dinantikan
Namun tuhan lebih merindukan

Semua hendak bersua
Semua hendak berjumpa
Tapi satu arah mereka
Pada kampung kita bermula

Semua masih kelabu
Semua masih pilu
Langit angkasa mengumpat tersendu
Awan beriringan bersama haru
Hujan turun titipkan sedu

Saat ini
Semua menanti
Saat ini
Semua kembali

Jakarta, 4 Januari 2015
Pukul 08.08 WIB

-0-0-0-

Baca #ProsaSelasa pekan lalu: Paramasastra Ekonomi
Filosofi #ProsaSelasa: Ketika Tuhan Rindu:
Alhamdulillah masih dipertemukan lagi dengan hari Selasa pekan ini, Yeay!
#ProsaSelasa kali ini boleh diambil dari arsip lama lagi. Tepatnya pada tanggal 4 Januari 2015 lalu. Mungkin sebagian dari kalian sedikit-sedikit mulai menerka atau menduga dari isi prosa tersebut bisa dikaitkan dengan insiden apa, kapan dan di mana. Filosofi khususnya, prosa ini inspirasinya terlahir dari hilangnya pesawat Air Asia QZ8501 pada 28 Desember 2014 silam. Berita kejadian ini sempat heboh selama beberapa pekan di media massa. Mulai dari proses pencarian bangkai pesawatnya, pencarian black boxnya, pengangkatan puing-puingnya hingga evakuasi para korban maupun crew pesawatnya. Tak satu pun dari mereka yang selamat. Ketika itu saya turut ikut berduka, bahkan sampai sekarang.
Padahal, beraneka ragam alasan dan harap dari mereka ketika mengangkasa. Mungkin ada yang hendak melakukan riset pekerjaan, mengejar kata sepakat dengan klien bisnis, bertemu sanak keluarga juga kolega, atau sekadar mengisi waktu liburan untuk berekreasi saat itu. Namun apadaya alasan dan harap itu semua ketika Tuhan lebih merindukan. Ketika Tuhan lebih menginginkan mereka semua untuk kembali ke kampung di mana mereka semua bermula. Kampung akhirat.
Sedangkan filosofi umum Prosa Ketika Tuhan Rindu ini adalah semua yang bernyawa pasti akan meninggal. Kita semua akan dihadapkan dengan suatu hal yang bernama kematian. Tak peduli kita hendak melakukan pekerjaan apa, tak peduli berapa jumlah angka dibalik kata sepakat dalam sebuah bisnis, tak peduli siapa yang hendak ditemui, dan tak peduli sebahagia apa setelah mereka berlibur ria. Ketika Tuhan berkata terjadilah, maka terjadilah. “Kun fayakun.
Meskipun itu kejadian lama, mungkin masih membekas duka memorinya dalam benak kita semua. Ya, kita semua. Tak hanya keluarga korban yang ditinggalkan. Semoga saja mereka yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kekuatan. Semoga mereka yang dirindu Tuhan diberikan tempat terbaik di sisi-Nya. Aamiin.


