#ProsaSelasa: Melek Aksara

18.45 Awaldi Rahman 25 Comments

Durasi Baca: 5-5 Menit
“Melek Aksara”

Sepanjang malam aku terjaga.
Menyusun sebuah sajak kecil dan sederhana.
Namun hingga mentari terbit di timur cakrawala.
Kalimat pembuka pun tak mampu aku  selesaikan seluruhnya.

Hingga aku pergi meniti hari.
Namun sama; tidak aku temukan juga di luar sana.
Di mana kata-kata mengumpat sembunyi.
Bukankah seharusnya bersama penyair dan mahakaryanya.

Ada apa kini, kebiasaan baca mulai berjarak.
Cerita dongeng mulai jauh dari anak-anak.
Kitab suci banyak jadi pajangan di rak rumah.
Kutipan di dalamnya sekarang hanya sebatas cinderamata mewah.

Adakah kita tahu perihal tingkat literasi bangsa ini mengkhawatirkan?
Dibilangnya pada angka enam puluh dari enam satu dalam rentetan.
Belum lagi, soal minimnya produksi buku yang tak kalah memiriskan.
Tengok saja bangsa sebelah, jangan tercengang jika bedanya dibandingkan.

Kenapa seakan dibiarkan saja? Tanya mereka selalu begitu.
Sedangkan perkara literasi sudah dicerdaskan pemerintah bahkan semenjak sebelum subuh.
Sayangnya belum usai kebijakan satu, datang lagi penguasa yang baru.
Akankah kita terus mengeluh dan saling menuduh?

Aku khawatir, banyak lembar telah kubaca, namun sedikit hikmah dan nilai di dalamnya.
Apa ini salahku? Yang dengan bacaan bermutu tak terbiasa.
Atau memang telah habis masa? Negeri ini telah kehabisan ide tema untuk karya-karya terbaiknya.
Oh sungguh, betapa nelangsanya.

Berapa jumlah kebijakan pemerintah yang belum selesai dijalani sudah kita kritisi.
Bukan agar lebih baik, melainkan protes hendak segera diganti.
Ayolah, sampai kapan ikhtiar kita akan tidak sejalan?
Pemerintah berusaha menyediakan yang terbaik, sedang dari warganya sendiri tak kunjung ada perubahan.

Mulailah membaca, agar kelak hadir dan lahir para cendekia.
Mulailah menulis, agar sejarah abadikan selamanya.
Mulailah bersyair, agar semakin kuat senandung semangat dalam jiwa.
Mulailah, karena sekarang inilah waktunya.

HIA, MAR.
Sudan, Jakarta.
16 Juli 2018.

-0-0-0-

Baca #ProsaSelasa sebelumnya: 5 #ProsaSelasa Paling Banyak Dibaca
Filosofi #ProsaSelasa: Melek Aksara.
AH! Sudah lama tidak. Akhirnya setelah sekian banyak purnama terlewati, dengan senang hati saya mengumumkan, #ProsaSelasa kembali rilis lagi. Semoga tidak kaku dalam penulisan dan bisa kembali istiqomah di pekan-pekan selanjutnya. Aamiin.
Selasa kali ini, kami mengangkat suatu hal –entah ini fenomena atau bukan– yang berkaitan dengan literasi. Jika teman-teman mencari di mesin penulusuran apa itu literasi, maka akan didapati bahwa literasi adalah kualitas atau kemampuan melek huruf/aksara yang di dalamnya meliputi kemampuan membaca dan menulis.
Benarkah, dewasa ini kebiasaan membaca mulai luntur?
Menurut hasil penelitian The World’s Most Literate Nation yang dilakukan oleh Central Connecticut State University (2016), menempatkan Indonesia di urutan ke-60 dari 61 negara sebagai negara dengan tingkat literasi atau minat baca rendah. Indonesia persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61). Ditambah data dari International Standard Book Number (ISBN) pada tahun yang sama, Indonesia tercatat minim soal produksi buku dengan hanya memproduksi 64 ribu buku per tahun. Berbanding jauh dengan Tiongkok yang memproduksi 440 ribu buku per tahun.
Kemudian, kita dengan entengnya bertanya, “Kenapa seakan dibiarkan saja?” alias parafrase lain dari pertanyaan, “Pemerintah kemana aja selama ini? Kemdikbud ngapain sih kerjanya?”. Padahal jika kita mau aktif mencari informasi, hal itu mudah saja karena akses yang sudah terbilang mudah. Soal gerakan mengirim buku gratis, pengembangan perpustakaan sekolah maupun daerah, hingga pengembangan kualitas sumber daya manusianya. Sudah coba tengok?
Belum ingin selesai di situ, kita menambahkan bumbu lagi, “Lagian sih, ganti menteri ganti kebijakan lagi”. Tidak ingin berpanjang lebar dalam perkara ini, baris terakhir pada bait tersebut menutupnya dengan, “Akankah kita terus mengeluh dan saling menuduh?”.
Lantas, benarkah dewasa ini kebiasaan membaca mulai luntur? Jawaban menurut kami, tidak sepenuhnya iya, namun tidak sepenuhnya tidak juga. Pemerintah tidak sepenuhnya salah, kita sebagai masyarakat pun tidak sepenuhnya benar menyoal ini.
Hal penting yang bisa menjadi solusi untuk permasalahan ini adalah mawas diri. Ya, mawas diri ini menjadi penting karena asasnya yang bukan saling tuduh, saling menyalahkan, dan saling merasa segala. Tetapi orientasinya ke evaluasi dan muhasabah, apakah sudah optimal dalam menjalankan program, apakah sudah optimal dalam mendukung kesuksesan program? Ayolah, sampai kapan ikhtiar kita akan tidak sejalan? Kecuali, kalau memang jalan di tempat adalah hal yang paling kita inginkan.
Terakhir, seperti biasa kami ingin mengajak teman-teman semua untuk ambil bagian dalam mendukung dan memajukan literasi bangsa Indonesia. Mulailah membaca, setidaknya dimulai dari hal yang kita sukai untuk kemudian beranjak membaca hal yang tidak hanya disukai lagi. Mulailah menulis, berkarya dan menjadi bagian penting dari abadinya sejarah. Mulailah bersyair dan mulailah hal itu semua dari sekarang. Kalau tidak dari sekarang, kapan lagi?

