Rudy Habibie: Cinta, Filosofi, dan Kepemimpinan

18.37 Awaldi Rahman 13 Comments


Durasi Baca: 7-7 Menit
Akhirnya, setelah sukses menonton film The Conjuring 2 dan Finding Dory, tepat pada Jumat kemarin (9/7) sekaligus memasuki hari ketiga setelah lebaran, saya bersama Mami dan Adik saya berhasil menonton film sekuel dari Habibie Ainun yaitu, Rudy Habibie. Sebuah tontonan yang sudah sepatutnya dijadikan inspirasi bagi generasi muda saat ini. Terlebih, inspirasi itu datang dari seorang publik figur, seorang pembelajar, seorang pekerja keras, seorang pemimpin luar biasa, Presiden RI ke-3, Bacharuddin Jusuf Habibie.
with my younger sister
Jika menilas balik film Habibie Ainun yang pertama di tahun 2012, tentu akan kita dapati seksama bahwa terdapat banyak pesan yang ingin coba disampaikan kepada para penontonnya. Misal, bagaimana seorang Habibie muda berjuang bertahan hidup di negara asing, berjuang dalam menyelesaikan perkuliahannya, berjuang untuk sukses dalam bidang yang digelutinya sampai akhirnya berhasil membangun industri dirgantara, bahkan berjuang untuk mendapatkan seorang teman sehidup semati hehehe. Garis besarnya, hidup ini adalah perjuangan. Kemarin adalah perjuangan, hari ini adalah perjuangan, esok pun perjuangan akan senantiasa ada.
Pada film yang kedua ini pun, Hanung Bramantyo, selaku sutradara bisa dikatakan berhasil menghadirkan sebuah film inspirasi yang apik. Saya sendiri sedari awal begitu menyimak bagaimana jalannya cerita dan pesan-pesan tersirat yang sekiranya bisa untuk diteladani dari sesosok Habibie. Alhasil, selama kurang lebih 142 menit film berlangsung, saya mendapati terdapat tiga pesan penting yang bisa dijadikan renungan bersama. Apa saja tiga pesan tersebut? Let me tell you they are.

1.     Cinta.
Dalam film ini, perihal cinta bisa dilihat dari dua perspektif berbeda. Karena cinta itu tidak melulu soal lawan jenis, bukan? Kedua itu adalah cinta seorang Habibie terhadap keluarganya dan cinta kepada seorang wanita. Cinta yang menjadi pewarna dalam hidupnya ketika di Jerman.
Pertama, cinta Habibie kepada keluarganya. Untuk bertahan hidup di negara orang tentu tidak semudah yang kita bayangkan. Hal tersebut tergambar bagaimana cukup peliknya masa awal hidup Habibie di Eropa Barat sana. Berjalan jauh ke bank untuk mencairkan kiriman uang dari ibunya di Indonesia, namun yang didapati hanyalah kiriman yang belum sampai. Lalu ia memutuskan untuk menelepon ibunya. Setelah mengetahui bahwa kondisi keuangan di Indonesia sedang tidak stabil sehingga memengaruhi keuangan keluarganya, Habibie bersikap legowo akan hal itu dan mencari cara lain untuk bisa sekadar makan, bertahan hidup.
Berbeda dengan kita, bahkan saya sendiri pun termasuk, ketika uang kiriman belum sampai atau barangkali telat sehari saja, sudah pusing tujuh keliling bagaimana harus menyikapinya. Tentu hal itu bisa menjadi pelajaran bagi generasi muda saat ini. Bagaimana kecintaan seorang Habibie kepada keluarganya berpengaruh kepada sikap yang diambil dan bisa dinilai pilihan yang bijak.
Kedua, kecintaan Habibie kepada seorang wanita. Bukan Ainun, melainkan seorang wanita berasal dari Polandia bernama Ilona. Kisah cinta lain dari seorang Rudy Habibie jauh sebelum menemukan cinta sejatinya, Almarhumah Ainun. Kisah yang terbilang cukup unik. Konflik datang lebih dulu dari pihak keluarga Habibie, ibunya mengarahkan agar Ilona bersedia pindah agama dan kebangsaan jika benar-benar mencintai Habibie.
Tidak selesai sampai di situ, Habibie kembali dihadapkan dengan sebuah dilematika, antara harus ikut ke Kota Bonn menemani Ilona atau memilih mewujudkan mimpi-mimpinya untuk Indonesia tercinta. Duh, mungkin kalau kita yang berada di posisi itu sudah galau enggak ketulungan kali ya hehehe.
Pada akhirnya, Habibie lebih memilih untuk mewujudkan mimpinya. Hal itu disebabkan oleh pertemuannya dengan salah satu rekannya di Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Aachen yang ternyata merupakan seorang pendeta pada gereja yang selalu Habibie pakai untuk singgah istirahat sementara dan bahkan shalat. Pendeta tersebut berkata,
“Kamu lebih memilih yang kamu butuh atau memilih banyak orang membutuhkanmu?”



