Part 01: The Power of Forgiveness

00.08 Awaldi Rahman 22 Comments


Durasi Baca: 5-5 Menit

Tak terasa, Bulan Ramadan yang berlangsung selama tiga puluh hari ini berlalu begitu cepat. Begitu terasa cepat karena terlalu banyak amalan-amalan yang seharusnya bisa maksimal dilakukan dengan baik, namun apadaya jika masih banyak perbuatan khilaf yang menjadi noda diri. Oleh karena itu, mari fitrahkan diri kita di hari yang fitri ini.
Setiap tahunnya, ketika Idul Fitri tiba, tradisi yang sudah kian melekat di banyak negara adalah saling bersilaturahim dan saling bermaafan. Salah satu negara yang menjadikan keduanya tradisi adalah bangsa kita sendiri, Indonesia. Ya, meskipun sebenarnya saling bersilaturahim dan saling bermaafan ini tak melulu berlangsung ketika lebaran saja, tetapi paling tidak kedua perbuatan baik ini kita lakukan rutin setiap tahunnya.
Nah, berkaitan dengan saling memaafkan ini, saya jadi teringat akan sebuah kisah yang mungkin bisa dijadikan bahan perenungan buat kita semua –termasuk saya pribadi.

Buah Apel dan Rasa Benci
Alkisah, suatu hari di dalam kelas terdapat seorang ibu guru SMP yang sedang mengadakan permainan bagi murid-muridnya. Ibu guru tersebut meminta agar esok hari para muridnya membawa sebuah kantong plastik transparan yang berisikan buah apel. Jumlah berapa banyak buah apel yang harus mereka bawa itu harus disesuaikan dengan jumlah orang yang dibenci dalam hidupnya. Misal, kalau si A merasa benci dengan 1 orang, berarti ia harus membawa 1 apel dalam kantongnya. Sedangkan si B merasa benci dengan 2 orang, maka ia harus membawa 2 apel dalam kantongnya. Begitulah peraturannya dan berlaku untuk kelipatan seterusnya. Dalam kata lain, murid-murid ini dibebaskan untuk membawa seberapa banyak apel di dalam kantongnya.
Keesokan harinya, para murid dengan riang gembira membawa kantong plastik transparan tersebut yang bersama di dalamnya beberapa buah apel. Cukup bervariasi jumlah apel yang mereka bawa. Ada yang hanya membawa 1, ada yang membawa 3, ada pula yang membawa 7, bahkan ada yang membawa 11 apel. Luar biasa! Dalam benak mereka saat itu, apel-apel tersebut akan mereka makan selayaknya mereka memakan dan mengoyak orang yang mereka benci. Tetapi realita tak sejalan dengan ekspektasi mereka. Ternyata, apel-apel tersebut harus mereka bawa kemana pun mereka pergi selama sepekan lamanya. Bahkan harus mereka bawa ketika hendak ke toilet sekalipun.
Hari demi hari silih berganti, apel-apel yang semula segar ketika kali pertama mereka bawa, sekarang sudah mulai membusuk dan mengeluarkan bau yang tak sedap tentunya. Dalam perkara ini, murid yang membawa hanya 1 atau 3 apel akan lebih beruntung daripada mereka yang membawa 7 apel. Satu hal, jangan tanya apa yang akan terjadi pada murid yang membawa 11 apel, Mungkin dia lebih dari sekadar lelah hahaha.
Tepat di hari ke-7, permainan usai. Tentu ada kelegaan tersendiri bagi para murid.
“Jadi, bagaimana rasanya membawa apel busuk selama kurang lebih satu minggu?” tanya ibu guru kepada murid-muridnya.
Satu jawaban dari mereka, tidak nyaman sekali tentunya.
Sang ibu guru pun tersenyum dan kemudian menjelaskan, “Begitulah kiasannya ketika seberkas rasa benci selalu kita bawa dalam hidup kita. Semakin dihiraukan dendam itu dan bersinggah di hati kita, semakin tidak nyaman pula diri kita. Bahkan dampaknya juga bukan pada orang yang kita benci, melainkan akan berdampak pada diri kita sendiri. Sungguh, sangat tidak nyaman sekali bukan ketika setiap hari kita harus membawa apel busuk bernama kebencian?”

