#ProsaSelasa: Paramasastra Ekonomi

16.01 Awaldi Rahman 48 Comments



Durasi Baca: 5-6 Menit
"Paramasastra Ekonomi"

Dalam skala kecil mempelajari fungsi individu per-industrian
Menyikapi tingkah laku rumah tangga juga perusahaan
Berasumsi rumah tangga memaksimumkan kepuasan
Lalu profit dimaksimumkan perusahaan, di segi mikro perekonomian

Beralih ke skala besar bicara fungsi secara keseluruhan
Menyentuh pelbagai elemen masyarakat jelaskan perubahan
Menganalisis cara terbaik pengaruhi target kebijaksanaan
Tumbuh kembang harap dalam potret sisi makro perekonomian

Adakah kita tahu floor price dan ceiling price selalu jadi biang keributan
Masalah terjadi karena harga dasar dan harga tertinggi tidak sampai kesepakatan
Hingga mekanisme pasar menengahi pun sungkan
Krisis buat jadi semrawut dan serabutan sekaligus dua sekalian

Atau pernahkah kita menyelisik bidang moneter perekonomian
Di mana keadaan stabilitas harga tak mampu lagi tuk dijelaskan
Inflasi sana inflasi sini tak sanggup lagi dikendalikan
Sempurna sudah buat jerit rakyat semakin berkepanjangan

Di undang-undang nomor lima tahun sembilan sembilan
Mengatur masalah monopoli ekonomi, yang sering jadi keterangan pelanggaran
Kuasai barang atau jasa pasar dengan maksud menghancurkan
Yang penting obsesi tercapai dan persaingan dimenangkan, heran

Masih sama di tahun sembilan sembilan
Enam koma dua juta penganggur terbuka suatu institusi memperkirakan
Lebih lagi tahun lalu tujuh koma lima enam juta dalam bilangan
Pantas saja jika pengangguran disebut penyakit ekonomi kekinian, bukan?

Masalahnya semua masalah oleh kita selalu dipermasalahkan
Gemuruh distribusi dan rumitnya birokrasi di musim penghujan
Sama pusingnya seperti menghadapi kemarau berkepanjangan
Belum lagi infrastruktur yang berantakan mengganggu siklus kegiatan

Sampai akhirnya aktivitas impor pun kini menjadi pertanyaan
Setelah pangan, sektor apalagi yang akan ikut-ikutan?
Curigaku esok atau lusa justru petani kita berparas kaukasoid ke-eropaan
Kumohon, cukup impor saja dari mereka tentang sebuah kemajuan

Hanya untuk sekadar menegur kelangkaan
Yang menetap disekitar kita sudah kelamaan
Mungkin bila berhasil kita mengakuisisi kemajuan
Kita temukan antitesis sepadan, supaya tenanglah yang tersedu-sedan

Dengan begitu berkurang pula intensitas oceh berbagai keluhan
Bahkan buat tersenyum sedari ayah ibu bibi hingga paman
Bisa jadi bagi mereka juga yang mengadu nasib di jalanan
Aduhai apakah ini yang mereka bilang tentang negeri ekonomi impian

Sudah banyak wacana yang oleh para ahli dipaparkan
Namun belum semua buah akal itu bisa direalisasikan
Terkecuali apabila kita mau bersungguh dalam edukasi pemahaman
Dengan aplikatif dalam penerapan, bisa kembalikan normal lagi skala perekonomian