2.     Filosofi.
“Kalau kamu baik, maka lingkungan di sekitarmu juga akan ikut baik.
Tetapi kalau kamu kotor, lingkungan di sekitarmu pun nantinya akan mati, tak ada kehidupan.”
-Filosofi Mata Air-
Begitulah bunyi nasihat yang diberikan oleh Papinya kepada Habibie kecil. Betapa Papinya begitu mendambakan bahwa suatu saat nanti Habibie bisa menjadi ‘mata air’ bagi banyak orang. Karena jika dipikir lagi lebih matang, benar adanya kalau mata air ini memengaruhi air yang ada di sekitarnya. Jadi secara tidak langsung Papinya berpesan agar suatu saat nanti Habibie menjadi orang yang bisa berpengaruh bagi siapa saja. Petuah itulah yang terus membayangi dan menemani Habibie hingga sekarang ini.
Masih kurang lengkap akan penjelasan dari filosofi mata air ini. Sekali lagi pendeta yang merupakan Habibie di PPI Aachen berbagi pendapat. Ia berkata, “Ingat, mata air yang jernih itu hasil gejolak yang luar biasa dari dalam tanah.” Saya sendiri mencoba menafsirkan pendapat tersebut bahwasanya untuk menjadi seseorang yang benar-benar ‘orang’ itu, pasti akan banyak sekali lika-liku dan rintangan yang menguji. Sebesar apa kuat kita dalam menghadapinya, semakin jadilah kita ‘orang’ yang dimaksud. Sebesar apa gejolak dalam tanah yang terjadi, semakin jernih pula mata air yang tercipta.


3.     Kepemimpinan.
Jika kita merujuk kepada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bisa kita dapatkan bahwa arti kata pemimpin adalah orang yang memimpin. Pertanyaannya, siapa yang memimpin dan siapa yang dipimpin? Pertama, siapa yang memimpin. Sebagaimana pengertian KBBI tadi, tentu yang mengambil peran dalam hal memimpin ialah seorang pemimpin.
Lalu siapakah yang akan dipimpin oleh seorang pemimpin? Ya, orang lain. Sejatinya seorang pemimpin, ia harus bisa memimpin segelintir banyak orang yang bisa dipastikan berbeda-beda wataknya. Bahkan bukan sekadar bisa sembarang bisa, tetapi juga mampu mengarahkan sekumpulan orang tersebut untuk mencapai visi dari organisasi yang diusung sejak awal.
Habibie pernah menjadi ketua PPI Aachen. Bersama visi yang dibawanya, ia mencoba mengerahkan rekan-rekannya untuk bisa ikut berkontribusi merealisasikannya. Dalam proses merealisasikannya, masalah datang silih berganti. Barulah jiwa seorang pemimpin di sini diuji. Hebatnya, Habibie mampu menyelesaikan masalah dengan caranya sendiri. Ia menggunakan formula “Fakta-Masalah-Solusi” yang bisa dijadikan inspirasi bagi kita dalam kemampuan problem solving.
Selain itu, masih ada satu pelajaran penting dari karakter seorang Habibie dalam memimpin. Momen yang membuat saya merinding terharu. Ketika Ayahnya meninggal dalam keadaan sujud, Habibie yang menggantikannya menjadi imam shalat. Tindakan seorang anak laki-laki yang menggantikan peran Ayahnya sebagai kepala keluarga –dalam hal tadi menjadi imam shalat. Menurut saya, sungguh luar biasa tindakan itu.
Namun, harus kita ketahui bahwa sejatinya pemimpin itu tidak melulu berbicara tentang memimpin orang lain, tetapi juga memimpin diri sendiri. Apa yang akan terjadi ketika diri kita sendiri tidak dipimpin? Bisa dipastikan akan menjadi tidak mudah dalam memimpin orang lain.
Siapa yang menanam, dia yang menuai. Apa yang diusahakannya, itulah yang nantinya akan didapat. Jika Habibie tak mampu memimpin dirinya sendiri, mungkin saja antara cinta, organisasi, bahkan pendidikannya akan ada yang terbengkalai. Mimpi-mimpinya tidak terwujud. Tetapi, Habibie berhasil memimpin dirinya sendiri sehingga apa yang diusahakannya pun menuai hasil memuaskan.