Menurut kalian, pelajaran apa yang bisa diambil dari kisah tersebut? Ya, kisah tersebut mengajak kita untuk sekuat hati membuang jauh rasa benci lantas memaafkan orang-orang yang pernah berbuat salah kepada kita, baik secara sengaja atau pun tidak. Mengapa begitu? Karena dengan kita mengambil sikap untuk tidak mau memaafkannya maka sejatinya hal tersebutlah yang akan membahayakan kita.
Sebuah keberuntungan, apel busuk dalam permainan tersebut hanya dibawa selama satu pekan. Mari kita bayangkan, apa jadinya ketika apel tersebut harus dibawa murid-murid dalam kurun waktu yang lebih lama? Dua pekan atau sebulan, misalnya. Barangkali beberapa mereka ada yang pingsan bahkan bisa jadi masuk rumah sakit. Berlaku pula pada rasa benci, lambat laun ia aka membuat diri kita merasa tidak nyaman. Apakah kita mau terus-menerus membawa rasa benci dalam diri kita, bahkan sampai tutup usia nanti?
Sejatinya, ketika kita memaafkan orang lain sebenarnya kita tidak benar-benar melakukan hal tersebut untuk diri orang lain, melainkan untuk diri kita sendiri. Beberapa dari kita mungkin berpikir bahwa ketika telah memaafkan orang yang telah menyakiti atau berbuat jahat kepada kita, maka kita kalah dari orang tersebut. Padahal, disanalah letak kemenangan hakiki kita atas egoisme yang bersarang di hati kita.
Oleh karena itu, mari saling memaafkan satu sama lain dengan tanpa syarat agar kita tergolong orang-orang yang ikhlas. Sebab, saya yakin bahwa setiap orang itu bisa memohon maaf begitu juga memaafkan.
Yuk, jadikan Idul Fitri ini sebaik-baik momen untuk saling bermaafan satu sama lain!

“Bukanlah syair menggoda yang apik tuk dikaryakan. Bukanlah sebatas kata yang romantis tuk jadi rayuan. Bukan. Biarkan kata ini merembah mesra dari pikiran. Juga palung hati yang berkedalaman. Pada akhirnya, meresap indah pada yang mendapatkan.  Waktu begitu cepat terlewatkan. Akhir bulan nan mulia ini sangatlah rugi jika disiakan. Bolehkahku berandai di penghujung ramadhan? Andai terang rembulan dapat kuhentikan. Maka berhentilah cahayanya memancarkan. Hingga tak akan datang esok hari lebaran. Sebelum kata maaf kau perkenankan. Karena itu sisa harapan. Bak air yang tak selalu tampak jernih mengalir, begitu pula tajam ucapku dalam mengatakan. Bak kapas yang tak selalu putih merona, begitu pula prasangka hatiku dalam terka dugaan. Bak lika liku jalan tertampak, begitu pula tingkahku dalam melakukan. Jika maaf bisa kini kau segerakan, untuk apa menunggu esok kau lantunkan? Selamat hari lebaran. Mohon maaf atas segala kesalahan.”

-Awaldi dan Keluarga-




22 komentar:

  1. Menurut saya pelajaran yg bisa diambil adalah apel itu harus dimakan supaya g membusuk
    Sayangkan yg bawa 11
    apel
    Minal aidin walfaidzin

    BalasHapus
  2. Jadi initinya kita harus saling ma'ap-ma'apan nih ?
    okesip, aku minta ma'ap.
    taqobalallahu minna waminkum gan.

    BalasHapus
  3. yap, memaafkan adalah obat terbaik untuk rasa benci. karena secara tak kita sadari, perasaan kita akan menjadi lega ketika memaafkan seseorang dengan tulus. "dengan tulus" loh ya... kalau nggak tulus mah sama aja :")

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju! Ada sebuah rasa kelegaan tersendiri jika sudah memaafkan atau meminta maaf kepada seseorang dengan setulus hati. Trust me, it works. Hahaha.