HIA & MAR
01 Februari 2016
Sudan - Jakarta

-0-0-0-

Baca #ProsaSelasa pekan lalu: Tentang Waktu
Filosofi #ProsaSelasa: Paramasastra Ekonomi:
Selamat hari selasa para penikmat #ProsaSelasa!
Menurut saya, inspirasi prosa kali ini datang secara tidak sengaja. Pada #ProsaSelasa sebelum-sebelumnya terdapat sebuah komentar yang secara gak langsung merupakan sebuah tantangan bagi kami (saya dan karib saya) untuk membuat prosa yang bertajuk ekonomi. Setelah #ProsaSelasa yang berjudul Tentang Waktu rampung terselesaikan, langsung saja kami eksekusi prosa ekonomi ini. Pada bait ganjil kami suguhkan kepada pembaca tentang sektor ekonomi mikro, selanjutnya bait genap biarkan sektor ekonomi makro yang berbicara, begitu seterusnya.
Ekonomi mikro di sini berbicara mengenai perilaku konsumen dan perusahaan yang tergambar pada bait pertama. Bait ganjil berikutnya, ada penentuan harga-harga pasar yang ikut disinggung juga pada prosa ini. Lalu masih ada lagi masalah monopoli ekonomi sebagaimana yang telah tercantum dalam UU No. 5 Tahun 1999, hal tersebut tentu merupakan salah satu faktor kegagalan pasar. Belum lagi gemuruh distribusi, rumitnya birokrasi serta infrastruktur yang mengganggu mobilisasi.
Lalu ekonomi makro juga hendak angkat bicara pada bait genap. Tentu kita tahu, lewat makro ini yang dipelajari adalah ekonomi secara keseluruhan atau dalam skala yang lebih besar lagi. Mulai dari inflasi yang kerap kali melanda ibu pertiwi, faktor tenaga kerja yang rasanya pengangguran ini bisa disebut penyakit ekonomi kekinian, ada juga sektor impor pangan yang sempat heboh pada awal 2016 ini.
Secara umum, memang terlihat prosa ini seperti berisi problematika baik dari mikro maupun makro. Sedangkan secara khususnya, prosa ini bertujuan untuk hal edukatif. Kalian pernah merasakan rumitnya belajar matematika atau fisika? Bete karena enggak paham-paham setelah baca text book –yang panjang, penuh penjelasan, dan belum lagi bahasa yang sulit dipahami- berulang kali? Nah! Begitu juga tujuan tersirat dalam #ProsaSelasa kali ini sebagai bentuk metode pembelajaran melalui gaya tata bahasa sastra. Jadi, di samping membahas problematika ekonomi segi mikro dan makro, pembaca secara tidak langsung juga sedang mempelajari materi ekonominya.
Saran dari penulis, jika kita merasa jenuh dengan metode pembelajaran yang biasanya diterapkan. Boleh sekali kalian menggunakan metode ini. Setelah buku ekonominya dibaca, dipahami, dan sudah ditandai bagian pentingnya. Bisa dibuat sejenis rangkuman singkat dengan gaya prosa seperti ini. Menarik, bukan? :)
Sebenarnya, ide ini terlahir dari obrolan iseng kami. Berawal dari sajak pertanian kemarin, lalu beralih ke prosa ekonomi ini, lantas kenapa kita tidak buat saja prosa mata pelajaran sebagai metode pembelajaran masa kini. Pelajaran matematika misalnya, belajar melalui bait-bait aksara pada rumpunan rumus dan angka. Siapa yang tahu kalau disajikan melalui tatanan prosa seperti ini, bisa merubah kesenangan terhadap salah satu pelajarannya. Awalnya enggak suka matematika jadi suka, awalnya enggak tertarik ekonomi jadi tertarik. Who knows?
Sekian #ProsaSelasa pekan ini. Terima kasih kalian sudah mau menyempatkan baca prosa kali ini. Sekarang, berikan komentar terbaikmu yuk!

48 komentar:

  1. cakep
    master prosa nih
    antara sastra dan ekonomi jadi satu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Suka berlebihan gitu ah nih, Bang Niki.
      Btw, terima kasih ya! :D

      Hapus
  2. Marveolous....!!

    Sastra memang sangat nikmat jika dibungkus dengan sektor apapun...
    Ia melembutkan keangkuhan
    Dan melunakkan Kemarahan... entah itu marahnya seorang politisi,ulama,ilmuwan atau seorang yg peka dgn kondisi ekonomi..

    Lanjutkan yaa...
    Suka menikmati prosa selasanya..
    Manis untuk di renungi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Melembutkan keangkuhan dan melunakkan kemarahan. At least, saya setuju dengan statement ini, Mbak. Ada benarnya juga sih ya.