-0-0-0-

Menyelipkan cerita sedikit bolehlah ya di sesi #ProsaSelasa kali ini hehe. Saya mau bercerita tentang dibalik terbit terlalu malamnya #ProsaSelasa pekan ini. Jadi begini, dalam hitungan hari saya akan dihadapkan dengan semester dua. Namun, sampai siang hari tadi saya belum membayar kuliah untuk semester dua tersebut, terlebih lagi hari ini terakhir untuk melakukan pembayarannya. Dampaknya, saya belum bisa memilih mata kuliah apa saja yang akan saya ikuti selama semester dua nanti.
Begitu pulangnya mami saya sore tadi, saya lupa untuk menanyakan hal tersebut apakah uang untuk kuliah sudah ditransfer atau belum. Saya malah sibuk memutar otak prosa apa yang akan diterbitkan untuk hari ini. Sibuk menjelajahi arsip-arsip yang ada di laptop saya. Berharap kali saja ada satu atau dua prosa lama saya yang menganggur hehe. Jujur, saya sama sekali belum kepikiran untuk menerbitkan prosa apa hingga sore tadi dikarenakan kehabisan stok prosa.
Barulah selepas maghrib tadi saya beranjak menanyakan uang kuliah kepada mami saya. Ternyata sudah ditransfer dari siang tadi dan buktinya sudah dikirim ke Whatsapp saya. Maklum, selama liburan ini saya menonaktifkan whatsapp karena memang tidak ada paket internetnya. Setelah tahu akan hal itu, saya langsung beranjak ke atm dan langsung melakukan transaksi untuk biaya kuliah. Transfer and done! Saya masih bisa merasakan semester dua :D
Sesampainya di rumah, saya langsung gerak cepat untuk memilih mata kuliah apa saja yang akan menjadi santapan lezat di semester dua nanti. Usut punya usut, semester dua ini kami diberikan jatah sebanyak 21 sks atau sekitar 8 mata kuliah. Namun, dalam proses pemilihannya saya hanya mendapat 7 mata kuliah! Kelas-kelas yang disediakan untuk satu mata kuliah lagi (Statistika dasar) penuh semua! Lalu saya stress mendadak, kalap. Bagaimana bisa hal itu terjadi, padahal satu mata kuliah itu bersifat wajib di semester itu. Oleh karena itu, esok pagi saya memutuskan untuk beranjak pergi meninggalkan ibukota Jakarta dan merantau kembali ke Jatinangor. Mohon doanya ya guys biar saya masih bisa diberikan kesempatan untuk mengenyam satu mata kuliah itu.
Selain itu, masih ada alasan lain kenapa prosa kali ini diambil dari arsip lama. Karena saya sedang dalam sebuah project lomba puisi yang deadline-nya pertengahan Februari ini. So, wish me luck ya!

Semoga #ProsaSelasa pekan depan fresh from the oven. See you! J

37 komentar:

  1. Kunjungan perdana. Suka sama headernya. Kekinian.

    BalasHapus
  2. Gudlak sama projectnya ya, Man. Semoga menang! Bikin yang keren kayak prosa ini. Ehehe. :D
    Waduh, udah lama juga ya berarti tragedi Air Asia itu. :(
    Gue malah lupa tanggalnya. Ehehe.

    Hahaha, gue malah belum bayaran, dan terakhir disuruh bayar tanggal 20 bulan ini. Uangnya belom ada. Belom dapet penghasilan lagi. :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, udah terbilang cukup lama juga sih kejadiannya, Bang.
      Hehe thank you, Bang!

      Semangat 45, Bang Yog!

      Hapus
  3. Prosanya selalu keren dan lebih kerennya lagi tragedi hilangnya pesawat Air Asia pun bisa menghasilkan prosa yang bikin pembaca (aku) jadi terenyuh (?).

    Semoga masih berkesempatan untuk mengenyam makul Statistika dasar ya. Good luck buat project nya \:D/

    BalasHapus
    Balasan
    1. Duh, bisa aja nih, Kakak. Hahaha :D
      Aamiin. Terima kasih ya, Kak!

      Hapus
  4. Begitulah kematian ya mas, sangat misterius bisa datang kapan saja. Tetapi manusia harus tetap semangat menjalani masa depan, dan kita hanya bisa berdoa untuk orang-orang yang telah mendahului kita ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Karena misteriusnya itulah yang membuat kita harus mempersiapkan sedari dini mungkin ya, Mbak. Tentu harus dijalani dengan semangat dong. Yap, berdoa untuk para pendahulu kita :)

      Hapus
  5. Seperti biasalah prosabya keren abiiis. Btw, semoga lucky babg projectnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Terima kasih, Bang Uben! :D

      Hapus
  6. Good luck untuk kamu dan semoga bisa ambil 1 mata kuliah statistika dasarnya. Jangan patah semangat dan puisinya juga bagus :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Semangat 45 dan terima kasih ya, Kak :)