      Hapus
  4. Perumpamaannya ngena banget. Memang kita harus bisa membuang rasa benci sedikitpun, karena bisa merugikan diri sendiri juga. Selamat Hari Raya Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin Awaldi :)

    BalasHapus
  5. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  6. Analogi apel dan kebencian keren abis. Kayaknya juga baru sekali ini aku membaca cerita kayak gini. Nice story.. apel dan benci. Ya emang sih kuncinya dimemaafkan, tapi kadang memaafkan itu gampang2 susah. Butuh keiklasan yang sangat besar. Selama gak iklas sih gak bisa memaafkan...hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, salah satu rasa yang harus diundang juga adalah ikhlas memang, Bang.
      Terlebih dalam perihal memaafkan. Toh kalau belum ikhlas mah ya terkesan sama saja belum memaafkan. Sejatinya pun ia masih terus membawa apel busuk bernama kebencian itu. Oleh karena itu, setuju banget jika membutuhkan keikhlasan dalam hal ini.

      Hapus
  7. Bener bgt bang, memaafkan orang adalah cara kita melepas kebencian, apalagi dengan ikhlas.

    Minal aidin walfaidin :)

    BalasHapus
  8. Aku baru tau cerita perihal apel itu ._. dan... bener-bener memberi pencerahan banget mas :' nggak nyaman juga yaa menyimpan kebencian terus-menerus. Apel yang seminggu aja jadi busuk dan nggak sedap, apalagi kebencian yang lama tersimpan dibenak terus menerus :'

    BalasHapus
  9. iya. semakin membenci orang lain, kita akan semakin membenci diri sendiri pula. huhu. minal aidin yaa. salam kenal.

    BalasHapus
  10. Wah, aku hadi membayangkan dan menghitung orang yang kubenci. Daripada lelah mrmbawa kebencian... seertinya mrmang hatud kulupakan an memaafkan kesalahannya.
    :) terima kasih ya kisanya bagus...

    BalasHapus
  11. Analoginya pas juga ya hehe
    Tapi Emang gak setiap orang bisa dengan mudah memaafkan, namanya juga pernah disakiti.. butuh kebesaran hati buat bisa memaafkan dengan tulus..

    Kisah di atas perlu dibaca juga buat orang2 yang selama ini jadi benci banget sama mantannya.. uhuy~

    BalasHapus
  12. EHHHH, iya ya. Analoginya nampar. Benci kan awal-awalnya emang enak rasanya. Kalo kelamaan terus menguning, gak enak diliatnya. Tapi kalo gue disuruh bawa apel, nggak bakal bawa kayaknya. Hahaha. Mending dimakan di rumah. :))

    Mohon maaf lahir dan batin ya~

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maksudnya, apel = benci. Enak rasa di awal.

      Hapus
  13. INdonesia ini unik ya kebiasaannya, setiap tahun selalu pas momen lebaran berbondong-bondong untuk maaf-maafan. bahkan sampai pulang kampung juga.

    kisahnya sungguh penuh makna dan pelajaran berharga ya. betapa makin sulitnya kita kalau kita banyak membenci orang jika diibaratkan seperti membawa apel busuk tadi. hmm, jadi mumpung masih momen lebaran ini, lebih baik segera minta maaf ke orang yang kita benci lah yaa.

    BalasHapus
  14. Analogi yg cerdas dari seorang guru. Keren!

    Ya, walaupun gak harus menunggu lebaran untuk saling memberi dan meminta maaf tetap saja kebanyakan orang indonesia menjadikan momen lebaran sebagai ajang memberi dan meminta maaf. Bahkan sampai harus mudik untuk sekedar bertemu sanak keluarga. Tradisi yg harus kita lestarikan!

    BalasHapus
  15. Benar sekali. Benci yang dipendam lama-kelamaan akan meresahkan hati. Dan benci itu tidak ada gunanya sama sekali. Membenci tidak membuat kita tenang, malah sangat meresahkan. Sebaiknya jika kita membenci seseorang, bencilah sewajarnya, lalu secepatnya hilangkan rasa benci tersebut.

    Minal aidin walfaidin.

    BalasHapus
  16. Analoginya keren. Bener juga ya. Udah bawa banyak apel, diikutin sama apel yang makin lama makin membusuk pula.

    Benci yaaa pasti adalah, cuma sewajarnya. Kalo sampe disimpan dan dibawa bawa terus gitu ya, bener, nyiksa diri sendiri juga.

    BalasHapus