      Siap. Terima kasih ya, Mbak :)

      Hapus
  3. belajar ekonomi itu susah, banyak penghafalannya dan itungannya juga ribet banget. ilang satu nol ajah susah banget nyarinya. tapi dengan dibuat prosa kayag gini semakin mudah deh kayagnya. pengambilan bahasa dan kata juga pas banget. jadi bisa belajar 2 hal dalam satu tulisan. belajar prosa + ekonomi.. prosa + matematika, fisika atau kimianya bang sekalian. kalo udah bungkus yaa :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waduh, dicari dulu inspirasinya ya, Bang! Hahaha :D

      Hapus
  4. Wah, permasalahan dan kritik terhadap perekenomian bisa dibungkus sekeren ini dalam bentuk prosa. Hebat. Ada beberapa bait yang masih belum bisa aku pahami pada saat pertama kali baca, tapi pas baca lebih lanjut tentang filosofinya, jadi langsung paham. Hueheue, keep it up \:D/

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe emang begitu sebenarnya fungsi dari filosofi tersebut, biar memudahkan para pembaca saja. Terima kasih ya! :D

      Hapus
  5. keren prosanya nih soal ekonomi, wah kalo pembeljarnya model kek gini kyaknya menarik usulan penulis bisa di coba.
    mantep lah diw prosanya. buat selasa depan apa nih prosanya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuk mas dicoba metodenya haha.
      Rahasia perusahaan, Mas :)

      Hapus
  6. Sama seperti prosa-prosa sebelumnya, selalu ada sesuatu di dalamnya, ya. :)

    Kalau gue bilang sih, ini cerdas, Di.
    Enggak, Gue nggak berlebihan. Kamu, dan teman kamu, berhasil membuat persoalan ekonomi menjadi 'sesederhana' ini.

    Terus, yang masalah metode pembelajaran. Gue juga setuju. Rata-rata anak muda sekarang, mulai dari smp sampai sma, biasanya suka dengan hal-hal yang berbau aksara gitu. Lihat aja di status-status sosial media mereka. Kadang banyak di jumpai puisi-puisi patah hati. Ini menunjukkan, kalau mereka mempunyai minat ke hal itu (prosa, aksara). Bisa di wujudkan nih. Mulai dari diri sendiri dulu tentunya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yap. Lagi dirintis sama karibku dulu nih, Bang. Semoga aja bisa terus berkiprah di #ProsaSelasa ya. Aamiin.

      Terima kasih loh bang hehehe :D

      Hapus
  7. Keren banget prosanya.. Apalagi ada penjelasannya jadi mudah dicerna dan dinikmati :-)

    Dari obrolan bisa jadi sekeren ini.. salut. Iya juga sih kalo matematika dan ekonomi ada prosanya jadi gimana tuh.. mikir

    BalasHapus
  8. Keren! Wah, sebagai anak sastra, aku merasa kalah!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Duh, kakak suka gitu deh. Jadi enak :))

      Hapus
  9. leh uga nih, semoga prosa ini masuk di soal sbmptn. kan jadi enaak belajarnya. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. SBMPTN Bahasa Indonesia ya, Bah. Apa Ekonomi? :D

      Hapus
  10. Kalau baca prosa harusnya dibaca pake nada gimana sih, Di? Aku kebiasaan kalau tiap baca prosa Selasa selalu kayak baca lirik lagu rap. Ngangguk-ngangguk dan goyangin pundak. Pas di prosa ini, di kalimat, "Yang penting obsesi tercapai dan persaingan dimenangkan, heran." Kayak lagu rap beneran :'D

    Iya ya. Kalau belajarnya dengan bikin ringkasan dalam bentuk prosa kayak gini, kayaknya bakal lebih nyaman belajarnya. Ringan. Dan seru. Apalagi kalau memang hobi nulis. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya sesuai dengan penjiwaannya aja, Ca. Aku terpikir sih untuk membuat versi musikalisasi puisinya di soundcloud, tapi masih dalam tahap pembelajaran dulu hehe.
      Waduh, rapper pisan ya kamu anaknya haha.

      Nah, dicoba ca! :D

      Hapus
  11. adudekk aku nggak pernah kepikiran buat prosa ekonomi. Keren banget.

    eh aku mau tanya "Menyentuh pelbagai" ini betul gitu ? engga typo ya ?

    Boleh juga itu idenya : mempelajari sesuatu dan di rangkum dalam prosa. Lain kali bikin tips membuat prosa seperti itu yahh ^^
    Sukses selaluu #prosaselasanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar kok pelbagai kak. Itu sama aja berbagai sih kalau di KBBI hehe.