      Hapus
  7. tragedi pesawat bisa dijadiin tema prosa hebat
    coba deh tragedi belum bayaran kuliah dijadiin prosa juga dah
    kan udah dapet tuh resahnya tinggal dituangin aja

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha boleh juga tuh idenya, Bang :D

      Hapus
    2. Ya Allah, idola banget dah kalo lagi bener :')

      Hapus
    3. Ya Allah ini bang Niki abis munum obat pasti :')

      Hapus
  8. Kereen. ngena nih.
    cukup menampar, jadi jangan cuma mengeluh sedang merindu, tapi harus mempersiapkan sesuatu, karna suatu saat Tuhan akan merindukan kita, hamba-hamba berlumur dosa.
    *brb**langsung sholat taubat*

    balada anak nangor yess, gua nyusul lah Insyaallah taun ini. :')
    Gudlak buat project nya bang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, menghadapi SBMPTN aja perlu persiapan, masa menghadapi kematian enggak kan ya? Hahaha. Ketik Tuhan sudah merindu, apalah daya kita semua. *shalat taubat juga*

      Goodluck buat SBMPTN-nya!
      Thank you ya!

      Hapus
  9. keren dah puiasinyua, tapi aku bingung baca yang lainya, ini kunjungan pertAMKU SALAM KENAL :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih ya. Salam kenal juga! :)

      Hapus
  10. Walaupun ini diambil dari arsipan, dan pas pada moment hilangnya Air Asia, tapi setelah lo posting prosa ini, kok kebetulan banget ada tragedi pesawat tempur latih jatuh di Malang bang diw ..
    jangan2 muridnya Ki Joko Bodo ya ??

    Benar walaupun tujuan kita terbang untuk ketemu sanak famili ?? tapi apa daya kalo Tuhan yang lebih pengen ketemu mereka ..

    semester 2, aduh semester masih unyu2nya nih ..
    Semoga sukses deh kuliahnya,
    semoga sukses juga buat lomba puisi yang sedang dilaksanakan.. :)
    Aamin

    BalasHapus
  11. sebuah prosa sebagai perpanjangan kisah dan atau sebuah kisah yang kadang kala justru terjadinya bersamaan dengan penayangan post ini

    BalasHapus
  12. Aku jadi bingung, Di. Ini sebenarnya postingan tanggal berapa, sih? Hahaha.

    Tapi, aku selalu suka dengan prosanya. Seperti yng aku bilang sebelumnya; selalu ada sesuatu. Nggak cuma kata-kata kosong gitu saja. Ajarin lah bikin yang kayak beginian, Di! Muehehehe.

    Dan, semoga dapat hasil yang memuaskan untuk projectnya itu, ya!

    BalasHapus
  13. sukses ya diw dwngan projectnya, aiih keren nih prosanya tentang tragedi air asia.
    udah lama juga ternyata.

    kematian emng bisa datang kapan saja, dan gak peduli dengan keadaan.
    kren lah prosanya.

    BalasHapus
  14. Ini selalu yg saya tunggu dr blog awaldirahman.com .. prosa2 dg makna topik2 atau kejadian di Indonesia.. semoga korban2 insiden Air Asia QZ8501 mndptkn tmpt terbaik disana.
    Btw sukses semester dua nya bro. Gmn akhrnya matakuliah statistik dasarnya?

    BalasHapus
  15. Woaah i know how it feels ketika isi krs dan kelas udah abis. hiks.

    Btw aku juga suka sama prosa mu kali ini, dari awal aku sudah menyimpulkan kalau apa yang diciptakan tuhan dan hidup nanti nya akan mati kembali kepada tuhan. Tapi aku belum kepikiran soal insiden jatuhnya pesawat itu.

    Nice prosa awaldi :))

    BalasHapus
  16. maka pertanyaannya adalah sampai dimana sudah persiapan kita untuk menjemput kerinduan itu???