Kalau ditanya, siapa sosok yang menginspirasi di Indonesia? Maka Rudy Habibie termasuk di dalamnya. Tambahkan jawabannya, Habibie dengan cintanya, Habibie dengan filosofi mata airnya, Habibie dengan jiwa kepemimpinannya. Lewat film kedua ini, saya mendapatkan pelajaran akan tiga hal tersebut.
Untuk itu, film Habibie Ainun 3 layak menjadi salah satu film yang ditunggu tayangnya.

RATING.
8.7/10. Big appreciation for this inspiring movie one.



13 komentar:

  1. Saya blom nonton
    bang
    Gimana tuh bang?
    Saya juga menginspirasi juga loh bang

    BalasHapus
  2. Keren postingannya bang !bener banget, menginspirasi.

    Salam kenal πŸ™‡. Kalo sempat visit blog sy juga ya bang ditanotes.wordpress.com

    BalasHapus
  3. Sadiiiis. Ini reviewnya lengkap beserta pesan moral yang didapat dari filmnya. Aku belum nonton filmnya, trus diceritain sama Darma soal poin cinta-cintaannya itu. Dan aku baper, kisahnya Ilona-Habibie menyentuh sama rada tragis gitu sih menurutku. Huhuhuhu.

    Katanya ntar ada Habibie Ainun 3 ya? Rencananya mau dibikin apa sih namanya, Habibie Cinematic Universe gitu kalau nggak salah. Keren deh. Kisah Pak Habibie kayak nggak habis-habis gitu buat difilmkan :D

    BalasHapus
  4. Semoga link downloadn gratisnya cepat keluar amin

    BalasHapus
  5. Aku suka sama tulisan ini.. :D
    tapi kayaknya harus ada tulisan *SPOILER ALERT* deh diatas wkwk

    BalasHapus
  6. Saya belum nonton nih, jadi pengen nonton. Ah banyak banget film bagus dari bulan kemarin ...

    BalasHapus
  7. keren.
    filmnya keren.
    tulisannya juga deh.
    hahahah :D
    aku udah semprt nonton film ini. keren emang. cuma agak kurang greget aja gatau sebelah mananya, seperti ada yang kurang. tapi bagus sih nggak nyesel nonton film ini, karna banyak nilai-nilai yang bisa diambil, slaah tiganya seperti yang ditulis di postingan ini.

    BalasHapus
  8. Kata-kata kutipannya ngena banget bro, saya langsung kepikiran soal mata air itu dan benar adalah bahwa menjadi yang terbaik pastilah butuh proses dan ujian.
    soal filmini, jujur saya sendiri belum menontonnya tapi begitu membaca review sobat, saya jadi penasaran bagaimana jalan cerita film ini

    BalasHapus
  9. Yoi. Kayaknya film terbaik yang gue tonton di lebaran ini deh. Ngena banget. Meski sempet baca kontroversinya di Facebook (yang bilang kenapa harus ada kondom, adegan mandi, dan betahnya Habibie ke gereja), tetep gue anggap sebagai film yang sangat bagus. Demen juga ngeliat aktingnya Pandji. Jadi serius gitu.

    BalasHapus
  10. Paling favorit sih filosofi mata air. Ngena bangeeeet filmnya dah :'D

    BalasHapus