      Hihi siaaap!
      Terima kasih ya, Kak! :)

      Hapus
  12. Inspiratif, Di. :)

    Benar, jika kita kesulitan paham dg suatu pelajaran. Kita bisa permudah dg metode yg kita suka. Salah satunya yg kamu dan kawanmu lakukan, prosa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuk dicoba, Kak! Terima kasih ya :)

      Hapus
  13. Waduy bagak berat prosa nya kali ini .. ngebahas masyarakat ekonomi asia ..
    Tapi tadi di matkul Pancasila, gue sempet dapet wejangan juga dari dosen pengampu ..
    Agak offense dikit :

    Pemerintah saat ini dalam tata ekspor-import agak kurang tegas, apa2 kita ngimport, Indonesia yang kaya akan agraris aja masih ngimport beras dari luar negri .. kata Beliau (dosen gue) karna disebabkan oleh mentri2 dan wakil rakyat yang nggak berkompeten dibidangnya, bukan lulusan pertanian, jadi mentri tani, bukan lulusan olahraga, ngurusi olahraga .. ya semrawut akhirnya ..
    Beda sama era kepemimpinannya pak Harto yang emang menempatkan orang2 yang bener2 pada bidangnya, bahkan kalo sampe si mentri itu gagal dalam tugas, pasti langsung pecat dan ganti baru .. itu mengapa pada era pak harto kita lebih sering eksport daripada import, dan Dollar nggak pernah lebih dari 3000 rupiah, sekarang udah hampir 15000 ..

    tapi tetep semua orang ada baik dan buruknya, kalo era pak harto dulu kebebasan pers sangat dikekang, jadi kalo ngritik dan comment kayak gini.. kita bisa2 pulang tinggal nama..
    Kalo pemerintah demokrasi sekarang kan bebas, mau ngoment kek, ngritik kek, dijadiin materi blog dan meme kek, bebas .. Muahaha ..
    Jadi tinggal pilih ekonomi yang merata atau kebebasan demokrasi ..

    Wihh kayaknya ini sejarah gue comment terpanjang di blog orang deh ..
    Perlu dapet award nih .. :3

    BalasHapus
    Balasan
    1. *Angguk-angguk* Wah ternyata begitu ya sejarahnya. Lumayan nambah wawasan euy, Bang.
      Dosennya keren! Bang Azka juga keren bisa menjabarkan materi kuliahnya, tandanya gak titip presensi dong ya? Hahaha.

      Thanks bang udah mau sharing! :))

      Hapus
  14. akhir akhir ini kok gue sering baca tulisan, puisi, cerpen bahkan postingan blog yang menulis angk jadi huruf. apa seh.
    m maksudnya seperti ini
    "Di undang-undang nomor lima tahun sembilan sembilan"

    jadi nyastra yaa.. apa ada ketentuanya gak boleh masukin angka di sastra?

    btw keren ya.. ekonomi bisa jadi nyastra gitu... keren...

    obrolan sama temenmu berbobot dong ya berarti. aku klo ngobrol ama temen gak pernah se berbobot ini hasilnya. hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Boleh kok, Mbak. Cuma biar terkesan ada nilai seninya aja disitu. Karena kami bermain juga pada rima tiap baitnya :)

      Duh itu juga lagi berbobot aja kok hahaha.
      Terima kasih ya! :D

      Hapus
  15. Kelihatannya mudah banget ngubah apa-apa dibikin jadi paramasastra kayak gini, kalo tinggal ngebaca mudah gak tau bikinnya.

    Tapi keren lah, bisa merubah ekonomi yang kelihatan menyeramkan jadi menarik kayak gini. Lain kali coba deh bikin paramasastra tentang sejarah atau geografi gitu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih.
      Siaaap, Bang. Semoga inspirasinya ada ya haha.

      Hapus
  16. keren....
    awal baca td sya gak ngeh. tp mkin lama trasa kyak baca puisi. heheheh...
    unik dan kreatif. prosa yg bertemakan pelajaran ekonomi...