Nah, sekian filosofi #ProsaSelasa kali ini. Kalau dari teman-teman apakah ada tambahan atau bahkan sudut pandang berbeda? Boleh banget tulis komentarnya di bawah ya!


nb: Bagi yang tertarik ingin berkolaborasi juga di #ProsaSelasa ini, boleh banget email ke prosaselasa(at)gmail(dot)com dengan subject Nama – Mau Kolaborasi. Yuk berkolaborasi! 

25 komentar:

  1. Di Zaman sekarang ini,minat membaca sudah mulai luntur apalagi dikalangan remaja.Padahal dengan membaca kita dapat menambah wawasan dan dapat mengenal dunia luar ....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga masing-masing pribadi bangsa ini saling mawas diri ya, Mbak :)

      Hapus
    2. Iya mas,semoga tiap orang dapat menyadari pentingnya membaca ....

      Hapus
  2. selamat udah bisa rilis lagi

    BalasHapus
  3. Untungnya kita masuk grup yang mewajibkan kita untuk membaca terlebih dahulu ya gan wkwk, btw frasa-demi-frasanya keren kak, ajarin dong, atau bikin postingan tips menggali kata wkwk. Dan, salam kenal juga, ^^ follback juga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nahiya, so lucky sekali yaaa!

      Mari sama-sama belajar aja gan, ku juga masih belajar kok hehehe :)

      Hapus
  4. Keren nih, Mas. Baca ini sebelum istirahat.
    Dan sepertinya kok aku baru kesini ya, meskipun sama-sama di BE, atau waktu saling promo jarang sama :D

    Salam kenal ya, Mas.
    Semoga para pembaca, penulis di blog dan semuanya makin rajin makin giat untuk membaca, apapun itu.

    Sehat selalu, Mas. Semoga terus bisa berbagi tulisa di blog ini :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya nih, ini kali pertama aku muncul lagi setelah sekian lama hiatus dari dunia blogger hehehe. Semoga kali ini semangat lagi menulisnya ya. Aamiin.

      Aamiin. Terima kasih dan salam kenal juga ya, Mas!

      Hapus
  5. Miris memang dengan minat baca anak sekarang, kayaknya sudah nggak mau baca buku, sibuknya malah maen gadget, anak kecil yang baca buku jadi sesuatu yang langka, kereen mas tulisannya, nanti coba deh aku ikutan kolaborasi hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaa lebih asyik main gawai ya anak zaman now, saya juga termasuk mungkin.
      Makanya tulisan ini sengaja dibuat supaya bisa jadi bahan refleksi diri sendiri terutama.