    BalasHapus
  17. Prosanya indah, unsur kesedihannya juga dapet, apalagi pas dibagian namun Tuhan lebih merindukan.

    Btw, sukses dengan projectnya ya..

    BalasHapus
  18. beuh paling mellow deh kalau bahas insiden pesawat air asia itu. they're somebody's daughter, somebody's son, somebody's mom, or somebody's dad, and maybe they're somebody's wife, somebody's husband, rasa rasanya kayak baru kemarin, iya gak sih?

    daaan,kok aneh bgt ya, kalau matkul statistik itu wajib, itu artinya semua mahasiswa tingkatnya kamu ya pastinya bisa masuk, lah ini malah penuh? atau kamu mahasiswa yg tdk diakui? hehehehe kidding.
    ooo jadi kamu unpad yg di nangor yah, sekalinya saya ke nangor itu wkt ke Jatos buat nntn Mockingjay, bisa dibilang Jatos mall yg paling deket dr kosan

    BalasHapus
  19. Ah iya, sempet ada kejadian ini ya. Sampe lupa kalo ada jatuhnya pesawat Air Asia. Mungkin, Tuhan sedang rindu dengan orang-orang yang gagal selamat.

    Abis baca ini, langsung ngebayangin kematian yang begitu dekat. Serem dan gak siap buat ngebayanginnya :((

    Semoga menang, ya, bang Rahman, di lomba puisinya. Dan semoga dikuatkan kembali di semester dua hingga akhir kuliahnya. Aamiin.

    BalasHapus
  20. Kereeeen, gudlak ya Di.

    Aku udah jarang nulis puisi/prosa atau semacamlah :(

    BalasHapus
  21. Peristiwa QZ8501 itu cukup membekas di hati. Sedih. Tau berita itu pas pulang dari jalan. Ingat banget waktu itu aku ngatain yang ulang tahun hari itu, karena dia ulang tahuh makanya pesawatnya jatuh. Hahaha. Eh, Astagfirullah :(

    Tapi puisinya tetap keren kok walaupun diambil dari arsip lama. Tetap bisa mengingatkan kalau kita punya tempat berpulang sesungguhnya, yaitu akhirat :)

    Semoga lancar ya lomba puisinya, Awaldi. Semoga menang. Dan semoga lancar semester duanya. Semangat! :))

    BalasHapus
  22. Keren prosanya! saya kira tadi soal kiamat gitu, trnyata dugaan saya salah :D
    semoga lomba puisinya menang yes kak !!

    BalasHapus
  23. Oh jadi ini puisi tentang air asia, prosanya keren. Aku suka puisinya..

    Kalau lg masa masa input KRS emg paling ribet ya..

    BalasHapus
  24. Seperti biasa, prosanya keren...
    Untung semester 2 ini gumasih paketan krsnya, jadi nggak ribet rebutan kelas. Eh tapi semester 3 besok udahh ngisi sendiri. harus cepet-cepetan nih dapet kelas

    BalasHapus
  25. Ya, tragedi hilangnya pesawat Air Asia QZ8501 memang jadi sorotan publik ya. Betapa Allah SWT dengan mudahnya ngambil nyawa seseorang, ngga peduli serapih apapun orang tersebut merencanakan segala sesuatunya saat dia sampai di tanah tujuan. Tidak ada yang tahu kapan ajal menjemput. Semua bener-bener rahasia Allah SWT.

    "Tuhan lebih menginginkan mereka semua untuk kembali ke kampung di mana mereka semua bermula. Kampung akhirat" --> merinding bacanya.

    Mata kuliah statistika dasar ya *jadi inget masa-masa kuliah*
    Semoga masih dapet kesempatan untuk ngambil mata kuliah itu, dan semoga sukses lomba puisinya :D

    BalasHapus
  26. unpad ato unpar ni..jatinangor hehhe

    BalasHapus