    BalasHapus
  17. Satu kata buat prosa diatas...
    |
    |
    |
    #Amazing

    BalasHapus
  18. Cairan otakku bocor. Dari dulu aku selalu pusing kalo lihat tulisan-tulisan yang menyangkut ekonomi. Serius. Entah kenapa walaupun disajikan ke prosa kayak gini, aku bacanya tetep berat banget. Kayaknya ketidak sukaanku sama ekonomi hampir full banget nih :'(

    BalasHapus
  19. Ide yang inspiratif :D
    Dulu kuliah di teknik sipil, mungkin bisa juga ilmu2 itu di jadikan prosa seperti prosa ekonomi di atas, hehe teknik sipil penuh dengan ilmu fisika newtonian jadi pasti seru tuh :3

    Ikutan klub mading di kampus ga?
    kalau ikutan bisa tuh taruh hasil karya prosa mu di mading.. hehe klo ga ikutan klub mading juga bisa titip ke anggota mading nya. tentu prosa yang pertanian yah, krna km di jurusan pertanian :D

    BalasHapus
  20. saya selalu salut dengan orang2 yang pandai memainkan perasaan melalui prosa maupun puisi.. apalagi tema yang diangkat adalah hal2 yang berkaitan dg politik, ekonomi dll. Membuat pembacanya menjadi lebih peka thdp info2 terkini. keep writing bro

    BalasHapus
  21. Waduh, sebagai anak Ekonomi, ini dari tadi gue bacanya ngangguk-ngangguk nih. Bener banget apa yang lu omongin, Man! :))

    Ide lu keren juga, ya. Bikin semangat kalau emang Matematika, Fisika, Akuntansi, dan beberapa pelajaran hitungan (yang gue tidak bagus di bidang itu) bisa jadi semangat belajar. Mantaplah teknik prosanya. :D

    BalasHapus
  22. Gue anak sekolah yang kalo ada lintas minat Ekonomi selalu ngantuk, dibikin seger karena bacaan yang asoy ini. Mantap.. mantap.. mantaap!

    Kalo boleh tau, apa udah pernah bikin prosa tentang pelajaran Kimia?

    BalasHapus
  23. Saya tetap gak mudeng, malah tambah tuing-tuing cenat cenut kepalanya wkwkwkwkk

    BalasHapus
  24. Dari kemaren Rubrik ini boleh dibilang keren banget di. Soalnya jarang ajakan, orang-orang bisa menyenangi sesuatu jika dipaksakan. Mendingan dibuat prosa seperti itu, ya. "Ide brilian ya."

    Cuman, cara ini harus lo ajarkan ke yang lain, di. Biar gak berhenti di lo aja. Kan keren juga, tu. Sekalian bagi2 ilmu, biar semua orang bisa suka sama Ekonomi, matematika, fisika, biologi dll.

    BalasHapus
  25. emosional banget mas :))

    Duh, masalah perekonomian dibikin prosa :D apa nggak dewa banget kamu mas :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah suka berlebihan gitu deh, Mas. Jadi enak :D
      Terima kasih ya!

      Hapus
  26. Ini namanya kreatif bgt...

    Oh iya, bahasanya itu kayak lgi nonton mata najwa,, yg biasanya di akhir acara.

    Tapi bener bang,,.ini keren!

    BalasHapus
  27. Selalu terkesima sama prosa selasa-nya. Yang ini mantap banget. Tantangan berbuah sebuah prosa ekonomi yang enak banget dibacanya. Bait ganjil untuk mikro, bait genap untuk makro. Keren :D

    Baik mikro maupun makro emang ngga bisa dipisahkan. Keduanya saling melengkapi. Permasalahan makro kerap membuat kening berkerut: inflasi, tenaga kerja, impor, dll. Yang belajar teorinya aja kadang suka bingung, apalagi jajaran pemangku kepentingan yang mesti muter otak sedemikian rupa buat nyelamatin kondisi perekonomian negeri ini hehe. Well, kita doakan aja semoga perekonomian kita bisa pulih dan "macan asia"nya meraung ya :D

    Ekonomi dibalut sastra. Keren, beneran. Boleh request ngga, kalo ada inspirasi dan kesempatan, boleh lah di prosa selasa tolong dibahas tentang prosa akuntansi hehe :p (juga prosa disiplin ilmu lainnya, ini bisa jadi suatu hal yang sangat kreatif dan bermanfaat).

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Semoga saja bisa segera pulih dan lekas menjadi macan asia ya, Mas.

      Akuntansi ya? Boleh juga nih tantangannya haha. Semoga bisa dibuat untuk #ProsaSelasa lain waktu ya, Mas.

      Hihi thank you ya, Mas Bayu :))

      Hapus
  28. Wah, prosa liris ekonomi ini.. :)

    BalasHapus