      Terima kasih banyak ya! Ditunggu sekali kalau mau kolaborasi :)

      Hapus
  6. Beberapa orang memilih untuk selalu mengkritisi tanpa memberi solusi. Padahal kalau ingin yang lebih baik bagi negeri, bagiku tidak perlu banyak basa basi. Aksi. Itu yang harus dilakukan kini :)

    BalasHapus
  7. Wah keren! Dan sepertinyaa ini kunjungan perdanakukah?? Memang harusnya mulai dari sekarang Indonesia, khususnya generasi muda bisa meleh membaca dan menulis. Jdikan literasi sebagai kebutuhan begitu. Padahal kalau berkunjung ke Perpustakaan Nasional Indonesia di jakarta, waduh itu perpusnas udah canggih bingit macam perpus di luar negeri. Udah gitu dia juga perpustakaan tertinggi lho. Tinggal netijen aja ini jangan kebnayakan komen di sosial media, tapi membacalah!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepertinya tidak perdana, Mbak. Pernah mampir kok kalau ndak salah hehehe.

      Setuju sekali, menjadikan literasi khususnya menulis dan membaca itu sebagai suatu kebutuhan.

      Waduh, orang Jakarta tapi belum pernah ke perpusnas nih. Jadi malu. Sepertinya liburan kali ini harus diagendakan. Okesip terima kasih mbak telah mereminder saya kalau ingin ke perpusnas! Hahaha.

      Hapus
    2. wah harus banget itu ke perpusnas. dan jangan lupa juga daftar jadi membernya buat dapetin kartu anggota yang berguna bangettt

      Hapus
    3. Siap mbak! Diagendakan dan insyaaAllah sekalian buat kartunya hihiw.

      Hapus
  8. Pernah dengan tanggap tentang minat baca dari Pandji, katanya minat baca di Indonesia kurang karena tidak adanya minat baca sedari kecil.

    Dan, anak2 yang senang robot selalu disodorin buku otomotif, ilustrasinya kayak gitu..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yap! Saya juga kurang lebih dengar statement dia kalau perlu banget buat kita menanamkan nilai curiousity. Semua yang berawal dari penasaran akan menjawabnya dengan cari tau. Action.

      Mantap!

      Hapus
  9. Semakin kesini minat baca emang makin berkurang, apalagi ditengah dunia yang serba visual ini. Makin kurang tertarik orang2 untuk membaca.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tanpa disadari, dalam keseharian pun pasti kita melakukan kegiatan membaca ya padahal mas. Misal, kalau mau balas pesan atau chat? Pasti baca. Mau belajar buat ujian? Pasti baca. Terlepas konteksnya fisik ataupun ebooks. Hm menarique.

      Hapus
  10. Kayaknya ini pertama kalinya aku ke sini.
    dan langsung suka sama penusanya, menarik, sangat menampar wkwk.

    Aku pun dulu rajin membaca, lambat laun jadi jarang membuka buku lagi karna waktuku terkuras habis untuk membaca caption instagram atau thread para selebtweet.

    Ada keinginan untuk memulai kembali kebiasaan membaca buku beberapa jam sehari, Sayangnya hanya sebatas ingin saja. Istiqomah itu sulit :(.

    #ProsaSelasa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepertinya ini pun bukan kali pertama kamu deh wkwkwk. Sudah pernah mampir kok, tapi terima kasih ya banyak ya!

      Waini anak sosial media banget nih masnya haha. Gapapa sih daripada memilih untuk tidak baca sama sekali, tapi dewasa ini sepertinya apa sih yang gak kita baca dulu. Lain hal soal audio visual.

      Ayo dicoba mas! Semangat dan semoga istiqomah ya.

      Hapus
  11. Segera bergabung di HASHTAG OPTION, Platform Trading FOREX berbasis di Indonesia.
    PILIHAN TRADER #1
    - Tanpa Komisi dan Bebas Biaya Admin.
    - Sistem Edukasi Professional
    - Trading di peralatan apa pun
    - Ada banyak alat analisis
    - Sistem penarikan yang mudah dan dipercaya
    - Transaksi Deposit dan Withdrawal TERCEPAT


    Jika anda bingung mencari broker yang aman dan tercepat, anda bisa bergabung bersama kami.
    Yukk!!! Segera bergabung di Hashtag Option trading lebih mudah dan rasakan pengalaman trading yang light.
    Nikmati payout hingga 80% dan Bonus Depo pertama 10%** T&C Applied dengan minimal depo 50.000,- bebas biaya admin
    Proses deposit via transfer bank lokal yang cepat dan withdrawal dengan metode yang sama
    Anda juga dapat bonus Referral 1% dari profit investasi tanpa turnover......

    Kunjungi website kami di www.hashtagoption.com Rasakan pengalaman trading yang luar biasa!!!

    BalasHapus